
Abian berjalan mendekat, memijat kaki Lea dan menghilangkan rasa terkilir dengan sangat cepat. Lea menatap Abian dengan dalam, "kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Lea yang memiringkan kepalanya.
"Hanya feeling saja dan aku kebetulan lewat di sini dan melihatmu yang terkena masalah, itulah akibatnya jika kamu jauh dariku," ucap Abian yang menggendong Lea dan mencari taxi untuk mereka.
"Feeling? itu tidak mungkin, mana ada yang seperti itu dan sangat mustahil," bantah Lea yang melingkarkan tangannya di leher Abian.
Abian menghentikan langkah kakinya dan menatap Lea dengan wajah yang tersenyum, "itulah yang akan kamu rasakan di saat mencintai seseorang dengan sangat dalam," ucapnya yang kembali melangkahkan kakinya. Lea yang tidak mengerti akan cinta hanya menautkan kedua alisnya.
"Apa segitu besarnya kamu mencintaiku?" tanya Lea yang penasaran.
"Kamu tidak akan sanggup mengukur nya, karena aku mencintaimu saat usiamu baru 1 hari," jawab Abian tanpa menoleh.
Lea hanya terdiam, Abian menghentikan taxi dan membantu Lea. Dia duduk di samping Lea dan meminta pak supir untuk menjalankan taxi nya menuju mansion Wijaya.
****
Al menggebrak meja kerjanya dengan begitu keras hingga membuat sang asisten terlonjak kaget sembari memegang dada menggunakan tangannya. Al menatap lurus dengan tatapan yang menusuk, dia sangat marah saat mengetahui jika Alan menargetkan Lea dan juga Shena. Dia mengetahui hal itu dari El dan juga seseorang yang memberikan informasi mengenai Lea yang dalam bahaya, untungnya Abian datang menolong tepat waktu.
"Ben, urus pertemuanku dengan Alan Wirawan," perintah Al dengan tegas.
"Sangat sulit untuk menemuinya Tuan," jujur Ben yang mendapat tatapan menusuk dari sang atasan dinginnya.
"Heheh....akan saya atur jadwalnya Tuan," sambung Ben dengan cepat meninggalkan ruangan presdir.
__ADS_1
"Huff....hampir saja aku menjadi santapan beruang itu. Tatapan tuan Al sangat mengerikan membuat bulu kudukku berdiri," gumam Ben di sepanjang perjalanan.
Ben cukup menguras waktu saat membuat temu janji dengan Alan pemilik perusahaan Antarna Corp, perusahaan nomor 2 setelah perusahaan Wijaya Corp. Alan tersenyum tipis saat Al ingin menemuinya secara pribadi, "katakan kepada tuan mu, aku akan menemuinya di sebuah restoran X yang terkenal di kota ini," ucap Alan yang menatap Ben yang merendahkan.
"Baik Tuan, saya akan menyampaikan ini." Ben pergi meninggalkan ruangan yang hawanya terasa pengap dan menyesakkan dadanya.
"Sepertinya ini akan sangat menarik," batin Alan yang memainkan pulpen di atas meja kerjanya.
Pertemuan Al dan Alan sangat menegangkan, aura kepemimpinan dapat di rasakan dari kedua asisten yang duduk bersebelahan di samping atasannya. Tatapan mata Al tidak pernah terlepas dari Alan, begitupun sebaliknya.
"Cepat katakan, ada apa kamu ingin menemuiku? kamu hanya punya waktu 10 menit, karena aku sangat sibuk," tutur Alan yang melirik jam tangan mahal nya.
"Kenapa kamu menganggu keluargaku?" ucap Al dengan raut wajah yang dingin.
Al yang geram menggebrak meja dengan sangat keras, berdiri seraya memegang menarik kerah leher Alan. "Jangan berpura seakan kamu tidak mengetahui nya, jika kamu masih menganggu keluarga ku, jangan salahkan aku untuk menghabisi nyawamu," ancam Al.
Gery berusaha untuk membantu sang atasan, sedangkan Alan terlihat sangat santai saat menghadapi emosi Al yang membara. "Aku tidak akan takut dengan ancaman mu yang murahan itu," cetus Alan yang melepas tangan Al yang menarik kerah lehernya.
