
Raut wajah yang murung di alami oleh Abian, menuntaskan sesuatu yang harus dia tuntaskan dengan segera. Mengusap wajahnya dengan kasar sembari menghela nafas dengan kasar, "padahal aku sangat bersemangat untuk menanti moment indah ini, tapi aku sangat tidak beruntung," monolog Abian.
Setelah menyelesaikannya, Abian berjalan menuju tempat tidur. Menatap wajah sang istri yang tengah tertidur pulas, "aku mencintaimu," lirih Abian yang mengecup kening Lea.
Di pagi hari, Abian terbangun dari tidurnya segera menuju kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci wajahnya, mengganti pakaian olahraga. Abian tersenyum saat menatap wajah Lea yang masih pulas membuatnya mengecup bibir sang istri yang menjadi candu baginya.
Abian berjalan menuju ruang fitness dengan celana pendek, kaos lengan pendek berwarna putih, dan sepatu putih. Tak lupa dengan headset bluetooth yang terpasang di telinga sebelah kanannya, penampilan yang sangat sempurna mampu membuat para kaum hawa berteriak memanggil namanya.
Abian meregangkan otot-otot dengan cara pemanasan terlebih dahulu, alat yang pertama yang dia gunakan adalah treadmill. Awalnya terlihat santai, lama-kelamaan Abian menambah kecepatan hingga mengeluarkan keringat.
Setelah puas menggunakan treadmil, sekarang Abian melatih ketangkasannya dengan meninju samsak, melindungi tangannya dengan kain. Bersamaan dengan itu dia mendapatkan panggilan masuk, Abian menekan tombol penerima yang terhubung di headset yang dia gunakan.
"Halo tuan."
"Hem, katakan!" sahut Abian yang terus meninju samsak.
"Ada tawaran yang menarik tuan."
"Tawaran?" Abian menghentikan aktivitas nya.
"Benar tuan, berberapa perusahaan ingin bekerja sama dengan perusaahan kita. Tapi ada sedikit masalah!"
"Masalah? katakan ada apa?"
"Mereka hanya ingin bertemu dengan tuan secara langsung untuk menyetujui kesepakatan."
"Berapa lama?"
"Sekitar dua minggu tuan."
"Aku baru saja menikah, bagaimana aku pergi selama itu."
"Hanya tuanlah yang bisa membuat mereka menyetujuinya."
__ADS_1
Abian memutuskan sambungan telepon dengan sepihak membuat seseorang di luar sana mengumpatinya dengan mengabsen beberapa nama hewan di kebun binatang.
Abian duduk di sofa sambil melempar ponsel yang berlogo apel di gigit itu sembarang arah, mengusap wajahnya dengan kasar. "Bagaimana aku bisa pergi ke Amerika, bahkan aku belum merasakan malam pengantin," racau Abian. Dia menghentikan aktivitas nya saat mendengarkan suara tawa dengan sangat keras, menoleh ke arah pintu dan terlihatlah twins L yang bertos ria.
"Ternyata ucapanku menjadi kenyataan, malang sekali nasibmu," cemooh El.
"Dan pekerjaan kembali memanggilmu," tambah Al.
"Pergi sana, kalian merusak mood ku saja."
"Tidak ada hak mu untuk mengusir kami, bukan kamu saja yang berolahraga di pagi hari," cetus Al yang menerobos masuk di ikuti oleh El.
"Berapa lama kamu pergi?" tanya Al.
"Sangat lama, asisten bodohku itu tidak bisa meng handle dan dengan terpaksa aku turun tangan. Aku akan pergi ke Amerika selama dua minggu," ucap Abian yang sedih, sedih akan malam pertamanya yang tertunda menjadi 2 minggu.
Al dan El saling melirih sambil menertawakan nasib Abian yang sangat malang, "nasib mu sangat tidak beruntung ya, kenapa kamu tidak mengajak Lea ke Amerika? anggap saja sebagai Honeymoon kalian," ucap El dengan santai.
"Eh, kenapa aku tidak memikirkannya?" gumam Abian.
"Lupakan itu, bagaimana jika kita berlatih bersama. Sudah lama kita tidak melakukannya," ajak Al.
"Baiklah," sahut El dan Abian serempak.
Kali ini mereka bertarung untuk melatih otot-otot yang mulai kaku karena sibuk dengan pekerjaan. Mereka saling melirik satu sama lain, dengan cepat El maju untuk melayangkan serangan kepada Al dan juga Abian. Refleks yang sangat bagus membuat Al dan Abian bisa menangkisnya, dan menyerang satu sama lain.
