
Mereka menuju ke rumah sakit dan dengan cepat meminta dokter untuk menangani Al yang tertembak, Vivian yang terluka, dan Shena juga terluka di tangannya.
"Cepat tangani mereka," perintah sang dokter yang mengatakan kepada suster, doter itu bernama Jimmy anak dari dokter Antoni. Dia masuk dengan tergesa-gesa ingin masuk ke dalam ruangan tempat Al yang sedang terluka, tapi di cekal oleh El.
"Tolong tangani Al dengan sangat baik, buat dia tidak sadarkan diri selama dua hari," pinta El.
Jimmy mengerutkan kening karena dia sangat bingung dengan ucapan El, "apa maksudmu? dia itu saudaramu, bisa-bisanya kamu berencana seperti itu."
"Hanya dua hari saja, karena kamu tidak akan tau bagaimana amarah Al yang sangat mengerikan itu," bujuk El yang menatap Jimmy dengan penuh harapan.
"Tidak, kamu tau sendiri bagaimana Al. Aku tidak ingin terlibat dalam permasalahan kalian," tolak Jimmy.
"Hah lakukanlah untukku dan ketiga adikku," bujuk El yang tak berujung, Jimmy melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Aku tidak ingin kehilangan pekerjaan ku sebagai dokter, dan aku hanya memiliki satu nyawa," tolak Jimmy yang pergi meninggalkan El.
"Hah, sepertinya aku akan melakukannya sendiri," gumam El yang kembali bergabung dengan yang lain.
"Kenapa kamu menarik dokter Jimmy?" celetuk Abian yang menatap El dengan menyelidik.
"Sedikit ada kejanggalan di sini," sambung Rayyan yang menatap Kenzi.
"Bagaimana ini kak? aku tidak ingin kak Al menghukum ku dengan cara yang seperti itu, cukup sekali aku merasakan nya," seloroh Kenzi dengan tatapan menyedihkan.
"Tunggu dulu, apa yang kalian lakukan hingga Al marah?" sela Abian yang menatap Kenzi dan juga El.
"Kami merencanakan untuk menangkap Alan dengan Shena yang di jadikan umpan tanpa di ketahui oleh kak Al," jawab Lea dengan pelan.
"Apa? bukankah kalian sangat mengenal bagaimana Al?" ucap Abian yang meninggikan suaranya.
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi? hanya itu satu-satunya cara untuk menemukan di mana letak persembunyian Alan," sahut El.
"Sepertinya ini cukup sulit, apalagi terakhir kali kamu di hukum. Di satu sisi aku ingin sekali tertawa, dan di sisi lainnya aku kasihan denganmu," ujar Abian yang menatap El.
"Sialan," umpat El yang menoyor kepala Abian.
Tak lama kemudian, para keluarga Wijaya datang dan juga Daniel beserta istrinya telah datang dan menghampiri anak-anak mereka. Dita sangat khawatir dengan kondisi anak, menantu, dan keponakan nya.
"Apa yang terjadi? kenapa Al, Shena, dan Vivian bisa terluka?" tanya Dita yang menatap El dengan tatapan menyelidik.
"Belum sempat El menjelaskannya, dokter Jimmy keluar dari ruangan tempat Al di rawat. Mereka menghampiri dokter Jimmy dan menanyakan kondisi pasien.
"Bagaimana kondisi mereka? apa mereka baik-baik saja?" ujar Dita dengan nanar.
"Tante tenang saja, Vivian dan Shena baik-baik saja, hanya cedera ringan dan tidak perlu di rawat di rumah sakit. Sedangkan luka tembakan di lengan dan juga paha Al cukup dalam yang harus di rawat agar lukanya lekas sembuh," tutur sang dokter.
Mereka menghela nafas dengan pelan, tapi tidak dengan El, Lea, dan Kenzi yang sangat cemas dengan hukuman dari Al. "Apa Al tidak sadarkan diri saat mengambil peluru?" ucap El.
"Apa?" sahut mereka dengan kompak.
