
Abian dan Rayyan saling melempar tatapan sinis saat jamuan makan malam yang di adakan di mansion Zean. Sebenarnya bukan ke hendak dari Zean, melainkan Caroline yang terus membujuk Zean untuk mengijinkan nya mengadakan makan malam itu. Karena dia ingin, Abian dan Rayyan berteman baik. Selama ini dia memperhatikan jika Abian dan Rayyan tidak pernah akur dan memutuskan untuk memperbaiki keadaan kedua pria itu.
"Kenapa kalian saling menatap? ayo makan lah dan katakan bagaimana rasa masakan ku," ucap Carolin yang sangat antusias.
"Tidak biasanya Mom memasak, apa yang terjadi sekarang?" ujar Abian yang menatap Caroline dengan menautkan kedua alisnya.
"Hanya ingin saja, ayo makanlah. Kamu juga Zean, jangan hanya di lihat saja."
"Tampilan makanan ini sangat menarik? aku khawatir jika ini beracun dan yang aku lihat makanan ini tidak enak, " jawab Zean yang memperhatikan makanan di atas piringnya, sebenarnya dia sangat lapar, di tambah dengan aroma makanan itu membuat perut Zean berbunyi sangat keras.
"Tapi suara perut Daddy berkata lain ya," ledek Rayyan.
"Suaranya seperti katak yang meminta hujan," sambung Abian.
"Makanan itu aman, aku akan mencicipi semuanya." Caroline mencicipi semua jenis makanan yang dia masak di hadapan Zean, Abian, dan Rayyan.
"Lihat! aku tidak apa-apa. Jangan banyak drama, makan saja dan aku tau kamu sangat lapar," sambung Caroline yang menyuapi makanan itu ke dalam mulut Zean dengan sedikit pemaksaan.
Zean yang kesal, ingin sekali mengumpati Caroline atas sikap yang menurut nya kurang ajar itu. Tapi terhenti saat mencoba masakan Caroline yang sangat lezat, dia terus menyuapi makanan itu ke dalam mulutnya hingga dia ketagihan.
Rayyan dan Abian saling menatap dan melihat Zean yang makan dengan rakus, "apa itu Daddy mu?" celetuk Abian.
"Entahlah, aku rasa bukan. Kenapa Daddy terlihat seperti tidak makan selama 3 hari?" sahut Rayyan.
"Bagaimana dengan masakanku?" ucap Caroline yang menatap Zean sembari menopang dagu menggunakan kedua tangannya.
"Masakanmu terasa sangat aneh, dan juga sup ayamnya sangat hambar," cerocos Zean yang terus menyeruput sup.
__ADS_1
"Hem, jika tidak enak kemarikan makanan itu," cetus Caroline yang merampas semua makanan yang ada di hadapan Zean, hingga mereka saling tarik menarik yang di menangkan oleh Zean.
"Masakan nya sangat lezat, hampir sama dengan masakan Raya, baru ini aku menemukan rasa masakan yang hampir dengan Raya," batin Zean.
"Huh, dasar pembohong. Kalian berdua jangan melihat saja, ayo makanlah!" ucap Caroline yang melirik Zean dan beralih menatap Abian dan Rayyan.
"Selera makan ku hilang karena ada dia di sampingku," keluh Rayyan.
"Kamu pikir apa hah? bukan hanya kamu saja karena aku juga sangat muak dengan mu," jawab Abian yang tak suka.
"Mom, aku ingin pergi saja. Hawanya di sini sangat tidak sehat," ucap Abian yang ingin pergi dari mansion itu.
"Apa kamu tega dengan Mom yang sudah bersusah payah memasak hanya untuk kalian saja, setidaknya pergi dari sini dengan perut yang terisi," bujuk Caroline yang berpura-pura sedih. Abian menghela nafas nya dan kembali duduk.
Abian dan Rayyan kembali melempar tatapan sinis, membuat Caroline sangat gemas melihat tingkah mereka.
