Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 58


__ADS_3

Dita sangat risih dengan Zean yang selalu mengikutinya, "aku mohon, pergilah dari sini dan jangan mengikuti ku, " ucap Dita yang tegas yang menyatukan kedua tangannya menatap Zean dengan kesal.


"Apa begini sikapmu dengan orang yang menyelamatkan mu? " jawab Zean dengan santai.


"Aku tau, kamu lah yang menolongku waktu itu. Bukankah aku sudah berterima kasih dengan mu, dan kejadian itu sudah lama sekali, " timpal Dita yang pergi meninggalkan tempat itu, dengan cepat Zean mencekal tangannya.


"Jangan pergi dulu, ada yang ingin aku sampaikan. "


"Hem, baiklah. Waktumu tidak banyak, bicaralah."


Zean mengeluarkan sebuah kotak mewah dengan pita kecil di atasnya, dia membuka kotak itu memperlihatkan sebuah cincin berlian yang Dita yakini cincin itu harganya sangat fantastic.


"Will you marry me? " ucap Zean yang melamarnya dengan mendadak, sebelah tangan Dita di raihnya.


"Kamu jangan bergurau, pergilah dari sini, " usir Dita yang tidak menghiraukan ucapan Zean.


"Tidak, sebelum kamu menerima ku. "


"Apa kamu sudah gila? kita baru saja bertemu dan ingin mengajakku untuk menikah. Tapi maaf, aku sudah menikah dengan orang lain. " Mendengar penuturan Dita, membuat waktu seakan terhenti.


"Kamu pasti berbohongkan? untuk menghindari lamaranku, " ucap Zean yang mengusap wajahnya dengan kasar.


"Tidak ada untungnya aku berbohong. Lihatlah cincin yang melingkar di jari manisku. " Dita memperlihatkan cincin yang menghiasi jari lentiknya.


"Aku tetap tidak percaya sebelum bertemu dengan suami mu. "


"Aku mohon sekali lagi, tolong menyingkirlah dari jalan ku, ZEAN ANDERSON. "


Dengan terpaksa Zean melepaskan Dita untuk kali ini, dia menatap punggung Dita hingga menghilang. "Walaupun kamu mengatakannya, aku tetap tidak percaya, Tata. Kamu hanya milik ku, hanya aku yang bisa memilikimu, " lirih pelan Zean yang menatap kepergian Dita dengan tersenyum tipis.


****


Pria tampan yang sedang menyenderkan punggungnya, menatap layar ponselnya seraya tersenyum, mengetik pesan untuk kekasihnya. Dia adalah Bara, yang jadwalnya berkencan dengan wanita cantik dan juga seksi bernama Sisil. Bara bergegas membersihkan diri, dan bersiap-siap menemui teman kencannya di sebuah Cafe. Dengan pakaian kasualnya, dia terlihat tampan dan perfect.

__ADS_1


Melajukan mobil sembari menyalakan musik romantis untuk menambah semangatnya, mengemudikan mobil dengan santai, sesekali menyalip beberapa kendaraan.


Mobil berhenti di parkiran yang tak jauh dari tempat janjian, melangkahkan kakinya masuk ke dalam Cafe.


Bara menunggu teman kencannya, sesekali melihat jam yang melingkar di lengan tangannya. "Kenapa Sisil sangat lama? kemana dia, " gumam Bara yang sedikit kesal.


"Hai, maaf membuat mu menunggu terlalu lama, aku sempat terjebak macet, " ucap wanita cantik dan seksi itu.


"Untuk wanita cantik sepertimu, aku bahkan rela menunggumu 100 tahun lagi, " gombal Nathan yang mengedipkan sebelah matanya ke arah Sisil.


"Dasar gombal! wah, kamu memesan makanan kesukaan ku? " ujar Sisil yang melirik makanan kesukaannya dengan mata yang berbinar.


"Jangan panggil Bara, jika aku tidak mengetahui semua kesukaan dan favorit dari semua teman kencanku. Aku sudah mencatatnya di Notebook, hehe.... aku sangat pintar, " batin Bara yang tersenyum tipis


"Sayang, kenapa kamu tersenyum? ayo katakan padaku?" tutur Sisil yang menautkan kedua alis matanya.


