Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 191 ~ S2


__ADS_3

Abian terus menghajar Haidar hingga babak belur, karena tak terima dengan perlakuan dari Abian membuat Haidar bangkit dan mengusap salah satu bibir yang berdarah. Abian yang ingin memukulnya dengan cepat di tendang tepat mengenai dada Abian dan memuntahkan seteguk darah, "kamu salah memilih lawan," kata Haidar yang tersenyum meremehkan.


"Kamu tidak mengenalku dengan sangat baik, aku akan memperlihatkan sisi ku yang lain," sahut Abian yang berdiri dengan melompatkan badannya yang bertumpu pada kakinya, kembali menyerang pria yang telah membuat Lea di pengaruhi obat. Haidar terkapar tak berdaya di salah satu sudut ruangan dengan wajah yang lebam.


"Seseorang tolong aku," ujar Lea yang sudah tidak tahan itu, Abian berlari dan menghampiri Lea, Dia melepaskan jaketnya dan menutup tubuh Lea yang terekspos itu. Abian membawa Lea menuju tempat yang aman, berusaha untuk menghilangkan efek dari obat dengan dosis yang tinggi.


Al, El, dan Kenzi masuk ke dalam ruangan itu, Al menatap Lea yang di gendong oleh Abian. "Ada apa dengan adikku?" tanyanya.


"Efek dari meminum obat perangsang dengan dosis yang tinggi," jawab Abian.


"Aku percayakan adikku kepadamu," ujar Al yang menepuk punggung Abian dengan pelan. Abian dengan cepat membawa Lea menuju mobil dan berusaha untuk menghilangkan pengaruh obat perangsang.


Sementara di ruangan tempat Lea di sekap, ketiga pria tampan menatap Haidar dengan penuh kemarahan, tatapan yang sama dengan tatapan elang milik Nathan.


"Twins L pemilik dari Mafia Black Wolf dan juga Kenzi, apa yang kalian lakukan di sini?" kata Haidar yang sedikit bingung dengan situasi saat ini, berusaha untuk memahaminya.


"Berani sekali kamu melakukan ini kepada adikku," ucap El yang menampar wajah Haidar.


"Adik?" sahut Haidar dengan kebingungan.


"Iya, Lea Wijaya. Putri dari Nathan Wijaya, berani mengusik keluarga ku sama saja mengantarkan nyawanya," ucap El dengan tatapan tajamnya.


"A-apa?" sahut Haidar yang sangat terkejut.


"Ck, apa kamu ini tuli hah? berani mengusik keluarga ku sama saja mencari mati," tutur Al yang mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Aku melakukannya karena ada sebab," ucap Haidar yang membela dirinya.


"Katakan alasanmu?" sahut El.


"Karena dia." Haidar menunjuk Kenzi yang mendapatkan tatapan dari kedua kakak kembarnya.


"Aku? bahkan aku tidak mengenalmu sama sekali, apa kesalahan ku padamu?" jawab Kenzi yang berusaha tenang.


"Karena kamu mendekati gadis tadi, hingga membuat adikku Arabella menjadi sedih. Aku tidak ingin jika adikku menderita," jujur Haidar yang terpojokkan oleh ketiga keluarga Wijaya.


"Heh, aku tidak menyangka jika pemimpin Black Diamond itu sangatlah bodoh. Setidaknya cari kebenaran terlebih dahulu, namun sayangnya kamu tidak akan melihat matahari terbit di mulai esok hari," ucap Al mengeluarkan ancamannya.


"Karena kebodohanmu hampir saja adikku menderita seumur hidupnya, nyawamu ada di tanganku!" sambung El yang menggenggam tangannya.


"Walaupun kalian bertiga tidak akan membuat aku tahut."


"Perjuanganmu akan sia-sia di kala melihat adik kesayangan mu itu mengalami nasib seperti adikku," ungkap Al yang membuat Haidar terkejut.


"Apa maksud mu?" ucap Haidar yang meninggikan suara sambil mengerutkan keningnya menatap bingung. Al bertepuk tangan sebanyak 3 kali, datangkah Roger dan salah satu anggota Black Wolf yang menyeret tubuh Ara.