Di ruang keluarga..
"Apa kalian melihat El?" tanya Anna yang menatap Shena dan Vivian.
"Tidak, aku juga tidak melihat Al," sahut Shena yang celingukan.
"Cari saja di ruang tembak atau ruang fitness, aku sangat yakin jika mereka berada di sana. Ada apa mencari kak El, tidak biasanya begini?" ujar Vivian yang menatap Anna.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku minta kepadanya," jawab Anna yang pergi menuju ruang fitness.
Anna masuk menerobos membuat El menutupi mata sang istri dengan cepat karena Abian dan Al tengah membuka baju dan memperlihatkan bentuk tubuh mereka. Anna menyingkirkan tangan El yang menghalangi pemandangan yang sangat indah itu, "wow, ternyata mereka juga memiliki bentuk tubuh yang sangat luar biasa," gumam Anna tanpa berkedip.
"Sayang, jangan menatap mereka. Aku tidak ingin mata anakku terkena kutukan saat menatap mereka," cetus El yang terus menghalangi pandangan Anna.
El mendengus dengan kesal, menggendong Anna ala bridal style untuk menjauh dari saudaranya menuju kamar. Sedangkan Al dan Abian hanya tersenyum simpul dengan El yang sangat cemburu kepada siapa saja saat ada orang yang mendekati Anna.
"Sebaiknya aku pergi, Lea pasti sudah bangun sekarang." Al hanya menangguk dan juga meninggalkan ruangan itu.
Abian berjalan santai menuju kamar, dia mengambil handuk untuk mandi membersihkan diri dari keringat yang terasa sangat lengket. "Eh, dia belum bangun juga? bukan kah itu aneh," batin Abian yang melihat Lea masih pulas dengan tidurnya.
10 menit telah berlalu, Abian keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk sebagai penutup bagian sensitif milinknya. Rambut dan tubuh yang masih basah, membuat Abian sangat seksi dan juga menggoda.
"Tubuh atletisnya sangat sempurna, jika aku melihat ini setiap pagi, aku yakin imun dan kekebalan tubuhku meningkat pesat," batin Lea yang hanya berpura-pura tidur.
"Aku tau kamu sudah bangun, buka saja matamu dan jangan berpura-pura. Jika ingin melihat nya katakan saja, bahkan aku akan bertelanjang dada dan jika perlu melepas semua pakaianku untukmu," seloroh Abian yang tersenyum menggoda mendekati sang istri.
Lea yang sudah tertangkap basah berusaha untuk berakting dengan menggeliat juga sesekali menguap, "apa yang kamu bicarakan, aku baru saja bangun tidur, " ucap Lea.
"Jangan berbohong? aku mengenalmu dengan sangat baik," tutur Abian yang menarik dagu Lea dengan perlahan.
Sementara Lea menelan saliva dengan susah payah saat menatap tubuh seksi suaminya, tanpa sadar dia memegang perut yang berotot, "roti sobekku," batin Lea yang bersemangat di pagi hati.
Abian tak tahan dengan keberadaan Lea yang membuatnya kembali berhasrat, hingga dengan cepat ******* mulut manis merah merekah istrinya dengan penuh *****.
"Hemph"
Abian menjeda ciuman itu untuk bernafas sesaat, dan kembali melakukannya membuat Lea terus meronta, namun kekuatannya tidak sebanding dengan Abian. Abian tidak bisa mengontrol dirinya, dia menarik handuk yang melekat di tubuh dan memperlihatkan tubuh polos yang sangat menggoda iman.
Seketika itu juga Lea melototi matanya dengan lebar saat melihat benda pusaka Abian yang seakan mengamuk, "aaargh....anaconda berbulu," pekiknya.
Abian tidak menghiraukan teriakan itu, dia lebih tertarik dengan membuka baju sang istri. Aktivitas itu terhenti karena tangan Lea mencegatnya, "aku masih datang bulan, ini baru hitungan pertama masih ada enam hari lagi," cetus Lea yang menutupi wajahnya saat melihat benda pusaka milik Abian dan sesekali mengintip di sela-sela jarinya.
__ADS_1
Lagi dan lagi Abian mendengus kesal, mengacak-acak rambutnya dan mengusap wajah dengan kesal karena melupakan hal itu.
"Sial, aku melupakan hal itu dan kembali bermain solo. Ini benar-benar menyiksaku," umpat Abian yang bergegas masuk ke kamar mandi dan menyelesaikan hal yang sempat tertunda.