"Sialan, berani sekali kamu melukai keluarga ku walau hanya segores saja, aku akan membunuhmu. Jangan coba-coba berniat untuk mendekati keluargaku," ujar Al yang memukul wajah Alan dan pergi meninggalkan tempat itu, di ikuti oleh Ben dari belakang.
Sementara Alan menghapus sudut bibirnya yang berdarah, dia tersenyum sinis menatap kepergian Al. "Aku tidak akan berhenti sebelum aku menjadi yang paling utama dari mu, Al Wijaya!" gumamnya yang masih terdengar oleh Gery.
****
__ADS_1
Al melangkah menuju mansion dengan perasaan kesal dan penuh amarah, dia sangat mengetahui jika Alan berambisi untuk mengalahkannya dari segi banyak hal. Raut wajahnya terlihat jelas oleh Shena yang sedang selonjoran menonton film di dalam kamar sambil mengemil cemilan.
"Kamu kenapa? apa sedang sakit?" ucap Shena yang menghampiri suaminya dan memeriksa dahi Al yang sedikit panas, karena Al terlalu banyak pikiran yang tidak pernah dia ceritakan ke orang lain.
" Aku tidak apa-apa," jawab Al yang membuka dasi yang terasa mencekik lehernya dan melemparkan nya ke sembarang arah.
"Tidak apa-apa bagaimana hah? suhu tubuhmu sedikit panas," omel Shena yang bertolak pinggang.
"Hanya kepala ku saja yang pusing, pergilah! lebih baik aku istirahat," usir Al.
Tanpa menghiraukan ucapan suaminya, Shena memijat kepala Al dengan telaten. Al yang awalnya memberontak tertahan saat Shena menggertaknya dengan menggigit bibir bawah dan melototinya. Al hanya pasrah, tapi lama-kelamaan dia menikmati pijitan yang dapat mengurangi rasa pusingnya.
Shena melihat wajah suaminya dengan seksama, "eh, aku hanya memijitnya sebentar tapi dia sudah tertidur? apa dia banyak pikiran dengan urusan kantor? jika dia tertidur wajahnya sangat damai dan terlihat sangat tampan, sangat berbeda jika dia terbangun dengan wajah kakunya. Aku tidak menyangka jika dia adalah suamiku, apa pernikahan ini akan berjalan mulus? sepertinya aku akan menyandang status janda, pernikahan ini terjadi karena kesalahpahaman saja," gumam Shena yang memikirkan masa depannya nanti.
"Sepertinya aku harus mengatakan kebenarannya kepada semua orang, terutama kedua orang tuaku dan juga mertuaku. Nasibku sangat tidak beruntung, apa di kehidupan sebelumnya aku mempunyai banyak kesalahan? bahkan di umurku belasan tahun sudah memegang status janda. Ah sudahlah, aku tidak ingin memikirkan nya terlebih dahulu," sambung Shena.
Dia tidak tau jika Al mendengar semua ucapannya dengan sangat jelas, Al juga memikirkan ke depan jauh sebelum Shena memikirkan itu. Dia juga tidak tau bagaimana perasaan yang sesungguhnya, tidak ingin kejadian saat dia mencintai Cantika yang ternyata hanya berkhianat kepadanya.
Al akhirnya tertidur 1 jam di pangkuan Shena, membuat sang empunya tidak sanggup untuk berdiri tegak karena pahanya sangat sakit saat menahan kepala Al.
Ingin sekali Shena berteriak kesakitan, tapi dia tidak tega membangunkan Al. Dia juga ikutan tertidur untuk mengurangi rasa keram di kedua pahanya.
Al yang terbangun dari tidurnya, melihat wajah cantik dan menggemaskan dari istri kecilnya. Dia menggendong Shena menuju ke atas tempat tidur dan membaringkan dengan sangat perlahan dan hati-hati, "pasti kaki mu sangat keram, kamu tidur terlihat sangat menggemaskan. Beban ku tadi seakan menghilang saat berdekatan dengan mu," batin Al yang menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Shena dan menatapnya.
__ADS_1