
Bara membawa twins L ke wahana permainan pak pitak, setalah sekian lama mereka tidak berkunjung kesana.
Twins L sangat senang, tak lupa membawa plastik besar untuk memudahkan mereka nantinya.
Mereka turun dari mobil dan melangkah memasuki wahana permainan, Al dan El mengecek keberadaan pemilik wahana itu. Setelah cukup terasa aman, twins L meraup beberapa hadiah, sementara Bara lebih memilih duduk di kursi yang tersedia sambil menyeruput kopi yang baru saja dia beli.
"Kapan Abian akan menyusul kita?" tanya Al.
"Mungkin sebentar lagi, kita tunggu saja. Jangan membuang waktu," ucap El.
Di saat twins L memainkan mesin capit, sebuah tangan menghalangi niat mereka. "Jadi kalian yang membuat Ayah ku rugi?" cetus gadis kecil yang berpenampilan tomboy sembari mengunyah permen karet.
Twins L menoleh ke sumber suara, "kamu anaknya pak pitak itu?" jawab El di sela-sela tawanya.
"Berhenti tertawa," ketus gadis tomboy itu dengan geram.
"Itu kenyataannya, minggir! aku ingin mengosongkan mesin capit ini," cetus El.
"lawan aku dulu! jika aku kalah, kamu boleh memainkannya," tawar Gadis kecil itu sambil meniup permen karet yang berada di dalam mulutnya.
"Itu sangat mudah, aku terima tantanganmu," jawab El, sedangkan Al hanya diam karena tidak ingin terlibat.
Hingga gadis kecil itu menyerang dan memukul membuat semua orang menyorot mereka. El hanya menghindar tanpa berniat membalas pukulan dan serangan dari gadis kecil itu, "apa kamu takut melawanku? serang aku dan jangan menghindar," pekik gadis kecil itu dan dengan cepat El melumpuhkan gerakan gadis kecil itu seraya tersenyum.
Abian menghampiri Al dan melihat El sedang melawan seorang gadis kecil, "eh, apa yang terjadi dengan El?" celetuk Abian yang melirik Al.
"Entahlah, tapi ini sangat menyenangkan."
"Apalah daya ku, aku tidak bisa berbuat kasar dengan seorang gadis kecil sepertimu," ucap El yang meremehkan dan tak lupa mengedipkan sebelah matanya ke arah gadis kecil itu, ajaran yang sangat berguna dari Bara.
"Kalian lagi?" pekik seorang paruh baya yang menghampiri anaknya.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa Ayah, tenanglah."
"Apa yang di lakukan bocah sialan itu kepadamu, Anna?" ujar pak pitak yang menatap El dengan tajam.
"Hanya bermain-main saja," sahut Anna dengan santai.
"Kalian lagi, sudah aku bilang! jangan datang ke wahana permainanku," ketus pak pitak.
"Kami hanya mengecek saja, apa di wahana ini bermain curang atau tidak." El menatap pak pitak dengan jengah.
"Heh, pergilah dari sini. Aku tidak ingin rugi."
"Tidak, anak mu kalah bertaruh denganku. Jadi, aku boleh bermain di sini," ujar El dengan senang, sementara pak pitak melototi anaknya dan mengejar Anna yang telah memasang jurus seribu langkah.
"Anna....berhentilah berlari, kamu sudah membuat Ayah rugi," pekik pak pitak yang terus mengejar anaknya.
"Maafkan aku Ayah," jawab Anna yang terus lari, menghindari amukan sang Ayah.
"Bagaimana kita membawa semua hadiah ini?" tutur Abian yang kebingungan. Sedangkan Al dan El saling melirik dan tersenyum, "tentu saja dengan menggunakan plastik besar yang sudah kami persiapkan," sahut El.
"Sedia payung sebelum hujan," tambah Al.
Mereka kembali menghampiri Bara yang sedang memainkan ponselnya, dia tidak terkejut dengan barang bawaan twins L dan Abian. "Apa kalian sudah selesai membuat pemilik wahana nya rugi?"
