
Al menatap adik kembarnya yang sibuk dengan ponsel, membuat Al geram dan menghentakkan berkas yang berada di atas meja kerja miliknya. El melirik Al dengan sekilas dan kembali menatap ponsel yang kebih membuatnya tertarik.
Al mendengus kesal, "berhentilah memainkan ponselmu, bantu aku meringankan pekerjaanku," cetus Al.
"Tidak, urus saja sendiri," sahut El tanpa menoleh, dengan cepat Al mengambil ponsel itu dan melemparkannya ke dinding, hingga ponsel mahal milik El hancur.
"Ck, itu ponsel kesayanganku. Sudah 5 kali kamu melemparkan ponsel yang berharga milikku, aku ingin ganti rugi," desak El yang mengadahkan tangannya. Al melirik El dengan sangat tajam, "aku akan menggantikan ponsel itu, asal kamu membantuku dalam urusan kantor.
"Tidak, lebih baik ponsel itu rusak daripada aku harus bekerja dengan pria dingin sepertimu." El pergi meninggalkan ruangan itu dan berbalik, "aku sarankan agar kamu mencari asisten yang baru, karena aku sangat ingin bercuti tanpa melihat semua berkas yang membuat mataku menjadi sakit."
Al menatap kepergian El yang berjalan dengan santai, mengusap wajahnya dengan kasar. Terpaksa dia mencari seorang asisten agar dapat meng-handle segalanya, hingga dia menelfon seseorang untuk mencarikan asisten dengan sangat cepat. Al memutuskan sambungan telfon, lowongan pekerjaan yang sangat cepat tersebar.
Ke esokan harinya, banyak orang yang berbondong-bondong untuk mendaftarkan diri mereka menjadi asisten dari pria tampan dan berkharisma.
Al sangat senang dengan ketiga kandidat yang sangat pintar, hingga dia menjatuhkan pilihannya dengan seorang wanita cantik bernama Cantika. Gadis pintar lulusan terbaik di Universitas yang terkenal di kota itu.
"Selamat, mulai sekarang kamu bergabung dengan perusahaan ku." Al mengulurkan tangan kanannya dan di sambut cepat oleh Cantika yang sangat bersemangat.
"Terima kasih tuan, semoga anda menyukai kinerja kerja saya," ucap Cantika yang menyambut uluran tangan itu.
"Kamu mulai bekerja hari ini, apa kamu keberakatan?" ucap Al yang menatap dengan tajam.
"Eum, tidak tuan. Baiklah, saya akan bekerja hari ini," jawab Cantika yang sedikit ragu.
"Bagus," sahut singkat Al sembari melemparkan tumpukan berkas ke arah wanita yang sekarang menjadi asistennya. "A-Apa ini tuan?" tutur wanita itu yang terkejut.
"Pelajari semua berkas itu, dan berikan laporan kepada saya, jangan ada kesalahan. Karena saya sangat menyukai pekerjaan selesai dengan cepat serta rapi," ucap Al membuat Cantika menenguk salivanya dengan susah payah.
"Oh ya ampun, apa ini? aku baru bergabung di perusahaan ini, pekerjaanku banyak sekali! sungguh nasibku yang malang," batin Cantika.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam, cepat ambil dan kerjakan di ruangan ini."
"Tuan, apa ini harus di kerjakan olehku? maksudku, pekerjaan ini membutuhkan waktu lebih dari dua hari. "
Al menatap Cantika dengan tajam, "siapa majikannya?"
"anda tuan."
"Cepatlah bekerja, dasar pemalas," cetus Al.
"Baik tuan, akan saya kerjakan," jawab Cantika yang bergegas menuju tempat kerja yang telah di siapkan.
"Dasar pria dingin, baru saja aku masuk bekerja dan apa ini? ingin rasanya aku menangis dengan berkas ini, ya tuhan....bantu aku dan berikan aku kesabaran eksra untuk menghadapi papan triplek itu," batin Cantika. Al tersenyum tipis, saat mengetahui isi hati Cantika yang sangat mudah di baca lewat gesture wajahnya.
