Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 95


__ADS_3

Naina sangat bosan, dia hanya duduk diam di rumah tanpa melakukan hal apapun. Karena Bara tidak ingin jika Naina dan calon anaknya terkena masalah, Naina hanya mengemil cemilan sehat ala Ibu mertuanya yang sangat mengatur pola makannya.


Lilis yang melihat raut wajah Naina yang cemberut dan menghampiri nya, "Sayang, kenapa wajahmu cemberut?"


"Entahlah Bu, aku sangat merindukan Bara," jawab Naina yang menghela nafas.


"Eh, Dia baru saja berangkat menjalankan tugas. Kenapa kamu ingin tiba-tiba menemuinya?"


"Setelah aku melihat kartun dua anak kembar yang botak itu, aku ingin melihat Bara tanpa rambut."


"Apa? kapan kamu menonton kartun itu?" tanya Lilis yang menahan tawanya.


"Karena aku bosan dengan drama negeri ginseng, tak sengaja aku melihat kartun si kembar botak. Dan aku rasa, suamiku itu sangat cocok tanpa rambut," ucap Naina dengan sangat antusias.


"Baiklah, aku akan mencoba menelfon Bara dulu. Tapi tersenyumlah untuk wanita tua ini," sahut Lilis yang memegang dagu Naina sembari mengeluarkan ponsel dari saku bajunya.


"Hallo, kamu dimana?"


"Aku sedang ada di jalan, sebentar lagi akan sampai di rumah. Ada apa menelfonku, Bu?"


"Itu bagus, cepat lah pulang. Naina merindukanmu, dia sangat ingin bertemu denganmu."


"Benarkah? aku pulang."


Lilis mematikan sambungan telfon sembari tersenyum tipis tanpa di sadari oleh Naina.


Tak lama Bara pulang ke rumah dengan wajah sumringah menghiasi wajahnya yang tampan, dia melangkahkan kakinya menuju kamar, dan melihat Naina yang asik memakan cemilannya.


"Bagaimana dengan harimu, baru sebentar saja aku meninggalkan mu. Dan kamu merindukan aku?" ucap Bara yang memeluk Naina dengan erat.


"Jangan memelukku," ketus Naina.


"Bukan kah kamu merindukan aku?" ujar Bara yang menautkan alisnya.

__ADS_1


"Itu benar! aku ingin merubah sedikit penampilan mu, baru kamu boleh memelukku. Bagaimana?" celetuk Naina yang mengangkat kedua alisnya.


"Apa maksudmu, Sayang? bukan kah penampilanku ini sudah perfect, dan terlihat tampan," decit Bara yang sedikit bingung.


"Aku ingin rambutmu botak, seperti kartun anak kembar tanpa rambut itu. Sepertinya sangat seru memiliki suami botak, sangat menyenangkan jika kepala botakmu aku elus," sahut Naina dengan bersemangat. Seakan waktu terhenti, itu lah yang di rasakan oleh Bara. Karena selama ini, dia sangat membanggakan rambut indahnya.


"Aku punya usul, bagaimana jika kita membayar orang lain dan mencukur habis rambutnya?" sahut Bara.


Naina menggeleng dengan cepat, "TIDAK! apa kamu ingin, jika aku mengelus kepala pria lain setiap aku ingin tidur?" ketus Naina membuat Bara tidak bis berkutik.


"Apa tidak ada penawaran yang lain lagi?" tawar Bara yang mengusap wajah dengan kasar.


"Aku hanya ingin itu, apa kamu tidak ingin melakukannya? ini semua permintaan dari calon anak mu," tutur Naina dengan raut wajah sedih, membuat Bara tak ada pilihan lain.


"Baiklah, jika itu demi calon anak kita." Pasrah Bara yang mengangguk dengan pelan.


"Horee," teriak Naina yang tertawa sembari bertepuk tangan.


"Wah, ternyata suamiku lebih tampan saat botak. Dan sekarang kita ke mansion, dan memperlihatkan kepalamu yang licin ini kepada semua orang," tutur Naina mambuat Bara menatap pongah.


