
Rayyan mengetahui rencana Abian yang sebentar lagi akan menikah dengan Lea, hatinya terasa terluka bagai di tusuk pisau yang tajam. Dia sangat rapuh, tetapi tetap menutupinya di hadapan semua orang. Senyum paksa yang dia lontarkan menjadi saksi rasa sakit di hatinya.
"Kapan mereka akan menikah?" tanya Rayyan yang menatap ayahnya.
"Setelah Lea lulus sekolah."
"Itu berarti tinggal menghitung hari lagi," lirih Rayyan dengan pelan.
"Hem," sahut Zean dengan deheman.
"Aku sudah tidak sabar untuk melihat pernikahan Abian," celetuk Caroline yang hanya di balas senyuman oleh Zean, karena dia sangat tau bagaimana hati Rayyan yang sangat terluka. Dia juga memahami bagaimana rasanya ketika seseorang wanita yang di cintai menikah dengan orang lain dan sekarang tengah di alami oleh anaknya sendiri.
"Sebaiknya aku mengirim Rayyan ke London untuk melanjutkan pendidikan nya di sana," batin Zean.
Rayyan berdiri dan berlalu pergi meninggalkan kedua orang tuanya, "kamu mau kemana?" tanya Zean yang meninggikan suaranya.
"Aku hanya ingin ke Danau saja," sahut Rayyan dengan cepat tanpa menoleh membuat Zean menghela nafas dengan kasar.
"Biarkan saja dia pergi," ujar Caroline yang menatap suaminya dan memperlihatkan senyum indah miliknya.
"Kamu benar," jawab Zean yang mengangguk.
Rayyan mengemudikan motor sport berwarna hijau dengan kecepatan sedang sembari menikmati angin yang menerpa kulitnya, tiupan angin membuatnya sedikit rileks. Tak butuh waktu lama untuknya sampai ke Danau, menuruni motor dan berjalan mendekati tepi Danau.
Dia sengaja menceburkan kakinya mengenai air Danau, terasa sejuk di kakinya sambil melamun menatap pemandangan di sekeliling Danau yang memanjakan mata. Perasaannya di ungkap lewat lemparan Batu ke dalam air Danau, melemparnya dengan sangat kuat, berharap dia bisa menerima kenyataan.
"Kenapa nasib ku selalu buruk, pertama Mommy pergi meninggalkan ku dan sekarang Lea juga pergi," monolog Rayyan yang mengusap wajahnya dengan kasar.
"Dasar bodoh, apa wanita di dunia ini hanya kak Lea saja. Hingga kamu tenggelam dengan perasaan itu, lebih baik kamu fokus dengan masa depan," tutur seseorang yang suaranya sangat di kenal oleh Rayyan.
Rayyan menoleh dan benar saja, di belakangnya telah berdiri Vivian dengan penampilan yang tomboy, mengunyah permen karet dan berjalan ke arahnya. Tanpa sungkan, Vivian duduk di sebelah Rayyan dan mengusap punggungnya dengan perlahan.
"Kenapa kamu selalu ada di sini?" ucap Rayyan yang menghempaskan tangan Vivian.
"Memangnya kenapa? ini tempat umum dan aku menyukainya," jawab Vivian dengan enteng.
__ADS_1
"Setidaknya menjauhlah dariku, aku hanya ingin sendiri saja," usir Rayyan dengan halus.
"Bagaimana jika kita menaiki perahu saja, itu akan mengurangi kesedihanmu," ajak Vivian yang juga sangat bosan dengan suasana itu.
"Apa itu berhasil?" tanya Rayyan yang menatap Vivian.
"Percayakan semua kepadaku," sahut Vivian dengan bangga.
Perasaan sedih yang di ada di benak Rayyan seakan luntur saat dia mendayung perahu, menyusuri Danau yang sangat indah menyejukkan mata. "Bagaimana? apa sedihmu sudah berkurang?"
Rayyan mengangguk dengan cepat dan mendayung perahu, "terima kasih sudah membantuku," ucapnya yang mengulas senyum.
"Tidak masalah, apa tujuanmu setelah lulus nanti?" ujar Vivian yang menatap Rayyan.
"Entahlah, tapi aku masih ingin melanjutkan pendidikan ku dan mengurus perusahaan Daddy."
