
Di saat sarapan pagi, Bara dan Naina selalu saja tersenyum membuat Lilis menatap mereka dengan kebingungan. "Kenapa kalian tersenyum? apa penampilan ibu sangat lucu?"
"Tidak, ini masalah yang serius."
"Jika ini serius, kenapa wajah kalian tersenyum? cepat katakan, ada apa?"
"Akan ada kecambah baru yang akan membuat Ibu sibuk," jawab Bara dengan tersenyum.
"Katakan dengan benar, jangan membuat Ibu semakin bingung."
"Ibu sebentar lagi akan menjadi Nenek," ucap Bara yang menatap Lilis sembari mengelus tangan Naina.
Lilis tersenyum bahagia, dia menghampiri Naina dan menggeser tubuh Bara hingga terjungkal ke belakang. "Aduh," pekik Bara yang tidak di hiraukan oleh Lilis.
"Akhirnya Ibu akan jadi Nenek, jaga kandungan kamu. Apa Papa dan Mama kalian sudah tau dengan kabar gembira ini?" ujar Lilis yang menatap Naina dengan tanda tanya sembari melirik Bara dengan sinis.
"Belum Bu, kami akan memberikan kabar ini setelah sarapan," jawab Naina.
Selesai sarapan, Bara dan Naina menuju mansion Wijaya. Senyuman yang tak luntur dari kedua wajah pasangan itu, membuat twins L dan Abian menatap dengan heran. "Apa Papa dan Nana sedang sakit gigi?" ucap El yang melirik Al dan juga Abian.
"Entahlah! jika ingin jawabannya, ayo kita ikuti saja," celetuk Abian.
"Jangan buang waktu, ayo!" sahut Al.
Bara dan Naina mengumpulkan semua orang di ruang tengah, dengan wajah nya yang tersenyum membuat Nathan kesal, "ck, bicaralah. Ini sudah 10 menit dan kami hanya melihat senyum bodoh mu itu, katakan ada apa kamu mengumpulkan kami," kerus Nathan.
"Baik, akan aku katakan. Ada sesuatu hal yang akan aku sampaikan, sebentar lagi...." potong Bara membuat semua orang penasaran, hingga Nathan yang tidak sabaran itu melempar kan bantal kecil mengenai kepala Bara.
__ADS_1
"Katakan dengan jelas."
"Sabar lah, aku dan Naina sebentar lagi akan menjadi orang tua. Kerena Naina sekarang sedang hamil," ucap Bara dengan bangga. Semua orang bahagia, termasuk Novi yang memeluk Naina dengan haru, "selamat Sayang, sebentar lagi Mama punya cucu lagi."
"Makasih Ma."
"Apa itu artinya kami punya kecebong baru?" celetuk El dengan antusias. Sementara yang lainnya menatap El dan juga Nathan secara bersamaan, "apa yang kalian maksud dengan kecebong baru?" ucap Wijaya dan Novi dengan kompak.
El yang ingin mengatakan maksud dari kecebong baru terhalang oleh tangan Nathan yang membekap mulut El. Sementara Dita yang tau maksud dari El, hanya diam saja. Sedangkan Bara tertawa terbahak-bahak, "kali ini bukan kecebong baru, melainkan kecambah baru," sahut Bara dengan bangga.
Twins L dan Abian yang bingung, menghampiri Dita dengan wajah yang penasaran. "Apa keluarga kecebong sekarang beralih jadi keluarga kecambah Bu? apa proses dari kedua itu sama?" ucap Al dengan polos.
Dita sedang memikirkan alasan yang logis untuk membuat penasaran anaknya teratasi, dengan cepat Nathan menyelanya,"Tentu saja berbeda, karena keluarga kecebong lebih unggul dari kecambah yang sangat rapuh itu."
"Apa? kamu menantang ku?" protes Bara yang mendekati Nathan, dengan cepat Bara memiting leher Nathan dengan salah satu tangannya, sementara tangan yang lain berusaha mendekatkan wajah Nathan ke arah ketiaknya.
