
Gadis cantik yang sedang bertempur di dapur, memegang sendok penggorengan dengan wajah yang bermasker tepung. Sesuai dari hukuman sang kakak, jika dia harus memasak selama sebulan penuh. Ingin sekali dia berteriak dengan sangat keras mengadukan nasibnya yang malang kepada sang Ibu dan juga Ayahnya, tapi dia tidak berdaya karena jika sang kakak sampai mengetahuinya, maka hukumannya bertambah 2 kali lipat.
"Apa kak Al ingin membunuh ku secara perlahan? bahkan dia juga menyita foto pria tampanku itu, bagaimana aku menjalani hari karena tidak melihat vitamin A?" Gumam Lea.
Menu yang ingin dia buat adalah ikan goreng dengan kuah saos, permintaan dari sang kakak. Jujur saja, jika Lea sangat kebingungan dalam mengenali beberapa bumbu dan juga tidak pernah ikut andil dalam membantu Naina dan juga Dita.
Lea mengambil beberapa ikan Nila, membersihkannya terlebih dahulu dan menggorengnya ke dalam minyak yang panas dengan santai, tapi raut wajah santainya berubah seketika saat kulitnya terkena cipratan minyak panas. "Aaagh....minyaknya sangat panas, oh ya tuhan bantulah aku," pekik Lea dengan heboh dan tak sengaja menumpahkan sayuran yang telah di potong dan di cuci bersih itu.
Lea kembali mendekati wajan yang berisi ikan Nila, berusaha untuk membolak-balikkan ikan agar tidak hangus, sekali lagi Lea terkena cipratan minyak panas dan dia kembali heboh.
"Sebaiknya aku akan menunggu saja hingga minyak itu tidak menciprati kulitku," gumam Lea yang menunggu. Karena panggilan darurat membuatnya pergi ke toilet dengan terburu-buru, hingga melupakan kompor yang menyala.
"Ini sangat nyaman sekali," ujar Lea yang baru saja keluar dari toilet. Dia kembali menuju dapur dan terkejut dengan api yang berada di atas kompor yang lumahan besar. Dengan cepat dan juga sigap, Lea
mengambil alat pemadam api dan mengarahkannya ke api yang mulai menyebar luas, tak butuh waktu yang lama untuknya memadamkan api.
Setelah di rasa cukup aman, Lea kembali mendekati wajan itu dan betapa terkejutnya dia saat melihat warna hitam pekat yang menyelimuti ikannya, bau gosong yang bisa tercium dari segala penjuru membuat Dita, Nathan, Bara, dan Naina datang menuju dapur.
"Oh ya ampun....apa kamu sedang berperang?" ucap Naina yang membelalakkan matanya.
"Dan tercium bau gosong di sini?" sambung Bara.
Semua orang terkejut dengan aksi Lea yang berhasil membuat dapur itu berantakan, sedangkan yang menjadi sang pelaku hanya mencengir kuda menatap keluarganya.
"Hehe....sepertinya ini bukanlah bidangku," ucap Lea yang segera kabur melarikan diri menuju kamarnya, sedangkan mereka hanya menatap kepergian Lea yang mulai menghilang dari pandangannya.
"Itu anakmu," celetuk Bara yang menatap Nathan.
"Yah, aku tau. Bukankah itu sangatlah keren, lihat bagaimana dia membuat kekacauan di dapur."
__ADS_1
"Hah, keren darimana nya?"
"Sudahlah, jangan di permasalahkan. Dia itu tuan putriku dan selamanya tetap begitu, jadi terserah dia saja. Bukankah dia hanya ingin berusaha untuk bisa memasak," bela Nathan yang hanya di balas Bara dengan tatapan jengah. Nathan bertepuk tangan 3 kali dan datanglah para pelayan, "kalian bereskan semua ini, dan ganti kerusakan itu dengan yang baru."
"Baik Tuan," patuh para pelayan dengan kompak. Mereka berempat kembali dengan rutinitasnya masing-masing.
****
"Bagaimana? apa kak Al masih menanyakan keadaanku?" tanya Vivian yang sangat cemas dengan dirinya.
