Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 194 ~ S2


__ADS_3

Sinar matahari menembus kaca jendela dan menyentuh kulit membuat seseorang terbangun dari tidurnya, menggeliatkan tubuh sembari menguap, kepala yang masih terasa pusing membuatnya enggan untuk melakukan aktivasi apapun. Ingin sekali melanjutkan tidur, tapi terkejut saat melihat seorang pria yang menatapnya.


"Aaargh....kenapa kamu bisa di sini?" teriak Lea yang memukul Abian dengan bantal.


"Selamat pagi calon istriku," sapa Abian yang terus saja tersenyum tanpa mengkhawatirkan giginya yang mengering.


"Yang pertama kamu tidak sopan untuk masuk ke kamar seorang gadis sepertiku, dan yang kedua memanggilku dengan sebutan istri. Pergilah dari sini dan jangan menganggu ku," cetus Lea yang mendengus kesal.


"Tapi itulah kenyataannya," sahut Abian tanpa beban.


"Keluarlah, ini masih pagi dan jangan membuat aku kesal," usir Lea yang hanya di balas gelengan kepala oleh pria tampan itu.


"Kamu harus tanggung jawab dengan ku," tuturnya sembari menatap mata Lea sangat dalam.


"Tanggung jawab apa? aku bahkan tidak mempunyai masalah dengan mu," jawab Lea dengan ketus.


"Tega sekali kamu mengatakan itu kepadaku," ujar Abian yang kembali menjalankan peran sebagai pria tersakiti.


"Jangan berpura-pura, katakan dengan jelas."


"Apa kamu melupakan kejadian di saat kamu menodai keperjakaan ku?" sahut Abian dengan wajah yang menggemaskan.


"Katakan dengan jelas tanpa berbelit-belit," ucap Lea yang menatap Abian dengan jengah.


"Apa kamu mengingat akibat obat perangsang yang di berikan pria itu?" ujar Abian berusaha mengingatkan Lea yang tampak mengingat kejadian itu.

__ADS_1


"Lalu?" sahut Lea dengan wajah pongahnya.


"Aku menolongmu dari pria sialan itu, karena pengaruh obat yang sangat kuat membuatmu melupakan segalanya. Hingga....hingga, hiks bahkan lidah ku seakan keluh untuk mengatakannya. Kamu terus saja menggodaku dan merebut kesucianku," kata Abian membiat Lea membulatkan matanya dengan wajah yang melongo.


"Jangan mencoba untuk membohongiku, kamu pasti menjebakku." Lea meninggikan suaranya seraya menatap Abian dengan tajam, sedangkan yang di tatap hanya mengelap salah satu sudut matanya yang berair.


"Setelah kamu memperkosaku? bagaimana mungkin aku melakukan hal itu. Bahkan kamu melakukannya seperti singa kelaparan, lihatlah bekas cakaranmu di dada dan juga leherku. Bukan hanya itu saja, kamu juga membuat dan meninggalkan beberapa tanda kecupanmu itu," balas Abian yang menaikan bajunya ke atas dan memperlihatkan beberapa tanda yang benar-benar ada.


"Aku tidak yakin jika aku melakukannya dan itu tidak bisa di jadikan bukti," cetus Lea.


"Tanyakan kepada kakak twins L mu dan juga kedua orang tuamu, aku sudah mengatakan keluhanku atas tindakan putrinya yang telah menodai aku sebagai pria." Lea hanya terdiam setelah mendengar perkataan dari Abian, dia merasa sedikit aneh. Di satu sisi dia sangat mempercayai kedua orang tuanya yang tidak akan berbohong dengannya, apalagi twins L. Sementara Abian tersenyum samar melihat raut wajah Lea yang seakan mengelitiknya.


"Apa aku melakukannya? tapi kenapa aku tak mengingatnya?" gumam Lea yang masih terdengar oleh Abian.


