
El tersenyum senang karena dapat membodohi Kenzi dan juga Ben, mobilnya terhenti di sebuah rumah Anna. Memarkirkan mobil dan turun dengan begitu elegan, penampilan El yang memakai jas pakaian formal kantor membuatnya terlihat tampan dan berkharisma sebagai pemimpin. Bahkan Bonar yang sedang berkebun melihat kedatangan El dengan sejuta pesona, "dia cukup tampan, tapi aku lebih tampan dari bocah itu sewaktu seumuran dengannya," gumam Bonar di dalam hati.
Di saat El ingin menghampiri Anna yang sedang menyiram tanaman, tiba-tiba Jojo datang dan berlari menghampiri Anna. "Jojo, kamu kenapa?" tanya Anna yang mengerutkan keningnya.
"Maafkan Jojo yang tidak tau perasaan Anna, Jojo sangat mencintai Anna. Maukah Anna menjadi kekasih Jojo?" ungkap Jojo yang memberikan boneka Teddy Bear.
Belum sempat Anna menjawab, El lebih dulu merangkul Jojo dan mengeratkan tangannya yang melingkar di leher sang rival. "Wah....wah, kamu datang hanya untuk mengantarkan nyawamu? Anna adalah kekasihku, jika sampai kamu mendekatinya! jangan salahkan aku untuk memotong juniormu dan di berikan kepada si Jaguar," ancam El dengan penuh penekanan.
"Jangan mengaku untuk menjadi kekasihnya, aku sangat tau jika Anna menyukaiku di bandingkan dirimu," sanggah Jojo yang berusaha memberontak, tapi kekuatan El tidak bisa di remehkan oleh siapa pun termasuk Jojo.
"Kamu cukup berani juga ya? bagaimana jika tubuhmu aku berikan kepada si Jaguar, harimau kesayanganku."
"A-apa?" sahut Jojo yang terkejut, dia meronta untuk melepaskan diri dengan susah payah yang akhirnya di lepaskan oleh El. Mereka menatap kepergian Jojo yang berlari dengan tergopoh-gopoh karena sangat ketakutan saat El mengancamnya.
"Jangan selalu mengerjainya, bisa saja dia akan bermimpi buruk nantinya," ujar Anna.
"Aku tidak peduli dengan pria gemulai itu kesalahan nya sendiri yang berani mengungkapkan perasaan cinta kepada kekasihku."
"Lupakan saja, ayo duduk lah!" tutur Anna yang mempersilahkan kekasihnya untuk duduk.
"Ehem." Belum sempat El terduduk, tiba-tiba terdengar suara deheman seseorang yang tak lain adalah Bonar alias Pak Pitak. El menoleh dan sedikit terkejut dengan kedatangan Bonar bagaikan hantu, "eh, ada Ayah mertua," ucap El yang menyalami Bonar dengan senyuman yang menghiasi wajahnya, menampakkan deretan gigi putih dan juga rapi.
"Heh, aku belum merestuimu sama sekali. Lebih baik kamu membantuku untuk berkebun," ucap Bonar.
"Berkebun?" ujar El yang menautkan kedua alisnya.
"Hem, aku sangat capek dan kamu lanjutkan. Tanam beberapa bunga dan juga bersihkan kandang ayam, mandikan juga si jalu. Sedangkan aku membersihkan diri," kata Bonar yang masuk ke dalam rumah tanpa mendengar jawaban dari El.
__ADS_1
"Apa-apaan ini? pak Pitak selalu saja menyusahkan ku, kenapa aku terjebak dengan pria tua yang sangat menyebalkan itu? hah, aku harus menyelesaikan semua tugas dari pria tua itu dengan cepat," batin El.
"Aku akan mengerjakan semuanya," celetuk El dengan raut wajah sedihnya.
"Jangan bersedih, lakukan dengan baik. Jika terjadi kesulitan katakan saja kepadaku, aku masuk ke dalam dan membuatkan cemilan untuk kekasih tampanku ini," kata Anna yang memegang dagu El dan menatapnya dengan gemas.
"Hah, seketika hatiku berbunga-bunga dengan perlakuanmu." El yang gemas itu dengan cepat mencium kening Anna, "itu hadiah untuk mu dan penyemangatku untuk mendapatkan restu dari sang calon mertua," sambung El.
