
Nathan dan Dita yang mengambil cuti beberapa hari membuat Daniel dan Nurma kelimpungan mengatasi pekerjaan mereka yang berlipat ganda. Daniel meraih ponsel yang berlogo apel gigit di atas meja kerjanya, berniat menghubungi Nathan yang belum kembali ke kantor.
"Hallo."
"Hem," balas Nathan dengan deheman.
"Kapan kamu selesai masa cutimu? bukankah hanya 3 hari, " cetus Daniel.
"Mau 3 hari atau pun lebih, itu bukanlah urusanmu. Kerjakan saja berkas dan dokumen itu, dan saat kembali, aku ingin semuanya beres. "
"Kamu gila ya? tangan ku hanya dua, mengerjakan semua itu tidaklah mudah."
"Lalu? "
"Cepat datanglah ke kantor, aku sangat jenuh mengerjakan semuanya sendiri, " gerutu Daniel.
"Jangan banyak mengeluh, lakukan segalanya dengan benar. Di sini aku lah bosnya! "
"Ini sangat penting, ada beberapa berkas yang harus kamu tanda tangani. "
Lagi dan lagi Nathan memutuskan sambungan telfon secara sepihak, Daniel mengumpat dengan sumpah serapahnya, "dasar Nathan sialan, hanya karena dia bosnya dan melimpahkan semua pekerjaanya kepadaku. "
****
Keesokan paginya, Nathan membawa istri dan juga anak-anaknya ke kantor. Setelah bersiap-siap, mereka turun dan ikut sarapan pagi bersama di mansion Wijaya. Tidak ada obrolan saat makan berlangsung, yang terdengar hanya suara dentingan sendok dan garpu.
Novi melihat twins L dan Dita yang sudah rapi, "Mau kemana kalian?" ucap Novi yang menatap Dita dengan sinis.
"Aku mengajak mereka untuk ikut ke kantor, apa ada masalah? " sela Nathan tanpa tertarik memandang wajah Novi. Novi yang ingin berdebat dengan Nathan langsung di cekal oleh Wijaya, menatap mata istrinya dengan tajam. Novi menghela nafas dengan kasar, sembari menatap sinis ke arah Dita.
Situasi itu membuat twins L mengetahuinya, Al melirik El satu sama lainnya, entah apa yang mereka rencanakan nanti.
Nathan merangkul pinggang istrinya dengan mesra saat masuk ke dalam kantor pencakar langit milik keluarga Wijaya, membuat twins L menatap cemburu.
"Apa itu harus?" ucap El.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? tidak ada yang mempermasalahkan nya," sahut santai Nathan.
"Mataku menjadi sakit melihatnya, " ketus Al.
"Tutup saja matamu, " balas Nathan yang semakin merangkul sang istri dengan romantis. Semua orang menatap Nathan, Dita, dan twins L yang sangat memukau. Wajah tampan yang di miliki Nathan sangat serasi dengan wajah Dita dengan paras yang cantik, di tambah ketampanan nan menggemaskan dari twins L.
Para karyawan pria tak henti-hentinya menatap wajah Dita, Nathan yang mengetahuinya menatap mereka dengan sangat tajam, "tundukkan pandangan kalian, atau aku akan memecat kalian semua, " tegas Nathan menatap tak suka. Mereka diam dan menundukkan kepala, tanpa berniat menjawab.
"Daniel, " panggil Nathan dengan raut wajah yang dingin.
"Iya, tuan, " sahut Daniel formal.
"Kumpulkan semua orang, SEKARANG, " perintah Nathan yang mengeluarkan aura kepemimpinan.
"Baik, tuan, " jawab Daniel. Tak butuh waktu lama bagi seorang Daniel mengumpulkan seluruh para karyawan di perusahaan. Nathan menelusuri pandangannya menatap para bawahan, "apa kalian tau, kenapa saya mengumpulkan kalian?. "
"Tidak, tuan, " jawab mereka serempak tanpa berani manatap mata elang dari atasan mereka.
"Wanita cantik di sebelah kanan saya adalah nyonya Nathan Wijaya. Sedangkan anak kembar di sebelah kiri, mereka adalah anak saya, " tutur Nathan membuat semua orang menjadi syok. Daniel berdehem, sebagai peringatan untuk menghentikan keributan itu.
