
Nathan, Dita, dan twins L sangat bahagia saat mereka menghabiskan waktu bersama, mereka menuju taman bermain sesuai permintaan Al dan juga El. Perasaan bahagia mempunyai orang tua yang utuh, Dita sangat bahagia melihat kedua putranya yang bahagia.
"Ibu, dorong ayunan ini," pinta Al yang menatap wajah cantik sang ibu. Sementara El mendongakkan kepalanya menatap sang ayah, "ayah, dorong ayunanku juga, " lontar El. Seketika membuat hati Nathan terhenyuh dan luluh akan sebutan yang di lontarkan oleh El.
"Coba kamu katakan sekali lagi, " desak Nathan.
"Ayah, " sahut El, dengan cepat Nathan mendekap tubuh putra bungsunya. Mulai sekarang panggil aku dengan sebutan itu, Ayah sangat menyukainya.
"Baik, Ayah," jawab mereka dengan serempak.
Kebersamaan itu membuat twins L mempunyai harapan untuk kedua orang tuanya, dimana mereka bisa merasakan mempunyai keluarga utuh, layaknya keluarga normal lainnya. Wajah kedua anak kembar itu menekuk membuat Dita dan Nathan saling melirik, dan menghampiri kedua putra nya.
"Kenapa dengan wajah kalian?" Dita membelai rambut kedua anaknya yang di ikuti Nathan.
"Ceritakan kepada ayah, siapa yang berani menganggu kalian, " tutur Nathan.
"Kami ingin mempunyai keluarga yang utuh, seperti keluarga pada umumnya" ungkap Al.
"Dan merasakan bagaimana kasih sayang keluarga seutuhnya," tambah El. Mendengar ungkapan dari twins L, Dita dan Nathan saling menatap satu sama lain.
"Jika itu membuat kalian bahagia, maka baiklah. Kami akan menikah dan menjadi orang tua yang lengkap untuk kalian, " keputusan Nathan merubah wajah twins L dengan cepat.
"Hore, kapan kalian akan menikah? " sambut twins L yang bahagia.
"Ayah akan mengurusnya, " sambungnya.
Twins L bertepuk tangan dan berlarian layaknya anak kecil pada umumnya, Dita dan Nathan menatap kedua putra mereka dengan tersenyum. "Aku akan mengurus surat pernikahan kita, jika kamu setuju," seloroh Nathan menatap mata Dita dengan sangat dalam.
"Aku setuju, demi kebahagiaan kedua anak ku," sahut Dita tersenyum membuat hati Nathan berbunga-bunga.
"Anak kita," ralat Nathan dan memegang kedua tangan Dita dengan sangat erat, Mysophobia nya seakan tak bekerja jika berdekatan dengan ibu dari anak-anaknya, melainkan sebuah candu baginya.
"Tapi bagaimana dengan pernikahan yang tidak di dasari oleh cinta, jujur! aku belum bisa mencintaimu, " ucap Dita yang menatap Nathan dengan nanar.
"Cinta akan datang dengan kebiasaan, kita jalani ini bersama-sama," sahut Nathan.
__ADS_1
"Jujur saja, aku tak ingin menikah tanpa di dasari oleh cinta," timpalnya.
"Anggap saja kita berjodoh," Nathan tersenyum sangat tipis tanpa di sadari oleh Dita.
"Hem! kamu benar," jawab Dita dengan mengangguk.
****
Nathan pulang ke mansion dengan wajah bahagia, menghampiri kedua orang tuanya sembari mengatakan niat baiknya yang ingin menikahi Dita.
"Nathan minta restu dari Mama dan juga Papa, karena Nathan akan menikah," kata Nathan yang mendapat respon terkejut dari kedua orang tuanya.
"Siapa wanita itu?" hardik Novi yang menolak pinggang.
"Wanita itu adalah Dita," tutur Nathan.
"TIDAK, Mama tidak setuju," terang Novi.
"Ini demi kebahagiaan kedua anak kami," sambungnya.
"Apapun alasannya, Mama tidak akan setuju. Apa bagusnya wanita itu? bahkan Karina lebih baik darinya, orangnya cantik, modis, dan yang paling penting dia lulusan terbaik di luar negeri. Mama ingin menantu yang pendidikannya sangat tinggi," sergah Novi yang meninggikan suara.
