
Al dan El merangkul Aron/Abian, pertemuan yang sangat mereka nantikan. Al menatap tajam Abian, "kenapa kamu ingin mencelakai adikku?"
"Aku hanya melakukan misiku saja," sahut Abian dengan polos.
"Apa yang kamu maksud?" El menautkan kedua alisnya.
"Seseorang yang sangat membenci adik kecilmu karena menyebabkan wanita itu batal menikah," jawabnya dengan santai.
"Lea, apa yang kamu lakukan? selalu saja membuat kakak pusing," ujar El yang memijit pelipisnya.
"Apa? jangan melimpahkan semua kesalahan kepadaku. Aku hanya mengagumi wajah pria itu tanpa berniat untuk merebutnya," sahut Lea.
"Sekarang aku yakin, dia memanglah adik kalian. Kalian tau, gadis kecil itu bahkan meminta makan dengan porsi besar di saat ajalnya begitu dekat," celetuk Abian/Aron.
"Itu sudah biasa, ada dua hal yang membuat nya mood. Pertama makanan dan kedua wajah pria yang tampan," jawab El membua Lea mengerucutkan bibir dan menggembungkan pipinya, terlihat sangat menggemaskan.
"Pantas saja dia menggodaku tadi," keluh Abian membuat twins L tertawa. El menepuk pundak Abian seraya berkata, "itu hal biasa baginya, setelah bosan dia tidak akan menggoda mu lagi."
"Ada pertanyaan yang ada di Pikiranku, apa sekarang kamu menjadi seorang pembunuh?" sahut Al.
"Itu benar, dunia ini sangatlah kejam. Siapa yang kuat dan berkuasa dialah yang akan di hargai."
"Apa maksudmu? apa kamu tidak bahagia dengan keluargamu di Amerika?" tanya El yang sangat penasaran.
"Akan aku ceritakan, lebih baik kita duduk dulu," tutur Abian/Aron yang mengambilkan minuman dan cemilan.
Mata Lea berbinar saat melihat ada begitu banyak cemilan, tak perlu menunggu ijin. Lea memakan cemilan itu tanpa menghiraukan ketiga pria tampan yang sedang menatap nya.
"Ck, cepat katakan," desak El.
__ADS_1
"Daddy membawaku ke Amerika hanya untuk mendapatkan warisan dari Omah, setelah mendapatkan semua harta jatuh atas nama pria itu. Aku di hukum dan juga di siksa, lahir dan batin, hingga aku sering kelaparan. Bukan hanya Daddy, tapi wanita yang menjadi istrinya juga ikut menyiksaku." Abian menghela nafas dengan pelan dan melanjutkan kisahnya, "Saat aku mengendap-endap untuk keluar dari neraka itu, Angela menangis saat melihatku. Aku berusaha meloloskan diri, punggung dan pipiku terkena pisau. Beruntung, aku di selamatkan oleh wanita cantik yang sekarang menjadi Mommy angkatku," ucap Panjang lebar dari Abian. Dia tidak akan menceritakan mengenai Caroline yang selalu memanfaatkannya, karena dia tidak ingin jika keluarga Wijaya terkena masalah.
"Perjalananmu sangat pilu," sahut El yang prihatin mengenai kehidupan Abian yang jauh dari kata baik.
"Pintu mansion terbuka lebar untukmu, kembalilah! Ibu pasti senang dengan kehadiran mu," ucap Al.
"Aku tidak bisa tinggal dengan kalian, ada begitu banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," jawab Abian.
"Aku sangat ingin tinggal di sana, tapi aku tidak bisa. Karena Caroline tidak akan tinggal diam," batin Abian.
"Kak, ayo kita pulang! aku sangat mengantuk," rengek Lea dengan sangat manja.
"Ayo, Kakak akan menggendongmu, tidurlah di atas punggung kakak ya," jawab Al yang menggendong Lea pergi dari bangunan itu.
"Ayo ikutlah bersama kami," ajak El yang penuh harapan.
"Maaf, untuk sekarang aku tidak bisa. Aku akan mencari waktu yang pas untuk berkunjung di sana, titip salamku untuk Ibu," sahut Abian, dia menatap kepergian El yang menghilang dari balik pintu.