"Itu bagus."
****
"Apa rencanamu selanjutnya?" ucap Kenzi yang menatap Rayyan.
"Entahlah, aku tidak ingin memikirkannya. Dan bagaimana dengan mu?"
"Aku akan melanjutkan pendidikan ku di kota ini saja, aku tidak ingin jauh dari keluargaku," jawab Kenzi.
Tidak ada obrolan dari keduanya yang hanya terdiam saat guru membacakan nama siswa berprestasi. "Untuk juara tiga di raih oleh Arabella, untuk namanya yang terpanggil silahkan untuk maju ke depan," ucap sang guru yang celingukan mencari Ara, begitupun dengan para siswa dan siswi yang celingukan mencari keberadaan Ara.
"Di mana sang primadona itu? terakhir aku melihatnya saat ujian akhir sekolah telah selesai, di mana dia?" bisik siswi 1 yang ada di hadapan Kenzi.
"Aku juga tidak melihatnya akhir-akhir ini, apa dia sakit?" balas siswi 2.
Sedangkan Kenzi tersenyum samar saat mendengarkan bisikan itu, "tentu saja dia menerima kelulusannya di alam baka," batinnya.
"Baiklah, kita lewati dulu. Juara kedua jatuh kepada Kenzi Wijaya," ujar sang guru yang memanggil Kenzi dengan menggunakan mikrofon. Semua orang bertepuk tangan dengan sangat meriah, saat Kenzi berjalan menuju ke depan.
__ADS_1
"Dan juara pertama jatuh kepadaaa....Lea W." Sambung sang guru yang memanggil Lea dengan mikrofon, sementara semua murid menganga tak percaya saat Lea maju ke depan.
"Bukan kah Lea itu Iq nya hanya berada di rata-rata, aku tidak menyangka jika dia mendapatkan nilai tertinggi dan mengalahkan Ara dan juga Kenzi," ucap salah satu siswa.
"Kamu benar, mungkin hanya keberuntungan yang berpihak kepadanya," sahut siswa lainnya.
Sementara Lea sangat tidak bersemangat dengan hasil kelulusannya, itu artinya sebentar lagi dia akan menjadi istri sah dari Abian.
Setelah acara selesai, Lea berjalan gontai untuk menunggu sang supir menjemput. Dia menaiki mobil dengan wajah yang lesu, "jalankan mobilnya Paman," perintah Lea.
"Baik Nona," sahut sang supir yang suaranya sangat di kenali oleh Lea. Dia mendongakkan kepala dan terlihat wajah tampan yang tengah tersenyum seraya mengedipkan mata, "Kamu lagi kamu lagi huff.." ujar Lea yang mendengus kesal.
"Tidak boleh begitu dengan calon suami, apa perlu aku mengatakan kepada semua orang jika kamu telah mengambil keperjakaan ku," kata Abian yang menatap Lea dengan tegas.
"Huss....jangan mengatakan hal yang memalukan itu lagi," cetus Lea.
"Baiklah, duduk di sampingku." Lea mengikuti ucapan Abian yang memintanya untuk duduk di kursi depan.
"Cepat antarkan aku ke mansion."
"Kita bukan ke mansion," sahut Abian yang fokus menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Apa maksudmu?" tanya Lea yang mengerutkan kedua alisnya.
"Pernikahan kita akan di adakan besok siang, dan aku akan membawamu membeli cincin pernikahan."
"Hei, kenapa ini sangat mendadak sekali," protesnya.
"Kenapa? apa kamu ingin hamil seorang diri?"
"Itu tidak akan terjadi."
"Besar kemungkinan itu akan terjadi," sahut Abian dengan santai.
"Oh ya ampun....kenapa aku tidak memikirkan kesana, jika aku hamil bagaimana dengan nasibku nanti?" batin Lea yang memikirkan hal itu, sedangkan Abian tersenyum samar.
__ADS_1
"Ternyata dia tidak tau apapun dengan itu, sangat polos. Aku sudah tidak sabar untuk memilikinya, cinta ini membuatku seperti orang gila saja. Tapi aku bersyukur, jangan sampai dia mengetahui kebohongan ku atau aku dalam masalah besar," batin Abian yang tersenyum bahagia.