
Lucifer yang di kuasai oleh altar egonya, mengintai para pria yang mendekati Lea. Mengikutinya secara diam-diam, ada sekitar 3 orang pria yang sedang asik mengobrol. Lucifer/Max mengambil sebilah bambu kecil dari kantongnya dan 3 buah jarum di ujung bambu, ukuran jarum sangat lah kecil.
Sekali tiupan membuat ketiga pria itu tidak sadarkan diri, Max tersenyum menyeringai. Mengiring ketiga pria itu dan mengikatnya di sebuah pohon yang tak jauh dari sekolah dengan suasana sepi.
Max menyiram ketiga pria itu dengan air bercampur darah, membuat mereka tersentak kaget dengan tindakan orang bertopeng yang telah menyiram mereka. "Siapa kamu? kenapa kamu mengikat kami?," ucap salah satu dari pria itu yang bernama Bayu.
"Kami tidak mengenalmu, cepat lepaskan kami," tambah pria itu yang bernama Dimas, dia mengerutkan kening karena tidak pernah berbuat kesalahan kepada pria bertopeng itu.
Max menampar ketiga pria itu dengan sangat keras, "itu hadiah karena kalian mendekati Lea ku, atau nyawa kalian akan musnah," ancamnya.
"Kenapa hanya kami bertiga saja, bukan hanya kami yang mendekati gadis itu. Masih banyak pria di luar sana yang mendekati, siapa yang tidak tergoda dengan wanita cantik seperti Lea," tutur Bayu yang membayangkan wajah Lea yang sangat menggemaskan.
Max mengeluarkan pisau yang telah di asah tajam, sebelumnya yang tidak pernah di gunakan. Karena saat semenjak tinggal di mansion Wijaya, membuat altar jahatnya tidak pernah muncul. Lucifer berusaha sangat keras untuk memperbaiki situasi, dia tidak menyangka jika altar jahatnya kembali muncul saat Lea bersama dengan pria lain.
Max yang ingin membunuh ketiga pria itu terhenti karena ada seorang wanita yang memegang pergelangan tangannya dan tak sengaja terluka. Max sangat marah dengan wanita yang ada di hadapannya, berjalan dengan begitu santai, sembari memukul wajah Lea dan menimbulkan sedikit darah di salah satu bibir itu.
Lea membalas dengan memukul wajah Max dengan sangat keras, meninggalkan darah segar yang berasal dari sudut bibirnya. Max menghapus noda darah dan menyerang Lea secara bertubi-tubi, Lea hanya menangkis dan melihat seberapa kuatnya Lucifer saat di kendalikan oleh altarnya.
"Aku tau kamu bukanlah Lucifer bermata biru, melainkan altar jahat bernama Max dengan mata silver," ucap Lea.
"Hello baby, akhirnya kamu mengenaliku juga," ucap Max yang tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Tentu saja, cepat lepaskan mereka atau aku akan membuat mu menyesal nanti," tegas Lea.
"Lea, pergilah dari sini. Dia sangat berbahaya," celetuk Dimas.
"Jangan khawatirkan aku, pikirkan diri kalian sendiri," sahut Lea.
Lucifer yang sedang di kendalikan oleh altar jahatnya menyerang Lea dengan beruntun, Lea masih sanggu menahan serangan itu. Pertarungan yang sangat sengit dan memakan waktu yang cukup lama.
"Sial, ternyata dia sangat kuat," batin Lea yang terus menyerang, menangkis, dan menendang.
Max tersenyum tipis, dia mengeluarkan pisau kecil dan berhasil merobek punggung Lea sepanjang 5 sentimeter. Tak lama, pergerakan Lea melambat dengan otot yang sangat lemah. Yah, Max telah melumuri pisau itu dengan racun yang Lucifer buat.
Lea terduduk dan tidak bisa melakukan perlawanan, membuat Max tertawa mengerikan. Dimas, Bayu, dan Angga berhasil meloloskan diri dari ikatan tali yang melilit tubuh ketiga pria itu. Mereka melawan Max dengan semampu dan sebisa nya, walau mereka menyerang secara bersamaan tak membuat Max gentar.
