Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 158 ~ S2


__ADS_3

Pria tampan yang itu menyenderkan punggungnya di kursi, sembari menatap ke luar jendela dengan tatapan lurus ke depan. Karena pekerjaan yang cukup berbahaya, El terpaksa tidak menggunakan ponsel. Dia sangat merindukan keluarganya terutama Anna, selalu memikirkan jawaban apa yang akan di berikan Anna kepadanya.


El menghela nafas dengan kasar, sembari menyeruput minuman dinginnya.


"Kapan pekerjaanku selesai? bagaimana keadaan Ibu dan semua anggota keluarga? aku sangat pusing untuk memikirkannya. Dan bagaimana kabar Anna? apa pria gemulai itu masih berdekatan dengan tambatan hatiku?" monolog El sembari menyeruput minumannya.


Suara ketukan pintu membuat El mengalihkan perhatiannya, "masuk, " ucap El dengan dingin.


Seseorang berbadan kekar itu masuk dengan beberapa berkas di tangannya.


"King, ini perincian dari senjata yang telah di terima oleh kolektor Jerman," ucap pria itu yang memberikan berkas kepada El.


El mulai mengecek satu persatu berkas itu, dia tersenyum puas dengan hasil yang dia dapatkan sangatlah fantastik. "Kerja bagus! sekarang pergilah," usir El.


"Baik King," sahut pria kekar itu yang pergi dari ruangan atasannya.


El tersenyum bahagia karena salah satu perkerjaannya telah selesai, tapi masih ada beberapa senjata unggulan yang dia rakit sendiri untuk melelangnya di pasar gelap Swiss.


"Baiklah El, waktunya untuk pekerjaan dan melupakan urusan pribadimu," gumam El yang menyemangatkan dirinya sendiri.


El menyimpan beberapa belati dan juga senjata api yang berukuran sangat kecil, semacam alat pelindung diri. Karena tidak menutup kemungkinan jika ada yang menyerangnya saat perjalanan menuju pelelangan.


Tak lupa untuknya memasang baju anti peluru, dan pengaman lainnya.


El mengendarai mobil dengan beberapa anggota Black Wolf untuk menemaninya hingga ke pasar gelap. Jalanan yang begitu sepi memperkuat instingnya. Dan benar saja, feeling El sangat tepat saat melihat beberapa mobil yang mengikutinya.


"Sial, siapa lagi yang ingin bermain-main dengan ku. Roger, tambah kecepatan laju mobil dan kalian berdua keluarkan senjata. Kita harus memusnahkan para kecoak itu," perintah El yang sedang mengintai dari atap mobil yang terbuka. Ada sekitar 4 mobil yang mengikuti mereka dari belakang, Musuh melakukan serangan pertama yang menembak kaca mobil bagian belakang hingga pecah.


Roger mengendarai mobil dengan sangat ahli, menghindari tembakan agar tidak mengenai bagian mobil yang dapat memicu kecelakaan. El dan dua orang lainnya menembak musuh, terjadi serang menyerang. Mereka kalah jumlah, "kita sudah terkepung King," ucap Audrey yang terlihat panik.

__ADS_1


"Cepat berikan kepada ku senapan Sniper," desak El yang mengganti pistolnya. Dia mengintai dan mengunci sasaran, suara yang memekakkan telinga berhasil mengenai salah satu mobil hingga meledak dan terbakar. Dia tersenyum tipis karena berhasil melumpuhkan musuh, kembali mengintai sasaran dan menguncinya hingga ke empat mobil yang mengikuti mereka habis terbakar.


El bersorak gembira saat bidikannya pas mengenai sasaran, "yeah, hanya kecoak saja bagiku," ujar El yang tertawa mengejek.


"King sangat hebat dalam menembak jarak jauh," puji Roger yang tersenyum saat melihat pemimpin nya beraksi."


"Tentu saja, putar arah dan kembali ke pasar gelap," titah El.


"Baik King," sahut Roger dengan patuh dan memutar arah menuju pelelangan.


Tak butuh waktu yang lama mereka sampai di pelelangan, begitu banyak kolektor yang menginginkan barang yang sesuai dengan keinginan mereka. El sangat terkenal di pasar gelap dunia bawah, banyak kolektor yang sangat berminat dengan senjata buatan dari twins L. Apalagi program yang di buat Al sangatlah berguna bagi perusahaan yang ingin mendapatkan kesuksesan.


