
Pria tampan berkemeja hitam berdiri di dekat jendela, menatap suasana yang ada di luar jendela. Kedua tangan yang melipat ke dada dengan pandangan mata yang lurus ke depan. Suara ketukan pintu membuatnya menoleh, terlihat sang asisten yang membawa berkas dengan senyum di wajahnya.
"Ada yang ingin aku tunjukkan kepadamu," ucap sang asisten.
"Apa itu, cepat katakan!" sahutnya.
"Ini berkas dari data gadis itu," ucap Gery yang menyerahkan berkas itu ke atasannya. Dengan cepat Alan membuka berkas dan ingin mengetahui data gadis kecil yang bernama Shena yang sekarang tinggal di mansion Wijaya.
"Sepertinya ini sangat menarik," batin Alan yang tersenyum smirk saat mengetahui data Shea, kecuali status Shena yang telah menjadi istri sah dari Al.
"Apa yang akan kamu lakukan?" ucap Gery yang menatap Alan dengan serius.
"Aku akan memanfaat gadis itu, mendekatinya untuk mendapatkan semua informasi dari Al," ujar Alan yang memasukkan kedua tangannya di saku celananya.
"Ide mu sangat bagus," puji Gery.
"Tentu saja."
****
Shena dan Lea pergi ke sekolah bersama, mereka berangkat menggunakan motor sport yang di kendarai oleh Lea, setelah meminta izin terlebih dahulu dengan beberapa rayuan dari mulut manis Lea.
Di sepanjang perjalanan Shena selalu menutup kedua matanya yang sangat takut dengan cara Lea yang mengemudikan motor dengan sangat cepat. Tak lupa dia merapalkan semua doa yang dia ingat, "Lea, bisakah motor ini berjalan sedikit pelan? aku belum ingin mati," teriak Shena.
"Kita sudah terlambat, tidak ada waktu lagi. Berpeganglah, aku akan menambah kecepatannya," pekik Lea.
Shena memegang sangat erat pinggang Lea, dan menutup matanya karena ketakutan. Tak butuh waktu lama untuk Lea sampai di sekolah, namun pintu gerbang tertutup saat mereka tiba.
Lea turun dari motornya dan membuka helm, menghampiri security yang berjaga di pos, "Pak tolong buka gerbangnya, kami hanya telat beberapa detik saja. Biarkan kami masuk," ucap Lea.
"Tetap saja kamu terlambat, pergi sana! jangan menganggu tugasku," usir security.
Lea menghampiri Shena dengan wajah cemberut, "apa kamu tidak berhasil? ini hari pertamaku sekolah. Pikirkan caranya," rengek Shena.
"Tenang lah kakak ipar, aku bisa mengatasi hal ini," ucap Lea yang mengangkat kedua alisnya menatap Shena.
__ADS_1
"Jangan memanggilku begitu, bukankah kita sepakat untuk merahasiakan ini," cetus Shena yang memajukan bibirnya serta pipi yang seperti bakpao membuat gadis itu terlihat menggemaskan.
"Aku tidak salah bicara, memang itu kenyataannya."
"Katakan itu saat di mansion saja, bagaimana jika ada orang mendengarnya?"
"Maka tamatlah riwayat orang itu, sudah! jangan bicara lagi, atau kita tidak bisa masuk ke dalam," ujar Lea yang menarik tangan Shena, mereka berjalan mengendap-endap menuju jalan rahasia.
Jalan rahasia itu membawa mereka menembus ke sebuah gudang yang sudah lama tak terpakai, Shena sangat ketakutan. Lea membuka pintu gudang dengan sangat mudah dan membawa Shena menuju kelas barunya, sementara dia menuju ke kelasnya.
Seseorang mengawasi mereka dari ke jauhan, dia tersenyum senang karena mempunyai kartu As yang akan membantunya untuk melawan Al. "Jalankan mobilnya," ucap pria itu yang memerintah.
Tanpa di sadari oleh pria itu, ada Abian yang juga mengikuti sang pujaan hati. Tapi dia menjaga jarak karena melihat sebuah mobil hitam yang mengikuti Lea dan juga Shena, dia sangat curiga dengan itu.