Max menggendong Lea ala bridal style, "rasanya ingin sekali aku memukul wajah nya dan juga mencekik lehernya, Lucifer atau pun Max sama-sama membuat aku kesal," batin Lea yang menatap Max dengan tajam.
Jangan kan melawan, bergerak saja Lea tidak bisa. Beruntung ada mobil hitam yang menghadang perjalanan mereka. Lea membulatkan matanya saat melihat pria tampan bernama Abian, "lepaskan Lea," ucap Abian yang menatap Max dengan wajah tak bersahabat.
"Tidak, siapa kamu? jangan menghalangi jalanku," ketus Max yang pergi dari tempat itu. Dengan cepat Abian menendang Max hingga jatuh tersungkur, begitupun dengan Lea yang mengumpat Abian dengan sumpah serapahnya di dalam hati.
"Abian sialan, apa dia tidak memikirkan ku saat menendang Max? bokongku sangat sakit," batin Lea yang berteriak.
__ADS_1
"Berani sekali kamu menendangku, ingin mencari mati!" Max mendekati Abian dan menyerangnya, pertarungan yang sangat sengit di antara kedua pria tampan itu terhenti saat seseorang berteriak "BERHENTI."
Suara itu tak lain adalah Zean dan Nathan yang juga berada di sana, Zean selalu memantau anaknya dengan sebuah pelacak dan hilangnya beberapa racun koleksi Lucifer. Hingga dia mengetahui kapan altar jahat itu muncul.
Max yang seperti singa yang ingin mencabik-cabik Abian, kini berubah drastis seperti seekor kucing yang sangat patuh dengan tuannya. Ketakutan terbesar altar jahat adalah Zean, Ayahnya Lucifer.
Zean menatap Nathan yang telah menggendong putrinya dan meminta maaf kepada sahabatnya untuk kejadian ini, Zean kembali membawa Lucifer ke mansion miliknya.
Abian dan Nathan sangat mengkhawatirkan keadaan Lea, begitupun seluruh keluarga Wijaya. Nathan meminta Abian untuk memangku Lea yang belum bisa bergerak, sementara dirinya mengemudikan mobil bagai raja balapan menuju rumah sakit milik keluarganya.
"Lea bertahanlah, sebentar lagi kita akan sampai," ucap Abian yang ke sepuluh kalinya dia mengucapkan kata yang sama.
Rancun di tubuh Lea menyebar dengan cepat, membuat pandangan mata Lea semakin kabur, badan yang perlahan membiru membuat Abian menangis melihat kondisi Lea yang sangat memprihatinkan.
****
Di sisi lain, Zean mencambuk tubuh Lucifer yang masih di kuasai altar jahat, cambukan yang meninggalkan bekas yang memerah. "Kamu selalu saja membuat masalah, bukankah aku sudak memperingatimu," ucap Zean yang meninggikan suaranya.
"Aku mohon ampun, hentikan cambukan ini. Aku sangat tersiksa dengan ini," pekik Max yang akhirnya pingsan.
Zean menghela nafas dengan kasar, menghampiri putranya dan meneteskan air mata dengan sedikit isakan tangisnya.
__ADS_1
"Raya, kamu lihat apa yang aku lakukan terhadap anak kita? kamu lihat lah baik-baik. Aku sangat kesulitan untuk menghilangkan kepribadian gandanya, anak kita membutuhkanmu dan juga aku. Kenapa....kenapa kamu pergi meninggalkan ku, hari-hariku hampa tanpa mu," teriak Zean di sela-sela tangisannya yang memuncak.
Dengan cepat Zean menghapus air matanya, mengangkat tubuh Lucifer dan membawanya ke kamar. Zean menatap punggung putranya yang terluka akibat cambukan itu, karena hanya itu cara yang dia pikirkan.