Pelelangan itu di menangkan oleh anggota bangsawan dari Inggris, karena kualitas baik senjata yang di buat El menjadi daya tariknya tersendiri dan beberapa kelebihan yang tidak di miliki oleh senjata api lainnya. El sangat senang karena lebih banyak menghasilkan uang di bandingkan bekerja di perusahaan milik keluarganya.


Acara pelelangan telah usai, El berjabat tangan dengan bangsawan itu sebagai tanda deal. Dia pergi dari pasar gelap menuju penginapannya yang baru agar lokasinya tidak mudah di lacak oleh musuh.


****


Al masuk ke dalam kamar dan berjalan mendekati istrinya yang sedang merajuk, dia bisa melihat banyaknya tisu yang berserakan di lantai. "Shena, maafkan aku! aku mengakui jika aku salah, itu hanya refleks dan spontan saja. Entah mengapa aku tidak menyukaimu dengan pria itu," jelas Al yang berjongkok menatap wajah imut Shena saat menangis.


"Tapi dia pria yang sangat baik, jika tidak ada dia mungkin aku tidak ada di hadapanmu," sanggah Shena.


"Baiklah, aku minta maaf mengenai itu. Dan masalah keuangan, ini peganglah beberapa kartu tanpa limit." Al memberikan 3 buah gold card dan black card kepada istrinya.


Awalnya Shena sangat senang dengan ketiga kartu yang tidak pernah dia dapatkan dari kedua orang tuanya, seketika raut wajahnya berubah dan kembali menangis lebih kencang.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Al yang kelimpungan sambil menggaruk kepalanya dengan kasar.


"Apa kamu hanya memintaku untuk memegang kartu itu?"

__ADS_1


"Eh, sepertinya aku salah bicara. Ambil saja kartu itu dan habiskan semaumu dan jika kurang katakan kepadaku," tutur Al dengan bangga menyerahkan ketiga kartu kepada istrinya.


"Dasar sombong," ucap Shena yang melirik Al dengan jengah seraya mengambil ketiga kartu tanpa limit dan tersenyum saat memegangnya.


"Wah, dengan begini aku bisa cepat kaya dan menginvestasikan uangnya. Ini persiapan sebelum aku menjadi janda," batin Shena yang tersenyum smirk.


"Apa itu artinya kamu memaafkan ku?"


"Baiklah aku akan memaafkanmu," ucap Shena yang berbinar menatap ke tiga kartu yang berada di tangannya. Al menghela nafas dengan pelan karena telah berhasil membujuk Shena dengan sangat mudah, sebelas duabelas dari Daniel yang juga mata duitan.


"Hah, tidak begitu sulit untuk membujuk nya. Apa hebatnya ketiga kartu itu? tapi itu bagus, setidaknya uangku berkurang, bahkan aku sangat pusing menghabiskannya," batin Al dengan santai.


"Boleh aku masuk," ucap Lea di depan pintu.


"Boleh, masuk saja."


"Sebaiknya aku pergi, kalian lanjutkan untuk mengobrol," celetul Al yang pergi menuju ruang kerjanya. Kedua wanita itu menatap kepergian Al yang menghilang di balik pintu, Lea mengalihkan pandangan nya menatap sang kakak ipar yang memegang 3 kartu tanpa limit.


"Maaf, karena kesalahanku membuatmu hampir celaka," ucap Lea yang menundukkan kepalanya dengan wajah yang sedikit pucat.


"Hei, kenapa kepalamu di tekuk begitu? kamu tidak salah, bukan salah siapapun. Lagi pula kamu sedang tidak sehat," jawab Shena yang mengangkat dagu Lea.


"Aku pikir kamu marah kepada ku," ujar Lea yang tersenyum.


"Aku tidak marah kepadamu, berbaringlah! kamu sedang tidak sehat," ucap Shena.


"Hem, aku akan kembali ke kamarku."


"Apa kamu butuh bantuan?"

__ADS_1


"Tidak, terima kasih!" sahut Lea yang tersenyum.


"Baiklah."


__ADS_2