
Dita selalu menantikan kabar dari sang putri dan juga menantunya, berjalan mondar mandir dengan perasaan kalut. Meremas jari-jari sambil sesekali menatap layar ponselnya yang belum ada panggilan ataupun pesan, perasaannya sebagai ibu membuat Dita di selimuti perasaan cemas.
"Tenangkan dirimu, mereka hanya ke Amerika selama dua minggu saja," ujar Nathan.
"Entahlah, aku sangat mencemaskan mereka."
"Berdoa saja, semoga mereka tidak apa-apa."
"Hem, kamu benar."
Keesokan harinya, Dita menunda ke butik sebelum mendengar kabar dari anak dan juga menantunya. Dia sudah menghubungi mereka tetapi ponselnya masih saja tidak aktif, "kenapa ini sangat lama sekali, mereka bahkan tidak menghubungi ku?" lirihnya.
Perasaan cemas yang hinggap di kepalanya berusaha untuk mengontrol dengan menonton televisi. Dia berjalan mendekati sofa empuk dan Mangambil remote dan menyalakan televisi, "ya tuhan....kenapa perasaan ku tidak bisa tenang, apa yang sebenarnya terjadi?" batinnya.
Kabar utama yang di lihat oleh Dita lewat televisi sangat mengguncang jiwanya, belalakan mata saat melihat kabar utama yang di siarkan secara langsung. Kabar mengenai pesawat yang di tumpangi oleh Lea dan Abian mengalami masalah hingga terjatuh dan sedang dalam pencarian. Seketika Dita berdiri dan terdiam, meneteskan airmata yang membasahi kedua pipinya dengan wajah yang datar. Mata yang terus mengarah ke televisi tanpa berkedip dengan tatapan kosong menjadi saksi bagaimana perasaannya yang tidak bisa di jabarkan dengan kata-kata
"Ini tidak mungkin....ini tidak mungkin," pekik Dita yang menangis histeris dan melempar remote televisi ke sembarang arah.
Suara Dita terdengar oleh semua orang, mereka yang sangat kaget dengan cepat menghampiri asal suara. Nathan menghampiri istrinya yang terus berteriak histeris, "ada apa? kenapa kamu begini?" tanya Nathan yang berlari memeluk istrinya.
Naina tak sengaja melihat berita jatuhnya pesawat yang di tumpangi oleh Abian dan Lea, dia membekap mulutnya dengan air mata yang menetes deras, Shena dan Anna juga melihat berita itu dan mereka saling berpelukan sambil menangis.
"Katakan kepadaku, jika itu bukanlah pesawat yang di tumpangi oleh mereka," ucap Dita yang mengguncangkan tubuh suaminya yang diam bagai patung saat melihat kecelakaan pesawat di berita terkini.
"Kenapa kamu diam saja, katakan jika itu bukanlah pesawat yang mereka tumpangi," teriak Dita yang memukul dada Nathan dengan sangat keras, hatinya hancur. Dita mengelap air matanya dan menghampiri Naina yang juga diam bagai patung, "Naina, katakan kepadaku jika berita itu tidak benar," desak Dita yang mengguncang tubuh Naina.
Dita kembali berjalan mendekati Bara, "katakan kepadaku kalau ini hanyalah mimpi," desak Dita yang menatap semua orang dengan sedih.
"Kenapa kalian diam saja! katakan kepadaku bahwa ini hanyalah mimpi. Aku....aku sangat yakin jika Lea dan Abian baik-baik saja," pekik Dita. Tubuhnya seakan lemas membuat Dita terduduk di lantai dengan menutupi wajahnya, cairan bening berhasil lolos di pipi Nathan yang memundurkan langkahnya.
__ADS_1
Bara mengambil ponselnya menghubungi twins L yang sedang bekerja.
Al meninggalkan rapat nya dan bergegas pulang ke mansion yang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, begitupun dengan El yang meninggalkan urusan markas.
Mereka sampai di waktu yang bersamaan, melangkahkan kaki dengan tergesa untuk masuk ke dalam mansion. Bisa di lihat bagaimana kondisi semua yang bersedih, "Papa katakan ada apa? kenapa semua orang sangat sedih?" tanya El yang menatap Bara dengan sangat antusias.
"Apa yang terjadi?" sambung Al.