"Itu benar, tuan selalu menanyakan keadaan Nona," jawab salah satu pelayanan yang di jadikan Vivian sebagai mata-mata.
"Baiklah, kamu boleh pergi."
"Baik Nona."
Vivian sangat cemas dengan hukuman yang akan dia terima, karena Al tidak akan melupakan perkataannya apalagi mengenai hukuman. Dia sangat tau bagaimana ketiga kakaknya di hukum, Vivian selalu membuat alasan agar Al tidak menemuinya. Keadaan Vivian sekarang sangatlah baik, dia selalu menghindari Al dan juga berpura-pura sakit saat Al memaksa untuk menemuinya.
"Aha....aku punya ide, hanya ini yang bisa aku lakukan yaitu mengungsikan diri ke apartemen milik kak El hingga kemarahan kak Al mereda," gumam Vivian yang mengemasi beberapa baju yang cukup untuk beberapa hari saja, dia membuka lemari pakaian dan menyambung kain dengan cara mengikat beberapa kain panjang menjadi satu.
Setelah di rasa cukup pas untuk kain itu sampai ke bawah, Vivian mengikat kain ke balkon dan mulai melempar tasnya. Dia menuruni balkon dengan bantuan kain yang telah dia ikat menjadi satu dengan perlahan, hingga tubuhnya berhasil sampai mendarat ke tanah,
dia melilihat sekeliling dan berjalan mengendap-endap untuk menghindari Al.
"Hehe....aman!"
"Ehem." Terdengar deheman seseorang membuat Vivian menoleh, terlihat seorang pria tampan yang duduk di atas kursi roda, pria yang ingin dia hindari.
"Kakak di sini?" ucap Vivian tersenyum yang memperlihatkan giginya.
__ADS_1
"Memangnya kenapa jika aku di sini? apa kamu ingin kabur dari hukuman ku?" ucap Al seraya menatap mata sang adik sepupu dengan menyelidik.
"Bukan begitu kak, aku hanya sedang berjalan-jalan saja untuk mencari udara segar."
"Berjalan-jalan dengan cara bergelayutan seperti monyet?" seloroh Al yang memiringkan kepalanya.
"Eh, kakak melihatnya?"
"Tentu saja, untung saja Shena membawaku keluar kamar dan melihat aksimu seperti monyet, bergelantungan di kain panjang itu. Apa kamu ingin menghindari hukuman dari kakak mu ini?" ucap Al yang tersenyum.
Vivian sangat tau arti dari senyuman yang di lontarkan dari kakak sepupunya, dia menelan saliva dengan susah payah. Ingin sekali dia membela diri, tapi apalah dayanya, seakan suaranya terasa tersekat di tenggorokan.
"Bukan begitu kak."
"Bukankah keadaanmu sakit? tapi ketika ingin kabur sangat lancar sekali," sindir Al.
"Heheh.... jangan memujiku kak."
"Aku akan memberi hukuman ringan untukmu, hukumannya adalah menyalin seluruh buku yang ada di meja kerja kakak dengan menggunakan tangan tanpa ada yang terlewati dan bantuan dari orang lain, itu karena kamu berusaha kabur dari mansion. Dan hukuman kedua , bersihkan kolom renang selama sebulan penuh. Lakukan keduanya tanpa bantahan dan juga penolakan jika tidak ingin di tambah dua kali lipat," tutur Al.
"APA?"
"Ayo kita pergi," ucap Al yang meminta Shena untuk kembali mendorong kursi roda dan berkeliling mansion.
"Baiklah," sahut Shena dengan patuh, mereka pergi meninggalkan Vivian yang masih syok dengan hukuman yang sangat berat untuknya.
"Aku ingin duduk di kursi itu, ayo bantu aku!"
"Duduk saja di kursi roda, itu sama saja," sahut Shena.
__ADS_1
"Itu sangat berbeda."
"Hah, baiklah." Shena hanya pasrah dengan permintaan Al yang menurutnya sangatlah aneh, sedangkan Al menikmati keadaannya yang selalu mencari kesempatan di dalam kesempitan.