"Apa yang kamu lakukan kepada adikku?" tutur Abian dengan penuh kebenaran.


"Tentu saja melakukan hal yang sama, aku akan menunjukkan bagaimana rasanya saat adik kesayangan mu menderita," ucap Al.


"A-apa yang ingin kalian lakukan, lepaskan adikku!"

__ADS_1


"Kenzi, bantu Abian untuk menghilangkan pengaruh obat itu," perintah Al dengan cepat, lebih tepatnya Al tidak ingin jika Kenzi melihat hubungan suami istri secara live.


Ara terus menggoda seorang pria dengan tubuhnya yang tak berbentuk, pria itu melakukan permainan nya di bagian sensitif milik Ara di hadapan Haidar. Terdengar suara berak basah dari mulut Ara yang sangat menikmatinya. Haidar sangat hancur, marah, sedih, dan kesal menjadi 1 yang tidak berdaya. Tanggannya di kunci oleh Al, seketika air mata Haidar terjatuh saat melihat nasib sang adik kesayangan.


"Apa dia masih perawan?" tanya El.


"Tidak King," jawab pria itu yang terus memainkan tanpa berniat untuk menidurinya. Ara terus merengek dengan pria yang memainkan bagian sensitif nya untuk melakukan hal yang lebih dari itu.


"Lakukanlah, aku sudah tidak tahan lagi ahh..." ucap Ara yang terus menikmatinya dengan suara indah.


"Wah....wah, kamu lihat itu? adik yang kamu banggakan tubuhnya sudah di jamah orang lain," celetuk El yang membuat Haidar sangat syok dengan pernyataan itu, rasa sakit hatinya kian memburuk saat pria itu mengatakan jika Ara tidak suci lagi.


"Apa? ternyata aku tidak mengetahui apapun mengenai adikku," lirihnya pelan dengan wajah yang di tekuk.


"Itu akibatnya jika berani mengusik keluarga Wijaya, dan asal kamu tau, seluruh hartamu telah aku kuras."


"Aku tidak akan mengampuni kalian," pekik Haidar yang melawan dengan bergebu-gebu. Tapi sayang, Al lebih dulu menembak jantung Haidar yang tewas seketika. Begitupun denga Ara yang sangat tersiksa dengan obat perangsang itu. Mereka dengan cepat pergi meninggalkan gubuk dan melihat seperti apa kondisi Lea saat ini, tapi sebelum itu Al melemparkan shuriken mengenai kepala dan juga jantung Ara yang juga tewas.


Di sisi lain, Abian terus menggendong tubuh Lea ala bridal style. Namun tangan Lea selalu meraba-raba tubuhnya dengan sedikit bisikan menggoda iman dan juga hasrat lelakinya, "oh ya ampun, Lea selalu saja menggodanya ku," batin Abian yang membaringkan tubuh Lea di kursi belakang mobil. Dia yang ingin pergi itu tercekal oleh tangan Lea yang menarik kerah kemejanya dan mencium bibir Abian dengan penuh hasrat.


Dia ingin melepaskan diri dari Lea yang terus memaksanya melakukan hubungan itu, "ayo sentuh aku! aku tidak bisa menahan ini lebih lama lagi," rengek Lea dengan suara yang menggoda iman Abian yang hanya menelan saliva dengan susah payah.


"Tidak Abian, kamu tidak boleh memanfaatkan keadaannya," monolog Abian yang melepaskan dirinya dari cengkraman Lea Wijaya. Entah dari kekuatan mana Lea mampu memutar posisinya yang sekarang menindih tubuh Abian, tangan yang mulai menjalar membuat Abian kewalahan menghadapi Lea yang menurutnya sangatlah menggoda.


"Bagaimana ini? jika aku melewatkan nya maka aku di rugikan. Apa ini? bahkan dia seperti singa yang ingin melahap ku," batin Abian yang berusaha untuk bisa keluar dari kungkungan Lea.

__ADS_1


Abian pasrah dan ingin mencium bibir merah dari Lea. Tapi terhenti saat wajahnya di pukul dengan sendal oleh El, "jangan mencoba-coba untuk menodai adikku," ketusnya.


"Hehe....aku hanya terbawa suasana saja."


__ADS_2