"Sudahlah, kalian jangan ribut. Dan Mama, jangan memaksakan kehendak sendiri," tegas Wijaya.
"Mama hanya ingin yang terbaik dari yang terbaik, Papa. Apa salahnya dengan itu? Karina wanita baik-baik, lulusan terbaik pula," puji Novi.
"Heh, aku sangat tidak yakin dengan itu. Dan aku, akan tetap menikah dengan Dita, " decit Nathan.
"Pernikahan itu tidak akan terjadi, tanpa restu dari Mama, " sahut Novi dengan tatapan tajam.
"Mama harusnya mengerti dengan ini, biarkan Nathan bertanggung jawab atas perbuatannya," tutur Wijaya untuk memberi pemahamam kepada istrinya yang keras kepala.
"Mama tetap gak setuju! jika Nathan ingin kedua anaknya bahagia, maka ambil saja hak asuhnya," usul Novi yang kekeuh.
"Mana bisa begitu? " protes nya.
__ADS_1
"Jangan egois, Mama juga seorang ibu. Coba bayangin, jika Mama menjadi Dita dan menjauh dari kedua anak kandung," Wijaya berusaha memberi pengertian.
"Terserah kalian saja, Mama tidak ingin berdebat dengan permasalahan ini, " ujar Novi akhirnya setuju dan membuat semua orang bahagia, tapi tetap saja Novi tidak bisa menyukai Dita.
"Walau bagaimana pun juga, aku tetap tidak menyukai wanita itu. Lihat saja bagaimana aku akan buat mereka akan bercerai nanti," batin Novi tersenyum smirk.
Nathan begitu bahagia saat ibu nya menyetujui pernikahan nya dengan wanita yang tidak membuatnya jijik. Senyum indah yang terukir di wajahnya yang tampan, dengan cepat Nathan ingin memberikan kabar baik ini kepada Dita.
"Hallo."
"Iya, ada apa?"
"Kedua orang tuaku sudah menyetujuinya, 3 hari lagi kita akan menikah."
"Secepat itu? aku perlu persiapan yang matang."
"Jangan khawatirkan itu, sekretarisku yang akan mengatasinya. Sebenarnya tidak baik memberikan kabar baik ini lewat telfon, tapi aku tidak bisa menahannya hingga besok."
"Baiklah, aku akan memberikan berita ini kepada twins L. "
Sambungan telfon terputus, Dita sangat antusias mengenai kabar baik yang baru di terimanya, walau Dita dan Nathan belum mengungkapkan perasaan masing-masing. Tidak peduli tentang diri mereka, yang terpenting Al dan El mempunyai keluarga yang utuh sesuai dengan harapan mereka. Dita menghampiri kedua anaknya yang sedang di sibukkan dengan ponsel mereka, dan mendudukkan diri di samping kedua putranya, "kalian sedang apa?".
"Bukan hal yang penting," jawab Al.
"Ibu punya kabar baik untuk kalian, " celetuk Dita yang menatap kedua putranya secara bergantian.
"Apa itu?" Sahut Al dan El yang tak kalah semangatnya.
"Sebentar lagi, kalian akan mempunyai keluarga yang utuh. Dalam 3 hari Ibu akan menikah dengan Ayah kalian, " ucap Dita.
"APA! siapa yang mengusul pernikahan kilat itu, Bu? " jawab Al.
"Apa ini usul Ayah? " tanya El yang menatap sang ibu dengan sangat serius, Dita mengangguk membuat kedua putranya mengangga.
"Wah, aku tidak menyangka, jika Ayah bergerak cepat, " timpal El yang menatap Al.
__ADS_1
Sementara di sisi lain, terlihat kamar bagaikan kapal pecah dengan barang yang berserakan di lantai. Bagaimana tidak, saat pria itu mendengar kabar dari bawahannya yang bertugas mengawasi Dita. Dia mengatakan jika Dita akan menikah dengan Nathan demi kedua putra kandung mereka. Rasa sesak yang di rasakan Randa, emosi, kekecewaan yang ada di hatinya, membuat Randa mabuk-mabukan.
"Kenapa, kenapa kamu lebih memilihnya dari pada aku? aku bahkan memutuskan hubungan dengan semua wanita teman kencan ku, hanya untuk diri mu!" racau Randa yang tidak sadar meneteskan air matanya.