
Sepulang sekolah, twins L dan Dita berniat untuk ke kantor, membuat kejutan untuk Nathan. Mereka sangat bersemangat dan tidak sabar untuk sampai ke kantor, "pak udin, tambah kelajuan mobilnya," gerutu Al dengan kesal.
"Mobilnya sangat lamban, ganti dengan yang baru," tambah El. Al menatap adiknya dengan pongah, "apa kamu punya uang?"
"Apa kamu lupa? jika Ayah mengajarkan kita untuk menghabiskan uang, karena kita sangat kaya sekarang," tutur El dengan bangga.
"Itu namanya pemborosan, Sayang. Apalagi yang di ajarkan oleh Ayahmu, katakan segalanya?" ucap Dita tersenyum penuh arti.
Aku melupakannya Bu," jawab santai El.
"Bukannya mengajarkan anaknya untuk hidup hemat, ini malah kebalikannya. Lihat saja nanti, hukuman apa yang pantas untukmu, SUAMIKU," batin Dita tersenyum menyeringai.
"Ah iya, Ayah juga memperbolehkan kami memakan es krim. Kami sangat senang jika bersama Ayah," tambah El membuat Dita darah tinggi. Di sisi lain membuat seseorang bersin, "sialan, siapa yang berani membicarakanku?" gerutu Nathan yang mengusap hidungnya.
Mobil berhenti di halaman parkir yang telah tersedia, mobil yang berjejer rapi. Dita dan twins L turun dari mobil, dengan perasaan bahagia, mereka berlari meninggalkan Dita dengan jarak yang jauh. Tanpa menghiraukan suara sang Ibu yang memanggil nama mereka.
Twins L terkejut melihat pemandangan di depannya, wanita yang pernah mereka lihat di file lama milik Nathan, sekarang telah berdiri di hadapan mereka yang mendekati Ayahnya. Al dan El bersembunyi dan saling melirik satu sama lain, serta senyuman tipis yang hanya mereka berdua yang tau.
Celin meminum jus yang telah dia pesankan, duduk begitu anggun dan mengatakan maksud dan tujuannya untuk menemui Nathan, "Aku kesini hanya ingin meminta maaf pada mu. Sungguh, waktu itu aku di jebak oleh Farel, kami hanya menikah kontrak. Dan sekarang aku ingin kembali dengan mu," tutur Celin yang menyeruput jus.
3 menit kemudian, tubuh Celin terasa sangat gatal. Muncul bintik merah dan juga ruam di kulitnya yang mulus dan putih. Awalnya Celin berusaha menahan untuk tidak menggaruk tubuhnya, tapi tidak bertahan lama. Sementara Nathan menatap bingung ke arah Celin, "apakah kamu seekor monyet?"
"Ini sangat gatal, aku tidak tahan dengan ini. Tolong bantu aku dengan menggaruknya," pinta Celin yang penuh harap.
"Ck, aku alergi denganmu. Garuk saja sendiri," tolak Nathan yang menatap dengan sinis.
Sementara twins L tertawa terbahak-bahak, membuat Nathan dan Celin menatap ke arah mereka. "Kalian di sini?" ucap Nathan yang menautkan kedua alisnya.
"Tentu saja," jawab Al dengan santai masuk ke dalam ruangan Nathan.
"Nona, anda kenapa menggaruk seperti kera?" ledek El.
__ADS_1
"Tolong bantu aku untuk menghilangkan rasa gatal ini," ucap Celin yang terus menggaruk tubuhnya.
"Aku punya satu cara, tapi apa anda bersedia akan hal itu?" ujar El yang tersenyum sangat tipis.
"Jangan banyak bicara, lakukan saja. Yang penting rasa gatal ini hilang dari tubuh ku."
"Baiklah," jawab El yang berlari mengambil sebuah ember yang berisi air bekas pel lantai dan menyiramkan ke tubuh Celin, membuat Celin terkejut dan kesal.
"Apa yang kamu lakukan, dasar bocah nakal," teriak Celin.