"Tidak, aku hanya terpesona dengan mu, sayang. Kamu sangat terlihat seksi menggunakan gaun berwarna merah itu. "


"Aku menjadi tersanjung, " sahut Sisil dengan wajah yang bersemu merah. Mereka makan dengan khidmat, sesekali mengobrol untuk memecahkan kesepian suasana.


"Apa kami ada masalah dengan mu? " ucap Sisil yang tidak terima dengan perlakuan wanita itu.


"Aku tidak punya masalah dengan mu, tapi dengan pria di sampingmu itu, " ketus wanita itu.


"Mati aku, " batin Bara yang menangis.


"Sayang, apa masalahmu dengan wanita gila itu? " ujar Sisil yang menatap Dalam sang kekasih.


"Em.... "


"Pria yang kamu kencani itu kekasihku, " ketus Wanita itu dengan marah.


"APA? jelaskan maksud dari wanita ini, apakah itu benar? " Sisil menatap Bara dengan tajam.

__ADS_1


"Sayang, aku bisa jelaskan. Ini tidak seperti yang kamu kira, " bujuk Bara.


"Oho, jadi kamu tidak mengakuiku?" pekik Wanita itu.


"Jujur padaku, siapa wanita itu. " Sisil menunjuk wanita itu dengan tatapan sinisnya.


"Nama ku Mia, kekasih dari pria bengsek di sampingmu." Penuturan dari Mia membuat Sisil merasa sesak.


"Dasar playboy cap kadal buaya buntung, mulai sekarang jangan hubungi aku, " cetus Sisil yang pergi meninggalkan Cafe, tapi sebelum itu dia menampar keras pipi kanan milik Bara.


Bara memegang pipi kanannya yang memerah akibat tamparan itu, dia menatap Mia dengan raut wajah sedih dan penuh harapan. "Baby, maaf kan aku yang khilaf. "


"Ck, baru sekarang kamu mengakui ku. Dasar playboy tengik, kita putus. " Mia menampar pipi kiri Bara dan pergi meninggalkan tempat itu. Bara memegang kedua pipinya yang memerah dengan menatap kepergian Mia dengan Nanar.


Bara mengalihkan perhatiannya, di kala mendengar orang yang sedang menertawai nya. Di saat dia menoleh, benar saja. Wanita cantik yang sangat imut itu tertawa terpingkal-pingkal yang melihat nasib sialnya. Wanita yang sangat dia kenal, siapa lagi kalau bukan Naina Wijaya yang sedari tadi memperhatikan drama yang tak jauh darinya, sesekali menyeruput jus miliknya.


Bara menghampiri Naina dengan wajah yang sangat kesal, "berani sekali kamu menertawaiku? "


"Wah, harusnya aku merekam kejadian tadi dan menulisnya dengan artikel nasib sial sang playboy, " ucapnya di sela-sela tawanya.


"Jangan menertawaiku, kenapa kamu sangan pendendam padaku? apa kesalahanku padamu? " ketus Bara yang menatap menyelidik.


"Entahlah, aku melupakan penyebabnya. Tapi yang pasti, aku sangat menyukai keadaan mu sekarang, " jawab Naina dengan santai.


"Kamu selalu saja membuat aku sial, mengakulah jika kamu yang memasukkan obat pencuci perut kemaren, " cetus Bara yang menunjuk Naina.


"Oho, singkirkan jari itu atau jari itu tidak akan berada di posisi yang benar, tapi itu benar. Akulah yang memasukkan obat pencuci perut. Itu akibatnya, berani bermain-main dengan ku, " kata Naina yang menyeringai.


"Aku tidak takut denganmu, hanya seorang wanita manja yang tidak bisa melakukan apa pun, " cemooh Bara yang menatap Naina dari ujung rambut hingga ujung kaki. Naina yang kesal di katakan sebagai anak manja, mengepalkan kedua tangannya dengan mata yang tertutup. Pukulan dari Naina sangat lah kuat, hingga Bara hampir kehilangan keseimbangan.


"Wanita ini sangat kuat, hampir sama dengan Alexa. Hah, aku jadi merindukan mantan teman kencanku itu, " batin Bara.


"Bagaimana dengan pukulanku? apa itu masih bisa di sebut manja? "

__ADS_1


"Ck, pukulan mu tidak ada apa-apa nya. Aku hanya mengalah tadi, " kilah Bara.


__ADS_2