"Hem, bagaimana jika kita perginya besok saja. Aku sangat capek dan ingin istirahat," tolak Bara dengan halus. Naina yang sangat sensitif itu meneteskan air mata, mambuat Bara pasrah dengan keadaannya.


Twins L dan Abian bermain tembakan panah, karena Nathan melarang mereka memegang senjata api karena belum cukup umur. Mereka saling menyerang dan asik bermain, hingga salah satu anak panahan mereka meleset. Dengan cepat Al mengumpulkan anak panahannya, tercengang saat melihat salah satu anak panahnya menempel di kepala plontos itu.


"Aaaargh....tuyul," pekik Al membuat El dan Abian mendatangi asal suara. Seketika tawa mereka pecah, walau sebenarnya twins L sering melihat kepala botak dari Bara. Tapi tetap saja, itu sangat lucu bagi mereka.


"Ternyata selama ini, tuyul itu adalah Papa. Bukankah Papa selalu membanggakan rambutmu, ada apa Papa Bara hari ini?" ledek El di sela-sela tawanya.


Nathan dan Dita sedang menggendong baby Lea turun dari tangga dan tertawa melihat kepala Bara yang botak licin, sementara Naina bangga akan hal itu. Jangan tanyakan bagaimana raut wajah Bara yang memerah seperti udang rebus.


"Wah....wah....wah sepertinya kadar ketampanan mu turun drastis dan tingkat kepercayaan dirimu jatuh," cibir Nathan.


"Aku tetap tampan, hanya saja ini permintaan dari calon anakku. Sebagai Papa yang baik, tentu saja aku menurutinya. Dan tanpa rambut, itu hal yang biasa bagiku," kilah Bara yang menutupi rasa malunya.

__ADS_1


"Ternyata calon keponakanku sangat pintar ya," tutur Nathan yang duduk di sofa empuk.


Tak menghilangkan kesempatan itu, El memotret Bara dan memasukkan kedalam album foto kesialan Bara dan juga Nathan. Salah satu hobi El, yang mengumpulkan foto orang lain terkena sial.


****


Di sisi lain, pria berkemeja putih menatap keluar jendela, menatap lurus dengan punggung yang bersender di kursi ke banggaannya. Yah, dia Zean yang sedang melamun. Kekosongan di hati nya membuat Zeat gila bekerja, menghabiskan waktu hanya di kantor.


Seperti biasa, sebelum berangkat ke kantor, Zean menghabiskan waktu pagi nya untuk berlari, Itu seperti menenangkan pikiran baginya. Dia sangat tampan dengan celana pendek, dan baju kaus lengan pendek berwarna hitam. Tak lupa memasang haedset di kedua telinganya.


Zean menikmati suasana pagi yang sangat indah, hingga seseorang menabraknya dan membuat mereka terjatuh. "Sial, bisakah kamu berjalan melihat menggunakan mata," ketus Zean yang menatap seorang wanita yang berpakaian seperti laki-laki.


"Maafkan aku, tolong bantu aku!" ucap wanita itu yang memohon.


"Bukan urusanku," jawab Zean dengan dingin.


"Oh ayolah, aku mohon!" bujuk wanita itu yang menyatukan kedua tangannya.


"Ck, merepotkan saja. Cepat katakan ada apa?"


"Hey, kamu jangan lari. Bayar dulu semua hutang mu," pekik salah satu dari ketiga pria yang tak lain adalah rentenir.


"Jangan minta padaku, minta saja dengan tuan ini," ucap wanita tomboy itu yang mendorong tubuh Zean.


"Berapa hutang gadis itu, aku yang akan membayarnya," cetus Zean dengan raut wajah datarnya.


"Hutangnya sangat banyak, jumlahnya ada 30 juta. Cepat bayar semua itu," jawab salah satu dari pria di hadapan Zean.


Zean mengambil ponselnya dan mentransfer sejumlah uang dan memperlihatkan buktinya, "aku sudah mentrasfernya, sekarang pergilah."


"Baiklah." Wanita itu menghela nafas dengan kasar dan tersenyum kepada Zean, "terima kasih," ucap tulus wanita itu.


"Itu tidak gratis, kamu harus membayarnya dengan menjadi pelayan di mansionku."

__ADS_1


__ADS_2