
Entah mengapa kejadian kemarin membuat Caroline luluh, seakan Lucifer memiliki daya tariknya yang membuat jiwa keibuan Caroline luluh. Bahkan di saat dia Merawat Abian tidak merasakan apa pun, lain hal nya dengan Lucifer.
"Anak itu sangat menarik seperti magnet, bagaimana dengan keadaan anak itu? aku sangat mencemaskan nya," gumam Caroline yang terus mondar-mandir di dalam kamarnya.
Tanpa berpikir lagi Caroline melangkahkan kakinya menuju kamar Lucifer, dia memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar dan melihat Lucifer yang kesusahan mengambil segelas air dari atas nakas. Caroline membantunya dan memberikan gelas yang berisi air mineral kepada Lucifer.
"Siapa kamu?" ucap Lucifer dengan wajah yang pucat, sembari menatap Caroline.
"Namaku Caroline yang sementara waktu menginap di mansion ini," sahut Caroline yang memperkenalkan dirinya.
"Hem," balas Lucifer.
"Kamu di sini lagi? bukankah sudah aku peringatkan?" ucap Zean yang memeriksa keadaan anaknya. Caroline menoleh ke asal suara, "maaf, aku hanya ingin melihat keadaannya saja."
"Kamu sudah melihatnya kan, sekarang pergilah!" usir Zean. Mau tak mau Caroline harus pergi, karena dia tak ingin jika Zean benar-benar mengusirnya dari mansion, dia tidak mempunyai tempat persembunyian selain di mansion milik Zean yang di jamin aman baginya.
Lucifer dan Zean menatap punggung Caroline yang menghilang dari pandangan mata mereka, Zean mengalihkan perhatiannya menatap mata Lucifer dan memeriksa keadaannya. "Wajah mu sangat pucat, Daddy akan memanggil dokter untukmu," tutur Zean yang mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
Lucifer menghentikan Zean, "itu tidak perlu, aku akan sembuh dengan sendirinya."
"Apa maksudmu? wajahmu sangat pucat, bagaimana aku bisa diam dan duduk dengan tenang," ucap Zean yang tidak percaya dengan ucapan itu. Zean mengambil obat yang berada di atas nakas, memberikan beberapa jenis obat dengan warna dan bentuk yang berbeda. Ada beberapa jumlah obat yang harus dia minum, membuat Lucifer enggan untuk meminumnya, bahkan semangat hidup nya sangat tipis.
"Ayo minumlah," paksa Zean dengan suara yang sedikit meninggi. Lucifer menepis tangan Ayahnya dengan kasar, hingga obat itu terjatuh ke lantai.
"Kenapa kamu kekanakan sekali, hah!" bentak Zean yang kehabisan kesabaran.
__ADS_1
"Jangan berpura-pura peduli padaku, hentikan sandiwara ini. Daddy bahkan tidak peduli dengan ku saat aku masih bayi, dimana Daddy saat aku membutuhkan kasih sayang seorang Ayah? heh, bahkan Daddy juga tidak mengkhawatirkan ku di saat aku lagi sakit, bahkan tidak mau tau tumbuh kembangku di saat itu. Dan satu lagi, bahkan Daddy tidak memberiku nama. Hanya Nanny yang memanggilku dengan Lucifer yang sekarang nama itu melekat padaku," kata Lucifer yang berteriak di hadapan Zean.
Zean bungkam dengan itu, walau bagaimana pun juga dia bersalah telah menelantarkan anaknya dan selalu meratapi kepergian istri tercintanya. "Maaf kan Daddy," ucap Zean yang menundukkan kepalanya seraya menghela nafas dengan kasar.
"Tinggalkan aku sendiri," ucap Lucifer yang membuang muka.
Zean terpaksa pergi dari kamar itu membawa perasaan penyesalan yang teramat dalam. Tanpa di ketahui oleh semua orang, Caroline sedari tadi mendengarkan pembicaraan Ayah dan Anak secara diam-diam.
"Aku pikir nasibku sangatlah buruk, akan tetapi nasib Lucifer lebih buruk lagi. Aku berharap anak itu akan mendapatkan kebahagiaannya," gumam Caroline dan pergi dari tempat itu.