"Sudah, ayo kita pulang," sahut Al yang di angguki kepala oleh Abian dan El.
"Ayo."
****
Nathan sangat senang dengan pekerjaan yang telah dia selesaikan, segera pulang untuk menghampiri istri dan juga putrinya. Mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, yang membuatnya sampai dengan cepat. Dia melangkahkan kaki nya masuk ke dalam mansion, seraya tersenyum. Seketika senyumnya luntur, saat melihat Naina yang tertidur di sofa membuatnya khawatir dengan keberadaan baby Lea.
__ADS_1
Di saat dia mengecek putrinya, betapa terkejutnya dia dengan perasaan senang melihat istrinya menimang baby Lea yang tertidur dengan nyenyak. Nathan menjatuhkan ponselnya, berlari dan memeluk sang istri yang sudah lama koma.
"Sayang, ka-kamu kembali?" tutur Nathan yang memeluk tubuh Dita yang sangat kurus sembari meneteskan air mata.
Dita meletakkan baby Lea ke di atas tempat tidur dan berbalik berhadapan dengan Nathan, "tentu saja aku kembali, anak-anaku membutuhkan aku."
"Bukan hanya anak-anak, tapi aku juga membutuhkan mu, Sayang!" Nathan sangat senang dengan Dita yang telah siuman dari komanya, selama ini dia menutupi kesepiannya dengan merawat baby Lea yang sangat mirip dengan Dita. Nathan tak bisa menahan rasa rindu dengan pelukan dari Dita, mendekatkan wajahnya dan mencium bibir yang sedikit pucat milik istrinya.
"Ceritakan kepada ku, kapan kamu telah siuman?" desak Nathan yang menatap Dita dengan dalam.
"Di saat Naina membawa putriku masuk ke sini, suara tangisan Lea membuat aku sadar. Naina menceritakan segalanya kepadaku, apa saja yang telah aku lewatkan selama 3 bulan ini."
"Ck, kenapa dia tidak mengabariku dengan hal yang sebesar ini," gumam Nathan yang masih terdengar oleh Dita.
"Jangan menyalahkannya, Dia sudah bekerja keras merawat bayi kita," sahut Dita yang memegang tangan Nathan.
"Hem kamu benar. Tapi, aku masih tidak percaya ini. Cubit aku, apa aku sedang bermimpi?" ucap Nathan. Dita terkekeh dan mencubit Nathan dengan sangat keras.
"Auu....ternyata aku tidak mimpi. Aku akan mengatakan ini dengan semua orang. Akhirnya aku tidak kesepian lagi, " tutur Nathan yang kembali memeluk Dita, tak lupa mencium wajah Dita secara bertubi-tubi.
Twins L, Abian, dan Bara yang baru saja pulang dari wahana permainan itu terkejut saat melihat Dita yang tersenyum kepada mereka. Mereka menjatuhkan semua hadiah dan berlari menuju Dita serta memeluknya dengan erat.
Twins L dan Abian menangis terharu dengan kembalinya sang Ibu, "kami sangat merindukanmu, Bu" celetuk Al.
"Ibu juga, bagaimana dengan keadaan kalian? apa kalian makan dengan teratur?" tanya Dita yang menatap ketiga anaknya.
"Kami makan dengan sangat teratur, apa Ibu sudah menemui baby Lea?" tanya Abian.
"Sudah, kalian pasti lapar. Ayo kita makan bersama," ajak Dita membawan anak-anaknya makan dan juga menyuapi mereka. Sedangkan Bara sangat terharu, perjuangan Dita tidaklah mudah. Bara yang sebenarnya ingin sekali memeluk Dita, langsung tercekat dengan tatapan Nathan yang tajam kepadanya. Alhasil, Bara hanya melihat dari kejauhan Dita yang menyuapi twins L dan Abian.
Nathan dan Bara duduk di sofa yang tak jauh dari mereka, Bara menatap Naina yang asik tidur dengan gaya tak ada kata indah. Bagaimana tidak? Naina tertidur seperti orang mati dengan suara nya yang mengorok.
__ADS_1