
Usia kehamilan Dita sudah memasuki 9 bulan, hanya menunggu 2 minggu lagi dia akan melahirkan. Nathan selalu mengusap perut Dita sebelum melakukan aktivitasnya. Seperti biasa, Dita menyiapkan segala kebutuhan suaminya nya yang akan ke kantor. Sebenarnya Nathan sangat enggan untuk ke kantor, karena Dita bisa melahirkan kapan saja.
"Sayang, aku takut jika kamu bisa melahirkan kapan saja. Bagaimana jika kamu juga ikut bersamaku ke kantor, di mansion tidak ada siapa pun," usul Nathan.
"Baiklah, sini aku ikatkan dasi untuk mu," ujar Dita yang memasangkan dasi. Karena tinggi Dita hanya sedada Nathan, membuat Nathan terpaksa duduk di atas tempat tidur. Dia menatap wajah sang istri dengan dalam, wajah yang selalu hangat dan menenangkan.
"Kenapa kamu menatapku begitu?" ucap Dita yang mengetahui jika Nathan menatapnya dari tadi.
"Entahlah, aku merasa tidak puas menatap wajahmu." Dita tersenyum dengan ucapan Nathan, akhirnya dasi itu terikat dengan rapi.
"Sekarang kamu terlihat tampan dan juga rapi, bolehkah aku memelukmu?" ucap Dita.
"Kenapa bertanya? sini aku peluk, tubuh ini milikmu Sayang," sahut Nathan yang merentangkan kedua tangannya. Dita sangat senang dan memeluk Nathan sangat erat, pelukan yang sangat lama membuat Nathan terkekeh.
"Kamu memelukku seakan kita berpisah saja," ledek Nathan.
"Jangan lepaskan pelukan ini, entah mengapa aku sangat ingin melakukan ini," lirih Dita, Nathan dengan senang hati membalas pelukan yang sangat lama itu.
"Aku harus mengecek ketiga putra ku," sahut Dita yang melepaskan pelukan itu.
"Tidak usah, masih banyak pelayan yang mengurusi mereka. Ayo, aku akan menggendongmu untuk turun ke bawah."
"Tapi...."
"Tidak apa-apa, mereka juga tidak ingin kamu kelelahan karena sebentar lagi akan lahiran," sela Nathan yang menggendong Dita ala bridal style.
"Kenapa perasaanku tidak enak ya?" batin Dita.
Setelah selesai sarapan, Dita dan Nathan mengantarkan twins L dan Abian ke sekolah. "Ibu, kapan adik akan lahir?" ucap Al yang mengelus perut Dita.
"Dua minggu lagi,Sayang!" jawab Dita.
__ADS_1
"Kenapa sangat lama sekali?" gerutu El yang tidak bersemangat.
"Bukan kah kalian sudah menunggunya beberapa bulan, ini tidak akan lama. Kalian akan menjadi kakak, tunggulah selama 2 minggu lagi ya, " jelas Dita yang memegang dagu El.
"Kami mempunyai adik laki-laki atau perempuan?" tanya Abian dengan polos.
"Itu tidak seru, jika kalian mengetahui jenis kelaminnya sekarang, anggap ini sebagai kejutan," celetuk Nathan yang fokus mengemudikan mobilnya.
"Entah itu laki-laki ataupun perempuan, kalian harus mensyukuri nya. Ibu sangat berharap, jika kalian akan menyayangi dan juga melindungi adik kalian. Berjanjilah kepada Ibu," kata Dita yang menyodorkan tangannya.
"Kami berjanji," jawab twins L dan Abian yang menggenggam tangan Dita.
Mobil berhenti tepat di hadapan sekolah, Dita mencium ketiga putranya dan melambaikan tangan. Al menatap aneh ke arah ibunya, "kenapa ibu melambaikan tangan sangat lama?" batin nya. Bukan hanya Al yang merasakannya, tetapi El dan juga Nathan merasa aneh dengan Dita.
Di saat Nathan membuka pintu mobil, ponselnya terus berdering membuatnya sedikit jengkel. "Angkatlah dulu, siapa tau itu telfon penting," seloroh Dita yang risih dengan dering di ponsel Nathan.