"Baiklah, kalian boleh pergi. Mulai lah bekerja, " tegas Nathan dan melirik Daniel.
"Ada apa? kenapa menatap ku begitu? " Daniel bisa merasakan kejadian buruk sebentar lagi menghampirinya.
"Aku titipkan kedua putraku kepadamu, " Nathan menepuk pelan bahu sahabatnya.
"Aku memiliki pekerjaan lain, kamu titipkan saja ke orang lain, " tolak Daniel sedikit protes.
"Di sini aku hanya mempercayai mu, itu suatu kehormatan untuk mu, karena bisa merawat pewaris dari keluarga Wijaya, " jelas Nathan. Daniel melirik twins L yang tersenyum menggemaskan bagi semua orang, tapi Daniel merasakan senyum itu sangat menakutkan.
Daniel menelan salivanya dengan susah payah, "masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan, sebaiknya kamu titipkan dengan orang lain saja."
"Apakah kamu ingin aku pindahkan ke anak cabang, DANIEL, " tekan Nathan yang tersenyum smirk.
"Baiklah, dengan senang hati aku akan merawat mereka, " sahut Daniel dengan cepat.
__ADS_1
"Bagus, bawa mereka. Jangan ganggu kebersamaanku dengan istriku, jaga mereka dengan baik. Dan kalian, jangan nakal dengan paman Daniel. "
"Siap, Ayah. "
Daniel menatap punggung sang atasan yang hilang dari balik pintu, tatapannya beralih menatap Al dan juga El.
"Kenapa kalian menatap paman begitu? " tanya Daniel yang memiringkan kepalanya.
"Karena wajah paman sangat unik, " ucap Al.
"Tentu saja, apalagi paman sangatlah tampan, " ujar Daniel yang membusungkan dada.
"Tampan di antara monyet, " ledek El.
Daniel tidak menanggapi ucapan El, "kalian jangan nakal, dan jangan menyusahkan ku, " tutur Daniel memberi peringatan.
"Untuk sekarang kami tidak tertarik melakukannya, cepat tunjukkan di mana ruangan mu, paman jelek, " cicit El membuat Daniel mengelus dada dan membentengi dirinya dengan kesabaran yang berlapis.
Daniel mengajak twins L keruangan kerjanya, yang tak jauh dari Nathan. Dia kembali fokus dengan pekerjaannya yang sempat tertunda. Twins L duduk diam di sofa sembari mengamati raut wajah Daniel yang sangat frustasi.
"Apa ada masalah, paman jelek, " tanya Al yang menatap Daniel dengan serius.
Jika aku mengatakannya, kalian juga tidak mengerti. Bermainlah dan jangan campuri urusanku, " ketus Daniel. Tanpa mempedulikan ucapan Daniel, twins L tertarik dengan pekerjaannya, bagai sebuah tantangan bagi mereka.
"Ck, itu sangat gampang. Itu saja paman tidak bisa, " ucap Al dan El mengambil laptop Daniel dengan paksa. Mereka mengerjakan pekerjaan Daniel dengan sangat teliti dan juga cepat.
Tidak butuh waktu yang lama bagi mereka untuk mengerjakan semua masalah perusahaan anak cabang. Daniel hanya menyaksikan segalanya dengan mulut yang ternganga menatap twins L dengan takjub.
"Ini paman, kami sudah selesai mengerjakannya, " twins L tersenyum kearah Daniel.
"Dasar bodoh, jika paman tidak bisa. Tanyakan kepada kami, " tutur El.
"Eh, kenapa di sini aku terlihat sangat bodoh, apalagi di hadapan kedua anak kembar ini, " batinnya.
Akhirnya Nathan bisa berduaan dengan istrinya, menghabiskan waktu bersama. Nathan mengatakan semua perasaannya terhadap sang istri dan Dita juga membalas perasaan cinta Nathan. Hingga mereka melakukan pertarungan berkeringat di kamar yang tersedia di ruangan Presdir. Dita sangat bahagia, setelah melewati masa-masa sulit, dia sangat bahagia memiliki suami dan anak-anak yang mencintainya.
__ADS_1