"Kenapa kalian tidak pernah akur? apakah kalian menyukai gadis yang sama?" celetuk Caroline.
****
Makan malam juga terasa mencekam dan juga canggung bagi Al dan juga Shena, mereka selalu menghindari tatapan satu sama lain.
"Kenapa dia selalu memperhatikan ku secara diam-diam? apa dia masih mengingat hal itu, bagaimana ini? bahkan aku sangat malu karena hanya dia yang melihat tubuh mulus ku ini. Andai saja aku bisa membenturkan kepala si kera mesum itu dan membuatnya hilang ingatan, andai aku punya kesempatan itu," batin Shena yang terus berandai-andai untuk membuat Al lupa akan kejadian itu sembari tersenyum jahil karena memikirkan ide gila yang ada di otaknya.
Sementara Al memperhatikan setiap raut wajah Shena yang berubah-ubah, "kenapa ekspresinya berubah saat menatapku diam-diam? apa yang dia pikirkan, aku sangat yakin jika gadis itu merencanakan sesuatu. Bagaimana caraku untuk melupakan kejadian itu? bahkan di dalam mimpi pun dia selalu ada, sepertinya aku sudah gila. Lebih baik aku menemui psikiater, tidak....tidak aku tidak ingin orang lain mengatakan jika aku tidak waras. Kepada siapa aku harus berkonsultasi? lebih baik aku tanyakan hal ini dengan sang ahli seperti Papa Bara," gumam Al di dalam hati.
Sebenarnya Al ingin menceritakan ini kepada Nathan, tapi menurutnya jika sang Ayah bukan ahli dalam bidang itu. Dan dia memutuskan untuk menemui Bara saat makan malam telah usai.
__ADS_1
Setelah makan malam telah selesai, Al dengan cepat menemui Bara di ruang tembak yang dulunya milik Nathan yang sekarang menjadi semua anggota keluarga.
Al mendekati Bara yang sedang fokus membidik sasarannya, dia sangat bingung untuk memulai pembicaraan itu.
"Apa apa menemui Papa?" ucap Bara tanpa menoleh.
"Ehem, ada yang ingin aku tanyakan kepada Papa," jawab Al yang menormalkan ekspresi di wajahnya.
Bara mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Al, dia menghentikan bidikan dan menurunkan pistol nya sembari menatap Al, "tidak biasanya kamu bertanya, katakan ada apa?"
"Bisakah kita mencari tempat yang nyaman untuk membicarakan ini?"
"Yasudah ayo!"
Bara sangat bosan melihat Al yang hanya duduk diam, "kamu bicara atau Papa pergi saja?" keluh Bara yang ingin beranjak pergi.
"Tunggu dulu, sebenarnya aku ingin membicarakan ini tapi tidak tau untuk memulainya darimana?" ucap Al dengan gugup.
"Baiklah, katakan saja intinya."
"Kenapa kita selalu membayangkan wajah seorang gadis hingga tidak bisa tidur?" pertanyaan Al membuat Bara terkekeh geli sembari menepuk pundak Al.
"Itu karena kamu mulai menyukai gadis itu, katakan siapa orang itu?" ucap Bara yang sangat penasaran.
"Itu tidaklah penting, aku pergi dulu," ujar Al yang pergi meninggalkan Bara.
"Bagaimana itu tidak penting jika kamu menanyakan hal itu," teriak Bara yang menatap punggung Al.
__ADS_1
Al masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu, membayangkan perkataan Bara dan juga menepisnya dengan cepat.
"TIDAK, itu tidak mungkin terjadi. Mana mungkin aku menyukai gadis kecil itu, wajahnya terbayang karena aku tidak sengaja melihat tubuh polosnya. Hah entahlah, aku sangat pusing memikirkan itu, lebih baik aku tidur dan melupakan segala perkataan Papa," gumam Al.