****
Karena kondisi Lea sekarang sudah membaik dan di perbolehkan untuk pulang, tapi twins L dan Nathan mencoba protes kepada Antoni dan memastikan kebenaran itu.
"Aku sangat yakin, karena aku sudah memeriksanya yang tidak ada luka dalam," sahut Antoni
"Aku mohon, periksalah sekali lagi keadaan adikku itu," tambal Al.
"Aku sudah memastikan nya," balas Antoni yang sangat jengkel dengan ketiga pria yang berada tak jauh darinya. Bukan hanya dokter saja, tapi Lea dan Dita sedikit jengkel dan hanya menanggapi dengan gelengan kepala.
"Ck, turuti saja. Itu tidak akan memakan waktu yang lama, cepat periksa atau aku akan memecatmu," paksa Nathan di sertai ancaman.
Antoni menghela nafas dan mengeluarkan nya dengan perlahan, berusaha mengatur tingkat kesabaran ekstra nya. Sebenarnya dia sudah terbiasa dengan sikap Nathan, tapi sekarang personal nya bertambah dan menjadi 3 orang pria yang sangat menjengkelkan.
Dengan terpaksa Antoni memeriksa Lea yang sudah beberapa kali dalam satu waktu itu, "aku sudah memastikannya jika Lea sudah di perbolehkan untuk pulang."
__ADS_1
"Sekali lagi untuk meyakinkan diriku," pinta Al membuat kesabaran Antoni habis.
"Jika kalian tidak mempercayaiku, maka periksa saja sendiri," ketus Antoni dengan matanya yang berani menatap twins L dan Nathan dengan kesal.
"Apa kamu ingin mata itu di congkel?" ujar Nathan yang menatap tajam ke arah Antoni.
Antoni menelan saliva dengan susah patah, "bukan begitu, jangan membawa perkataan ku tadi masuk ke dalam hatimu," sahutnya yang cengengesan sambil menggaruk telinga yang tidak gatal.
"Jangan membuang waktu, periksa adikku sekali lagi," cetus El.
"HENTIKAN, sudah cukup drama ini. Ayah dan Kakak, aku tau jika kalian sangat mengkhawatirkan aku, tapi aku mohon dengan ini. Paman Antoni sudah memeriksa ku hingga 10 kali dalam waktu yang hanya berjarak 2 menit. Aku ingin pulang ke mansion, dan merindukan kamar tidurku," ucap Lea yang yang menatap ketiga pria tampan dengan rengekan manjanya.
"Ya baiklah, ayo kita pulang," sahut Nathan.
Lea sangat bersemangat dengan ini, apalagi Abian memutuskan untuk tinggal di mansion Wijaya. Setelah merundingkan kepada Dita dan Nathan, Abian sekarang tinggal di mansion yang beralasan merindukan Ibunya. Tapi yang sesungguhnya adalah lebih mengkhawatirkan keadaan Lea dan memastikan perkembangan pemulihan luka di punggung Lea.
Jangan tanyakan perasaan Lea yang sekarang sangat bahagia, karena rencana yang tertundanya bisa di selesaikan dengan cepat. "Akhirnya, tidak lama lagi aku bisa memotret Abian yang bertelanjang dada itu. Itu pasti sangat menyenangkan kan, aku akan mengambil fotonya secara diam-diam," batin Lea yang tersenyum nakal.
Al yang tau akan pikiran kotor dari adiknya, berusaha untuk menyadarkan Lea dengan menyentil kening sang adik. "Jangan memikirkan hal itu," ketus Al membuat khayalan Lea buyar dan memasang wajah yang cemberut.
"Apa kakak peramal? yang mengetahui semua isi di pikiranku?" tanya Lea.
"Anggap saja begitu, tidurlah dengan nyenyak dan jangan memikirkan hal apa pun lagi, " sahut Al yang menyelimuti Lea dan mencium kening sang adik.
Al pergi melangkah keluar kamar Lea dan kembali menuju kamarnya, tubuh nya sangat memerlukan istirahat yang cukup. Sebelum itu dia membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket, setelah selasai dengan ritual mandinya, Al mengenakan pakaiannya dan mulai tertidur dengan nyenyak.
__ADS_1