"Tentara khusus yang sangat lemah," cibir Nathan yang mengunci pergerakan Bara. Tak tinggal diam, Bara yang mendapatkan cela berhasil mengembalikan keadaan.
"Dan sekarang, mantan seorang Mafia yang kalah dengan tentara khusus." Tak sampai di sana, sekarang mereka saling mengejar layaknya Tom and Jerry.
"Apa Papa Bara Dan Ayah itu bagai Tom and Cat?" ucap El yang menatap gulatan seru itu.
"Mereka memarahi kita saat berlarian. Tapi apa ini? sekarang mereka lah yang berlari," tambah Abian.
"Lupakan bagian itu, bagaimana jika kita sedikit menambah kehebohan di dalam mansion ini," ujar El.
"Bagaimana caranya?" sahut Abian yang dengan wajah polosnya. Sementara Al dan El saling tersenyum smirk, "kamu tau apa yang aku pikirkan?" ucal El yang menatap Al.
__ADS_1
"Sebelum kamu memikirkannya, aku lebih dulu mengetahui nya," sahut Al dengan jengah.
Al berlari mengambil pistol air dan membagikannya kepada El dan Abian. Mereka bertiga memulai aksi dengan menembakkan air, hingga Nathan dan Daniel berhenti dan mereka saling menatap.
"Dasar nakal, lihat apa yg akan kami lakukan," ucap Bara yang mengejar twins L dan Abian. Mereka kalah pintar dari ketiga bocah itu, karena Al telah memasang jebakan membuat seluruh tubuh Nathan dan Bara di baluri tepung. Naina, Dita, Wijaya, dan Novi menatap kelima pria tampan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mereka seperti anak kecil," batin Novi.
****
Wanita berpakaian kebaya berwarna putih itu telihat sangat cantik, dengan sedikit polesan di wajahnya membuatnya memukau. Nurma hanya duduk diam, tanpa berniat melakukan apapun lagi, karena sekarang baktinya sebagai anak di pertaruhkan.
Pernikahan nya dengan anak dari Hendra bernama Gibran itu di gelar dengan sangat meriah. Sesuai amanat Ayahnya, dia rela menikah dengan Gibran karena balas budi dari keluarga Hendra. Jangankan untuk sekolah, makan sehari-hari masih mengandalkan keluarga Hendra yang kebetulan Sahabat Anton, Ayahnya Nurma.
Yah, Nurma bisa sekolah karena uluran tangan dari calon mertuanya. Ingin rasanya dia berteriak, tapi keadaan lah yang membuatnya tidak berdaya sama sekali. Pernikahan yang di gelar mewah itu, tak membuat Nurma bahagia. Dia hanya terpaksa melakukan balas budi kebaikan dari keluarga calon suaminya.
"Pernikahan ini tidak bisa di lanjutkan," ucap Daniel dengan tegas, acara itu terhenti dan menyorot ke asal suara. Nurma tidak percaya, saat melihat Daniel datang bak pahlawan kesiangannya.
"Siapa kamu? jangan ganggu acara sakral ku," ketus Gibran yang mengepalkan kedua tangannya.
"Nurma tidak akan menikah dengan mu, karena aku lah satu-satunya pria yang boleh menikahinya," tutur Daniel yang menghampiri Nurma serta memeluknya dengan erat.
"Tolong lepaskan pelukanmu dari tangan anakku, siapa kamu yang menyentuh putriku?" ucap Santi yang meninggikan suara.
"Heh, kamu tidak bisa membawa calon istriku. Karena keluarga mereka meminjam uang yang sangat banyak."
Daniel melempar sekoper uang ke arah Gibran dan tak sengaja terbuka, membuat beberpa tamu terutama Nurma terkejut dengan itu. Hingga Hendra mengambil koper itu dan membawa anaknya keluar dari pelaminan.
__ADS_1
Akhirnya Daniel menggantikan posisi Gibran untuk menikahi Nurma, menikah secara dadakan membuat sepasang kekasih berubah menjadi sepasang suami istri. Nurma sangat bahagia karena tidak jadi menikah dengan Gibran, begitupun dengan Anton dan juga Santi yang terbebas dari keluarga Hendra.