"Siapa pria itu? sangat mencurigakan. Siapa yang menjadi targetnya?" batin Abian yang banyak di penuhi pertanyaan yang belum bisa dia pecahkan.
Abian terus menggikuti mobil hitam dan berhenti saat sampai ke gedung pencakar langit, dia mengeluarkan ponsel dari saku celana dan memotret pria itu untuk memudahkan nya dalam pencarian data pria itu.
Abian kembali mengemudikan motornya sport menuju apartemen sederhana miliknya, dengan cepat dia mengutak-atik laptop berusaha mencari data.
"Dia seperti Alan, musuh Al saat di sekolah dulu. Apa itu mungkin? tapi penampilannya sangat jauh berbeda dari Alan si pria cupu itu," gumam Abian yang berusaha mencari kebenaran pria itu.
Dia menganmil ponsel yang berada tak jauh darinya, menekan nomor kontak yang ada di ponselnya, hingga sambungan telfon terhubung.
"Halo."
"Ada apa? kenapa kamu menghubungi aku?"
"Ada yang ingin aku beritahu."
"Cepat katakan ada apa? karena aku sangat sibuk, kamu tau sendirikan bagaimana aku yang sibuk mengurus semua pekerjaan."
"Ayolah El, jangan perhitungan begitu. Ada hal yang lebih penting dari semua itu."
"Baik, katakan ada apa?"
__ADS_1
"Apa kamu masih mengingat Alan?"
"Alan yang mana?"
"Pria berkacamata tebal dengan dasi kupu-kupu yang selalu dia kenakan."
"Hah iya, aku baru mengingatnya. Itu adalah musuh Al, ada apa dengannya?"
"Aku mencurigainya yang mengintai Lea dan juga Shena saat berangkat ke sekolah, aku akan mengirimkan data yang telah aku retas. Dan aku juga mengirimkan fotonya sekarang dengan penampilan yang sangat berbeda,aku akan menutup telfonnya."
"Baiklah."
El mematikan sambungan telfon, dan melihat data yang baru saja di kirimkan oleh Abian. Dia menghela nafas dengan kasar, "sepertinya pekerjaanku menjadi bertambah, apa aku harus menghubungi Al? ini juga menyangkut istrinya dan juga adiknya. Lebih baik aku mengurusnya sendiri," gumam El.
El memperhatikan foto Alan yang sangat tampan dengan penampilan barunya, hingga fokusnya teralihkan saat telfonnya kembali berdering.
"Katakan ada apa?"
"King, sepertinya ada yang tidak beres di sini. Kami mengirimkan senjata tetapi ada yang menghalangi jalan kami."
"Katakan di mana lokasimu?"
"Aku ada di pertigaan jalan menuju perbatasan."
"Jangan melakukan tindakan yang gegabah, aku akan menyusul kalian."
El memutuskan telfon dan mengambil jaket kulit, menggunakan kacamata hitam dan topi yang berwarna senada. Pakaian serba hitam menjadi identitas nya saat melakukan penyamaran, menuju lokasi dengan cepat menggunakan jalan pintas.
El melihat jika para anak buahnya di kepung oleh beberapa musuh yang ingin mengambil senjata buatannya, El dengan gagahnya mengeluarkan pistol yang melekat di pinggang. Menarik pelatuk dengan cepat dan menembak sasaran dengan sempurna, dia terus melajukan motor yang dia kemudikan sambil menembak musuh untuk membuat celah para anggotanya yang ingin melawan.
Terjadi aksi saling tembak-menembak, suara yang berasal dari pistol saling bartautan. El mencari ketua dari musuh yang masuk ke dalam mobil karena tembakan dari El yang hampir mengenainya.
"Sial, dia berhasil lolos dari bidikan ku," batin El yang sedikit kesal. Dia tidak tinggal diam, kembali menancap gas dan mengejar mobil yang ada di depannya.
"Kali ini aku tidak akan membiarkan mu lolos begitu mudah dariku, dasar tikus!" gumam El.
__ADS_1