"Terjadi masalah dengan pesawat yang di tumpangi Abian dan Lea, pesawat itu jatuh dan di perkiraan tidak ada yang selamat," lirih pelan Bara.
Al dan El terkejut dan tenggelam dalam perasaan masing-masing, El memundurkan langkahnya dengan menggelengkan kepala, "aku akan mencoba untuk melacaknya," batinnya.
"Aku sangat yakin jika tuan putriku dan Abian masih hidup, kerahkan seluruh kemampuan kalian," titah Nathan yang bergegas pergi menuju lokasi, di ikuti oleh Bara.
"Tunggu, aku ikut dengan kalian," kata Dita yang mencegat Nathan dan Bara.
"Tidak, lebih baik kamu di rumah!" jawab Nathan yang mengehela nafas.
"Naina, jaga istriku dengan baik," ucap tegas Nathan yang kembali melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa. Naina menahan tubuh Dita yang ingin ikut dalam pencarian, "Naina tolong lepaskan aku juga ingin mencari mereka."
"Jangan memaksakan dirimu, Kak. Lebih baik kita di sini saja, jika Lea dan Abian pulang, siapa yang akan menyambut mereka nanti," seloroh Naina untuk menenangkan Dita.
"Hah, kamu benar. A-aku akan memasak untuk mereka, pasti mereka sangat lapar," tutur Dita berjalan menuju dapur.
"Maafkan aku kak, sungguh aku tidak berniat untuk membohongimu. Tapi, aku berharap jika itu menjadi kenyataan," gumam Naina yang manatap punggung Dita dengan nanar.
sementara Al dan El mengerahkan seluruh kemampuan yang mereka miliki dengan menggunakan kekuasaan.
El berlari menuju ruang kerjanya, dan kembali menggunakan keahlian nya dalam pencarian. El terus mengutak-atik laptop dengan kecepatan jari yang tidak perlu di ragukan lagi, "aku masih ingat jika Lea masih menggunakan gelang pemberianku. Semoga saja gelang itu masih berfungsi," monolog El yang terus fokus dengan benda pipih di hadapannya.
__ADS_1
Al menghampiri El dan menggunakan kemampuannya yang sangat ahli dalam IT, berusaha melacak keberadaan adik dan adik iparnya.
"Apa kamu menemukan tanda-tanda?" ucap Al yang melirik El.
"Aku sedang berusaha."
"Lanjutkan."
****
"Saya sudah melakukan sesuai perintah tuan."
"Bagus, katakan kepada asistenku untuk mengurusnya. Aku akan sedikit terlambat, jaga dan awasi dia!"
"Baik tuan."
Pria itu mematikan sambungan telfon dan tersenyum menyeringai, "itu akibatnya jika berani berurusan denganku," gumamnya.
Seseorang mengerjapkan matanya dengan tangan dan kaki yang terikat, kepala yang terasa sangat sakit menatap sekeliling ruangan yang entah di mana dia sekarang. "Kenapa aku bisa ada di sini? di mana Lea?" ucap Abian yang celingukan mencari Lea. Dia berusaha melepaskan tali yang mengikatnya, tapi terhenti saat mendengar suara pintu yang terbuka.
"Akhirnya kamu bangun juga, bagaimana dengan perjalanan nya?" ucap pria itu yang menarik kursi menatap wajah Abian dengan tajam.
"Di mana istriku berada? cepat katakan!" tanya Abian yang meninggikan suaranya.
"Jangan berteriak atau aku akan membunuhmu di sini," ancam pria itu.
"Apa kesalahanku kepadamu, aku rasa tidak mengenal kalian?" tutur Abian yang menautkan kedua alisnya.
"Memang kita tidak saling mengenal, aku hanya tangan kanannya saja."
__ADS_1
"Tunggu dulu, bukankah kamu pria yang menabrak ku di bandara?" ucap Abian yang berusaha mengingatnya.
"Wah, ternyata ingatanmu sangat kuat juga ya. Setidaknya berterima kasihlah kepadaku yang telah menyelamatkan nyawa kalian. Karena apa? pesawat yang kalian tumpangi itu mengalami kecelakaan dan itu menguntungkan untuk kami." Pria itu tertawa menyeramkan dan memukul wajah Abian hingga tidak sadarkan diri.