"Baiklah." Nathan mengangkat telfon itu, ternyata yang menelfon nya adalah Wijaya yang membahas masalah kantor yang harus di tangani dengan segera. Sesaat sebelum masuk ke dalam mobil, tak sengaja Dita melihat ada penjual es serut.
Dita sangat berhati-hati, melirik kiri kanan jalan dan berjalan perlahan. Nathan membulatkan matanya saat menatap kejadian tak terduga, ponsel di tangannya terjatuh. Di depan mata, Nathan melihat dengan jelas tubuh istrinya yang di tabrak oleh mobil dengan kecepatan tinggi.
"DITAAA," teriak Nathan yang berlari mengejar Dita tapi terlambat, tubuh Dita terseret beberapa meter dengan tubuh yang penuh darah. Tabrak lari itu membuat orang-orang menuju lokasi, Nathan memangku Dita dan menepuk pelan wajah sang istri.
"Sayang....sayang, buka matamu," ucap Nathan yang sangat cemas. Dita berusaha membuka matanya dan dan memegang pipi suaminya, "a-apa pun yang t-terjadi, s-selamatkan ba-bayi ku," ucap Dita yang memegang perutnya yang sakit.
"Bertahanlah Sayang." Nathan memeluk tubuh istrinya. Tak lama mobil ambulance datang, dan membawa Dita menuju ke rumah sakit.
Twins L dan Abian melihat keramaian di depan sekolahnya, mereka penasaran dan menghampiri kerumunan itu. Sekilas Al melihat Dita dan juga Nathan masuk ke dalam mobil ambulance, "eh, itu Ibu dan Ayah. Kenapa Ibu penuh darah?" batin Al.
apa yang terjadi kek?" tanya Al kepada orang di depannya.
"Baru saja terjadi tabrak lari di sini," jawabnya.
__ADS_1
"Apa?" cetus Al yang memundurkan langkahnya.
"Apa yang terjadi Al?" desak El yang mengguncang tubuh kakaknya.
"I-Ibu mengalami kecelakaan," lirih pelan Al dengan air mata menetes.
"APA?" sahut El dan Abian serempak dan membekap mulut mereka dengan tangannya.
"Cepat hubungi semua orang, aku sangat yakin jika Ibu di bawa ke rumah sakit milik keluarga kita," desak El.
Dengan cepat twins L dan Abian menyusul Nathan yang menuju rumah sakit setelah menelfon supir.
Di sisi lain, Nathan mendorong brankar dengan perasaan yang sangat kacau, "Sayang bertahanlah."
"I-Ini sangat sa-sakit, selamatkan bayiku!" lirih Dita yang kesakitan dengan perlahan menutup matanya.
Nathan sangat khawatir dengan kondisi Dita dan juga bayinya.
"Maaf tuan, anda tidak bisa masuk kedalam," pinta suster yang menutup pintu ruang operasi. Dengan langkah tergesa-gesa, Antoni menghampiri Nathan.
"Berdoalah, aku akan melakukan tugasku sebagai dokter," ucap Antoni yang menepuk bahu temannya itu.
"Aku percayakan semuanya padamu, tolong selamatkan istri dan juga anakku," sahut Nathan dengan penuh harap. Antoni mengangguk dan masuk ke ruang operasi dengan ligat.
****
"Kami sudah menjalankan rencana bos," ucap seseorang dari telfon.
"Bagus, akan aku transfer sisanya."
Sambungan telfon terputus dan membuat orang itu tersenyum kemenangan. Dia tertawa bahagia karena rencananya berjalan dengan lancar, "hahaha....semua sesuai dengan porsinya, sebentar lagi wanita itu akan mati dan tidak ada yang merebutnya lagi. Aku sangat memujamu, tapi dia lebih memilih pria lain. Tidak semudah itu kalian bisa menyingkirkan aku, NATHAN WIJAYA. Kamu akan menderita sama seperti aku, begitupun dengan mu. Jika Dita tak menjadi milikku, maka tak seorang pun yang boleh memilikinya. " Dia tersenyum sangat puas sembari meneguk alkohol dan menatap foto pernikahan Nathan dan Dita.
__ADS_1
Yah, ini kecelakaan yang telah di rencanakan.