****
Sesampai di mansion, twins L mendapat tatapan tajam dari Nathan dan juga Bara. Mereka seakan ingin mencabik-cabik Al dan juga El, "kenapa kalian bisa seceroboh ini? katakan!" ucap Nathan dengan tegas.
Sementara Dita memeluk putrinya dengan erat, "apa kamu tidak apa-apa? apa penjahat itu melukaimu?" tanya Dita yang membolak-balikan badan putrinya.
"Ya ampun, Ibu sangat berlebihan. Aku tidak apa-apa," seloroh Lea.
"Seorang ibu sangat mengkhawatirkan setiap anak-anaknya, katakan apa ada yang terluka?" ucap Dita yang memeriksa luka ataupun memar di tubuh Lea yang tidak dia temukan, barulah Dita bisa bernafas dengan lega.
"Maaf Ayah! kami sangat ceroboh, Ini tidak akan terulang lagi," jawab Al dengan menundukkan kepala, tanpa berani menatap mata elang milik sang Ayah.
__ADS_1
"Ayah akan menghukum kalian."
"Tapi, ada hikmah di balik kejadian ini, kami bertemu dengan Abian." Dita yang mendengar penuturan dari El, sontak membuatnya menghampiri El.
"Dimana dia? kenapa kalian tidak membawanya ikut bersama kalian?" tanya Dita dengan sangat antusias dan celingukan mencari anak yang sangat dia rindukan.
Twins L diam dan mereka saling melirik satu sama lain, "untuk saat ini Abian tidak bisa datang ke mansion Bu," lirih pelan dari Al. Dita menoleh dan menatap mata Al dengan sangat dalam, "kenapa bisa begitu? apa dia tidak merindukan Ibunya?" celetuk Dita yang kecewa dengan Abian.
"Bukan begitu Bu, untuk saat ini dia sangat sibuk dalam pekerjaan nya," ujar El yang menenangkan Dita.
"Apa pekerjaannya lebih penting di bandingkan Ibunya ini?" Dita menangis membuat seseorang yang sedari tadi melihat kejadian itu.
Lea dan Naina menghampiri Dita untuk menenangkan nya, "berhentilah menangis kak, cobalah untuk mengerti dengan keadaan ini. Cepat atau lambat, kakak akan bertemu dengannya," kata Naina yang membawa Dita ke kamarnya.
Bara dan Nathan meninggalkan tempat itu, sementara El dan Al menyentil kening Lea, "kalian selalu saja menyentilku, apa kesalahanku kali ini?" ketus Lea.
"Ubahlah sikapmu, jangan menjadi seperti ulat pisang," ucap Al dengan tegas.
"Jika kamu masih menggoda pria yang memiliki pasangan, maka aku akan membakar seluruh postermu," ancam El.
"Kamu selalu saja membuat aku khawatir, aku bahkan mencarimu kemana-mana," tambah Kenzi.
"Pergilah belajar sekarang, nilai mu selalu buruk. Tidak ada yang bisa di banggakan darimu," ujar Al yang menusuk.
"Aku tau, IQ ku sangat stadar. Tidak perlu mencemaskan aku, kalian selalu saja mengatur dan juga mengekangku. Lea tidak boleh ini, Lea tidak boleh itu! apa aku ini hanya boneka kalian?" jawab Lea yang meninggikan suaranya.
"Lea, jaga ucapanmu," ucap El.
Al menghela nafas dengan kasar, karena Lea sangat keras kepala. Butuh kesabaran eksta meladeninya, "aku melakukannya untuk masa depanmu juga, jangan sia-siakan hidupmu dengan kumpulan poster itu."
__ADS_1
"Hobby yang tidak bisa aku tinggalkan. Hah, berdebat dengan kalian membuat aku sangat lapar," ucap Lea yang berjalan menuju meja makan. Twins L dan Kenzi menatap perubahan sikap Lea yang berubah-ubah, "setelah perdebatan itu, dia makan dengan sangat lahap?" ucap Al yang tak habis fikir.
"Aku bisa tenang sekarang, kerana aku memegang kartu As kalian, KAKAK," ucap Lea yang mempunyai mengerjai Twins L.