"Ck, aku hanya membantumu, nona. Setidaknya ucapkan terima kasih kepadaku! lihat saja dengan tubuhmu yang sudah tidak gatal lagi," sahut El dengan santai, sementara Nathan dan Al menahan tawa yang sebentar lagi keluar.
Terdengar suara tertawa dari balik pintu yang sedari tadi memperhatikan kejadian itu, membuat semua orang menoleh.
"Akhirnya ibu sampai juga," cetus Al.
"Sayang, kamu di sini juga?" sambut Nathan yang memeluk istrinya dengan sangat mesra. Membuat Al dan El mengalihkan perhatian mereka karena sangat jengah dengan suasana itu.
Dita melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah Celin, "maaf, kamu siapa ya? pintunya ada di sebelah sana dan jangan lupa untuk mengganti pakaianmu, atau kamu akan sakit nanti," kata Dita yang tersenyum menyeringai.
"Nathan, apa kamu memaafkanku?" ucap Celin yang tak kehabisan akal.
Nathan melihat sang istri dengan wajah yang teduh, " aku memaafkanmu," jawabnya dengan singkat padat dan jelas tanpa menoleh ke lawan bicaranya.
Ada secercah harapan yang Celin rasakan, "apa itu artinya kita bisa balikan dan menjalankannya dari awal. Ayo kita menikah, dan tinggalkan mereka demi aku, wanita yang kamu cintai." Penuturan dari Celin membuat semua orang diam.
"Kamu pasti tau jawabanku," cetus Nathan dengan wajah yang dingin.
"Apa itu artinya, kamu memilihku?"
"Tante ini punya rasa kepercayaan diri melebihi Papa Bara. Pergilah bercermin sekarang, dan lihat riasanmu yang rusak, persis seperti kuntilanak tersungkur," cibir El.
__ADS_1
"Diamlah, aku tidak ingin mendengar kalian," ketus Celin yang menatap twins L dengan sinis.
"Aku sangat mencintai istri dan juga kedua anakku, dan sekarang kami sedang menanti kehadiran anak ketiga."
"Dan carilah kebahagiaanmu sendiri, karena Nathan suamiku."
"Aku tidak terima dengan itu," tolak Celin.
"Terima atau pun tidak, bukanlah urusanku. Jika kamu berniat menghancurkan dan memisahkan aku dari mereka, maka aku akan membuat mu hancur dalam satu jentikan jari ku." Nathan menatap tajam ke arah Celin, membuat Al dan El kagum dengan ucapan sang Ayah.
"Jangan mempermalukan dirimu lagi, pergilah dari sini. Atau Tante ingin di seret security?" tambah Al yang juga menatap dengan tajam. Karena Celin merasa kedinginan dan kalah telak membuatnya pergi meninggalkan ruangan presdir dengan perasaan kesal dan juga dongkol seraya mengumpati si kembar dan juga Dita.
"Kenapa dia bisa gatal setelah meminum jus itu," celetuk Nathan.
"Karena kami sudah mencampur obat rasa gatal seperti alergi ke dalam minuman itu," sahut El dengan santai.
"Untung saja kalian datang ke sini, aku sangat risih dengan keberadaan ulat bulu itu," keluh Nathan.
****
Pagi hari yang cerah, membuat semangat twins L yang akan berangkat ke sekolah untuk bertemu dengan Abian. Mereka sangat senang menginjakkan kaki di sekolah elit itu, mereka melihat dengan jelas saat Abian duduk termenung di bawah pohon, menatap lurus dengan pikiran yang kacau.
"Hei, apa yang kamu pikirkan," celetuk Al yang menepuk pelan bahu Abian.
"Bukan apa-apa," jawab Abian yang singkat.
"Ceritakan kepada kami apa permasalahanmu, siapa tau kami bisa membantu mu," tawar El.
"Kalian tidak akan bisa membantuku untuk masalah yang sedang aku hadapi. Pergilah, tinggalkan aku sendirian di sini," ketus Abian yang mengusir.
"Ada apa dengan mu? kami hanya bertanya, jika tak ingin membicarakannya ya sudah, ayo El kita pergi," ajak Al yang menarik tangan adiknya untuk pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1