El berjalan menuju taman dan juga kandang, karena dia sangat bingung entah dari mana dia akan memulai semuanya. El seakan tak sanggup sendiri pun menghubungi seseorang lewat kontaknya, dia menghubungi sang asistennya di markas.
"Halo."
"Iya King, ada apa? apa ada situasi sulit?" tanya seseorang di seberang jalan.
"Datanglah ke alamat yang sudah aku kirimkan kepada kalian."
El mematikan sambungan telfon dan mulai mengerjakan tugas yang di bebani kepadanya. Tak butuh waktu lama bagi sang bawahannya yang bernama Roger dan Audrey datang untuk menghampiri sang
pemimpin Mafia Black Wolf.
El tersenyum bahagia saat kedatangan keduanya, "bagus, kalian datang di waktu yang tepat."
"Ada apa King?" tanya Audrey.
"Bantu aku untuk membersihkan kebun dan juga kandang ayam itu," perintah El ya yang menunjuk pekerjaan yang akan di limpahkan kepada kedua grup intinya.
"Maaf, sepertinya perutku sedikit bermasalah. Bolehkah aku permisi ke toilet?" ucap Roger yang memegang perutnya.
__ADS_1
"Baik, aku hanya memberimu waktu tujuh menit saja dan jika terlambat aku akan memecat mu dan memasukkan datamu ke dalam black list, jangan membohongiku. Kerjakan dengan cepat, " ancam El. Dengan cepat Roger dan Audrey mengerjakan pekerjaan nya, sementara El duduk bersantai dan sesekali mengawasi pekerjaan dari kedua bawahannya.
"Ck, aku kira ada apa? pakaianku sangat rapih tapi memintaku untuk membersihkan kandang ayam," batin Roger yang mengerjakan dengan pasrah.
"King selalu saja begitu, yang berkuasa tetap menang dan akan selalu seperti itu," umpat Audrey di dalam hati dengan kesal sembari menatap El yang tengah bersantai di sebuah kursi panjang.
****
Lea keluar dari mansion dengan cara mengendap-endap tanpa ketahuan oleh siapapun, kabur dengan keahlian parkuor yang dia kuasai. Melompati dengan meringankan tubuhnya, dari satu bagunan ke bangunan lainnya, hingga dia berhasil kabur dengan membawa kamera untuk membuat album baru untuk penyemangat hidup dan juga vitamin A di pagi hari. Kali ini tujuan Lea adalah pantai, karena dia sangat tau banyak pria bule dengan bertelanjang dada memperlihatkan perut sixpack yang sangat menggoyahkan iman Lea yang sangat dangkal itu.
Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai ke pantai, pemandangan laut dan pasir putih di bibir pantai menambah Panorama yang sangat indah, seakan terhipnotis jika sudah sampai di sana.
Lea mulai memainkan lensanya sembari mencari objek pria bule yang akan menjadi targetnya, karena dia sangat bosan dengan objek lokal.
"Hah akhirnya aku menemukan objek koleksiku," gumam Lea yang memotret, hingga pandangan lensa kamera menghitam. Lea ingin memeriksa kameranya yang ternyata tidak lah rusak, melainkan di tutup oleh tangan seseorang.
"Kenapa kamu selalu ada?" ketus Lea yang mulai kesal dengan kedatang seseorang itu yang tak lain adalah Abian.
"Kenapa kamu hobi sekali memotret para pria jelek itu."
"Ck, bilang saja kamu iri dengan bentuk tubuh pria itu yang sangat seksi." Abian yang kesal mulai membuka baju nya di hadapan Lea dan memperlihatkan dada bidang, serta roti sobek yang terpampang jelas di mata.
Lea yang melihatnya hampir meneteskan air liur, tidak di ragukan lagi jika Abian sangat lah tampan dan juga seksi, Abian menarik salah satu sudut bibirnya ke atas saat melihat Lea yang terpesona dengan roti sobek miliknya.
Abian menarik tangan Lea untuk memegang perutnya yang kotak-kotak, "wah, sungguh ciptaan tuhan yang sangat indah," gumam Lea yang terus memegang perut sixpack milik Abian.
Abian memeluk tubuh mungil Lea dengan sangat erat mencium pucuk kening Lea dengan sangat romantis.
__ADS_1