"Mau tidak mau kita akan menikah beberapa hari lagi setelah ujianmu selesai," kata Abian yang berdiri dan berjalan keluar kamar meninggalkan Lea yang berusaha memahami situasinya.


"Ehem, ternyata kamu licik juga," sindir Al dan El yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan Abian dengan sang adik di sela pintu kamar yang tidak di tutup. Abian menatap saudara kembar itu dan mendengus kesal, "tidak baik mendengarkan pembicaraan orang lain, dasar tidak sopan."


"Kami bukannya tidak sopan, hanya saja penasaran dengan apa yang ingin kamu katakan kepada adik polos ku itu," tukas El.


"Sama saja." Abian berlalu pergi meninggalkan twins L yang melongo.


"Sialan, berani sekali di melewati kita. Lihat saja bagaimana aku akan menggagalkan malam pertamanya nanti," gerutu El.


"Lupakan itu, ayo kita pergi!" ajak Al.

__ADS_1


Twins L berjalan berdampingan dan turun untuk sarapan pagi, semua sudah ada di sana kecuali Lea yang tidak ingin keluar dari kamarnya.


Di saat selesai sarapan, twins L dan Abian berjalan ke taman sembari membicarakan mengenai bisnis dan kembali mengingat kenangan lama, hingga Al melihat pohon mangga yang sangat tinggi berbuah sangat lebat. Dia menelan saliva dengan susah payah, air liur yang seakan hampir menetes saat melihat buah mangga yang masih mentah. Pikirannya menjadi buyar yang sekarang hanya tertuju di buah mangga, dia bahkan membayangkan betapa lezatnya saat buah mangga mentah itu di makan lansung.


Al tidak menyadari jika Abian dan El menatapnya sedari tadi dan melihat arah pandangan Al yang tertuju di buah mangga yang masih mentah, "hapus air liurmu yang hampir menetes itu," ucap Abian yang dengan cepat di Al menghapusnya tapi tidak ada air liur yang di maksud oleh Abian.


"Kamu membohongiku?" Al menatap Abian yang sedang bertos ria dengan El sambil tertawa.


"Maaf, apa kamu kembali mengidam lagi?" ejek Abian di sela-sela tawanya.


"Itulah yang terjadi sekarang," sela El.


"Sial, aku doakan kamu mengalami hal yang sama dengan ku bahkan lebih parah lagi," ketus Al yang berlalu pergi berjalan menuju pohon mangga yang tinggi itu.


Abian dan El hanya menatap Al yang sedang melepaskan sandalnya dan memanjat pohon dengan berhati-hati, karena dia tidak ingin terjatuh. Dia menjangkau buah mangga itu dan duduk di atas dahan yang dapat menampung beratnya.


"Akhirnya aku mendapatkanmu," gumam Al yang tersenyum dan memakannya langsung. Dia sangat bahagia dengan itu, rasa asam dari mangga membuatnya ketagihan hingga memakannya sekitar 3 buah.


Sementara El dan Abian menatap Al yang masih duduk di atas dahan, "apa kembaran mu itu seekor kera?" tanya Abian yang mengerutken keningnya seraya menoleh ke arah lawan bicaranya.


"Entahlah aku rasa begitu," sahut El dengan santai.


Shena dan Anna datang menghampiri mereka, karena merasa bosan berada di dalam kamar. "Apa kalian melihat suamiku?" tanya Shena yang menatap kedua pria tampan di hadapannya.


Abian dan El saling melirik seraya menahan tawa yang sebentar lagi akan meledak, "Ada di sana," tunjuk El yang tertawa pecah karena tidak bisa menahannya, di ikuti oleh Abian yang juga tertawa.

__ADS_1


Shena mengikuti arahan tangan dari El, dia sangat terkejut saat melihat Al yang asik memakan buah mangga mentah di atas pohon, "ya tuhan, ternyata julukan kera sangat melekat dengannya," ucap Shena yang terdengar oleh El dan juga Abian, tawa mereka semakin bertambah saat mendengar ucapan yang menggelitik itu.


__ADS_2