Nathan dan Bara sangat tau apa yang terjadi dengan anak-anak mereka, hanya saja Nathan tidak ingin terlibat dalam urusan anak. Karena dia sangat yakin jika anak-anak dapat mengatasinya, dan melihat bagaimana penyelesaian terjadi.
Para orang tua masuk lebih dulu, melihat bagaimana keadaan anak-anak mereka. Setelah menunggu cukup lama, ketiga orang yang telah tercantum nama nya itu segera masuk ke dalam ruangan Al yang sedang memakan buah Apel dengan begitu santainya.
Suasana di dalam ruangan tempat Al di rawat tidak ada yang berani untuk membuka suara, mereka hanya menundukkan wajahnya. Al menggingit apel sambil menatap mereka satu persatu, "kalian tau apa kesalahan kalian?" ucap Al tanpa ekspresi.
"Perutku seakan sangat lapar dengan suasana ini," batin Lea yang hampir saja meneteskan air liurnya saat menatap makanan yang berada di atas nakas yang tak jauh dari Al.
"Kenapa kalian melakukan hal yang sangat fatal itu tanpa memberitahukan ku terlebih dahulu."
__ADS_1
Kenzi mengangkat tangannya dengan wajah yang tertekuk, "ayo jelaskan!" cetus Al yang menunjuk Kenzi.
"Hem....bolehkah aku permisi ke toilet? ini keadaan darurat?" lirih pelan Kenzi.
"Apa kamu ingin melarikan diri dari ku?" ucap Al yang menatap Kenzi dengan menusuk.
"T-tidak.... siapa yang ingin melarikan diri, ini murni panggilan alam kak."
"Mendekatlah dan ambil karet gelang itu," titah Al yang di turuti oleh Kenzi.
"Aku sudah mengambilnya, tapi ini untuk apa?" tanya nya dengan menautkan kedua alisnya.
"Dasar bodoh, bukankah kamu ingin ke toilet? gunakan karet gelang itu untuk mengikat Juniormu."
"Apa kakak tega jika aku mengalami penyakit?"
"Jangan membodohiku KENZI, itu hanyalah alasanmu untuk terhindar dariku. Aku peringatkan kepada kalian bertiga, tidak ada yang boleh pergi dari ruangan ini," kata Al dengan lantang sembari menepukkan tangannya sebanyak 3 kali, datanglah Ben dengan beberapa atribut.
"Ben, lakukan seperti yang saya perintahkan. Kenzi dan El berdiri di sebelah sana sambil meletakkan apel di kepala kalian," ucap Al dengan santai seraya memakan apel.
Ben dengan cepat melakukan perintah, dia juga meletakkan beberapa balon di samping kiri kanan kepala, di bawah ketiak, di pinggir pinggang dan juga di bawah selangkang dengan memegang apel di atas kepala. Al mengambil sebuah alat pelempar seperti panah kecil dan juga penutup mata, Ben menelan saliva dengan susah payah saat melihat aksi Al yang sangat berbahaya. Tidak bisa di pungkiri, jika El dan Kenzi sangat ketakutan.
Al memulai dengan 2 anak panah dan melemparnya secara bersamaan, sementara El dan Kenzi hanya pasrah sembari menutup mata.
Panah itu berhasil memecahkan balon, Al kembali meningkatkan jumlah panah yang akan di lempar, dari 2 menjadi 4. Mereka yang melihat aksi Al hanya menutup mata berharap Kenzi dan El selamat.
Di lemparan terakhir, Al berhasil mengenai sasaran balon di bawah ************ Kenzi dan juga Al.
"Huff....masih untung juniorku baik-baik saja. Jika tidak bagaimana aku akan mengadon dengan Anna nanti," batin El.
__ADS_1
Al tersenyum puas, "untuk El dan Kenzi, kalian akan mengurus perusahaan beserta anak cabang sekaligus. Dan untuk Lea akan belajar memasak selama sebulan penuh, dan menyita seluruh foto-foto pria bodoh itu."
"APA?"