"Ck, semoga gadis ini bekerja dengan baik daripada El yang bodoh itu," batin Al yang ferus fokus di layar laptop.
****
El menghentikan langkah kakinya, terlihat seorang wanita berpakaian laki-laki serta mengunyah permen karet dan membuat gelembung, "hei, aku di sini!" ucap Anna yang memanggil El.
El menghampiri wanita itu dengan sangat antusias, "akhinya kamu datang juga, kenapa sangat lama sekali?" ucap Anna yang berdiri sembari memainkan permen karetnya di hadapan El, yang ingin membuat El serasa ingin muntah.
"Yaya....singkirkan permen lucknut itu," ketus El.
Sesuai dari permintaan El, Anna membuang permen karet di atas tisu putih yang selalu di bawanya kemana-mana, dan memasukkan sampah permen karet ke dalam saku bajunya membuat El memiringkan kepalanya.
"Eh, kenapa tidak kamu buang saja?"
"Kenapa? aku sangat suka mengoleksi permen karet bekas dan menyimpannya di dalam kantong bajuku, apa kamu ingin melihatnya?" ucap Anna yang melihatkan saku di depan dada nya yang besar. El meneguk salivanya yang salah fokus, Anna yang baru mengetahui arah mata itu dengan cepat memukul kepala El dengan sangat keras, membuat sang empunya meringis.
__ADS_1
"Sial, kenapa kamu memukul kepalaku?" ucap El yang mengusap kepala dengan tangannya.
"Dasar laki-laki mesum, bisa-bisa nya kamu mengambil keuntungan dari itu," ketus Anna yang menatap El dengan sinis.
"Jadi kamu menyalahkan aku? kamu sendiri yang memperlihatkan buah durian itu tepat di mataku, apa aku harus menolaknya?" jawaban El membuat Anna menghela nafas sedalam-dalamnya dan mengeluarkan dengan sangat hati-hati, dia melakukan itu sebanyak 3 kali.
"Lupakan itu, apa pekerjaan ku?"
"Bersihkan apartemen milikku yang sangat kotor itu, ikuti aku agar pekerjaanmu cepat selesai," ucap El yang kembali mengontrol hasratnya.
Sampai di sebuah apartemen milik El, Anna menatap seluruh ruangan dengan mulut yang ternganga. Sedangkan El tersenyum smirk.
"Apa kita salah memasuki apartemen?" ucap Anna dengan polos dan melirik El.
"Tidak, kita di alamat yang benar."
"Apa ini masih bisa di sebut apartemen? tempat ini sangat berantakan dan juga jorok, apa aku akan lembur?" batin Anna.
"Jangan terlalu banyak berpikir, siapkan dengan cepat. Aku ingin hari ini apartemen ku bersih sebersih-bersihnya, dan siapkan hari ini juga," ucap El yang tersenyum tipis.
Sementara Anna mengerjapkan matanya dengan cepat, seakan tidak percaya dengan semua yang dia lewati. Hanya bisa mengalah, Anna membereskan pekerjaannya dengan cepat keluar dari apartemen El.
"Aku harus cepat menyelesaikan pekerjaan ini, dan meninggalkan apartemen terkutuk ini," gumam Anna.
El memantau pergerakan Anna melalui ruang CCTV yang membuatnya, "dia sangat cekatan juga, tapi aku harus memberikan gadis itu pelajaran yang membuatnya kapok berurusan dengan keluarga Wijaya.
El menghampiri Anna yang sedang mengepel menggunakan kain, dia selalu mengeluh dan juga mengumpat El yang sangat miskin, karena apartemen mewahnya tidak ada sapu pel lantai.
El berjalan di atas lantai basah, membuat Anna menjadi geram. Dia berdiri dengan cepat sembari bertolak pinggang, dia melempar kain bekas lap lantai mengenai wajah El.
__ADS_1
"Sial, berani sekali kamu melemparkan aku dengan kain bekas pel itu," ucap El dengan dadanya yang naik turun untuk menetralisir dan meredam amarahnya.
"Kamu menginjak lantai yang masih basah," pekik Anna.