Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 112 ~ S2


__ADS_3

Abian menolak untuk tinggal di mansion Wijaya, karena dia tidak ingin jika keluarga yang sangat dia sayangi terancam karenanya. Profesinya yang sebagai pembunuh bayaran, membuat hidup Abian sengsara. Semenjak kecil dia selalu di latih dengan keras oleh Caroline, dan mengubah kehidupannya begitu suram dan kelam.


Dia menuju apartemen miliknya, dan merehatkan diri di kasur empuknya. Abian menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran melayang, "Lea, gadis yang sangat unik. Siapa dirimu yang sebenarnya?" batinnya.


"Hah, aku harus mengurus masalah Lea. Apa yang harus aku katakan kepada wanita itu? aku harus menyelesaikannya, dan memperingati Lea agar menghentikan hobi jeleknya itu," monolog Abian.


Abian menggunakan pakaian casual sembari mendengarkan lagu di headset miliknya, berjalan santai untuk menenangkan pikiran. Abian melewati gang sempit dan melihat seorang wanita yang di ganggu serta di lecehkan oleh para preman. Terlihat dengan jelas, jika wanita itu bukan berasal dari kota ini dan tersesat.


"Lepaskan dia," ucap Abian dengan tegas.


"Jangan menjadi pahlawan kesiangan, ini mangsa kami yang tidak akan kami lepaskan," ucap salah satu preman itu. Sementara preman yang lainnya meraba tubuh wanita dengan gaun yang sudah mereka robek.


Abian yang tak tega menyelamatkan wanita malang itu dengan waktu kurang dari 5 menit, berhasil menumbangkan ketiga preman. Wanita itu menatap Abian dengan penuh arti, dan mendekati Abian, "terima kasih sudah menolongku, aku tidak tau nasibku jika kamu tidak datang menolongku," ucapnya dengan tersenyum.


"Hem," sahut Abian yang kembali memasang headset yang terlepas dan pergi meninggalkan tempat itu. Wanita yang baru saja di tolong oleh Abian, mengikutinya sedari tadi.


"Berhenti mengikutiku," ucap Abian dengan raut wajah yang dingin.


Wanita itu memasang wajah sedih dan tak berdayanya, menatap Abian dengan penuh harapan. "Bisakah kmu menolongku sekali lagi?" pintanya.


"Tidak," tolak Abian dengan cepat.


"Ku mohon," rengek wanita itu. Abian menghentikan langkahnya, menoleh ke wanita yang berada di sampingnya sembari menghela nafas dengan kasar.


"Cepat katakan, waktumu tidak banyak," cetus Abian.


"Aku baru di kota ini, sebenarnya aku tinggal di Amerika bersama kedua orang tuaku. Mereka bangkrut dan kembali lagi ke Indonesia, berikan aku pekerjaan."


"Cari saja sendiri," sahut santai Abian.


"Ayolah, aku sangat membutuhkan pekerjaan," rengek wanita itu membuat Abian mengangguk. Karena perasaannya yang sangat senang membuat dia memeluk Abian dengan spontan.


"Jangan menyentuhku, siapa nama mu?" cetus Abian yang mendorong tubuh wanita itu.


"Aku Angela, dan siapa nama mu? " ujarnya yang menyodorkan tangan sebagai perkenalan.

__ADS_1


"Namanya seperti tidak asing di telingaku," batin Abian yang melirik Angela dari ujung atas sampai bawah.


"Aron," sahut singkat Abian yang tidak ingin identitas lama nya diketahui oleh semua orang.


"Baiklah, apa pekerjaan ku? tanya Angela yang bersemangat.


"Untuk sekarang tidak ada."


"Bolehkan aku menginap di tempatmu, aku tidak masalah jika kamu menjadikan aku pelayan mu," tawar Angela dengan tersenyum.


"Hem, terserah padamu. Asalkan tidak menganggu privasiku," ujar Abian. Angela tersenyum saat melihat Abian yang sangat memukau, seperti ada magnet yang membuatnya tertarik.


"Dia sangat tampan," batin Angela yang mengekori Abian dari belakang.


****


Lea menikmati sore dengan menggunakan sepeda, dia sangat senang dengan aktivitas yang rutin dia lakukan jika ada waktu luang. "Akhirnya aku bebas dari kedua kakak yang menyebalkan itu," gumam Lea yang menganyuh sepedanya dengan kecepatan tinggi, hingga dia tidak sengaja menabrak orang yang sedang jogging.


Lea turun dari sepedanya seraya menolong orang itu, "kamu tidak apa-apa? atau cedera?" ucap Lea yang sangat cemas.


"Tidak apa-apa bagaimana? lihatlah siku mu yang terluka karena tindak ceroboh ku yang tidak hati-hati. Ayo kita duduk di kursi itu, " tutur Lea yang menunjuk sebuah kursi panjang yang tersedia di sana. Orang itu mengikuti ucapan Lea, mereka berjalan menghampiri kursi panjang dan duduk.


"Maaf, aku tidak sengaja menabrakmu tadi," ujar Lea yang mengobati siku pria itu.


"Wanita yang sangat cantik dan menggemaskan," batin pria itu yang terus menatap wajah Lea.


"Jangan menatapku atau kamu akan terpesona dengan wajah cantikku ini," tutur Lea tanpa menoleh.


"Lucifer, dan siapa nama mu?" ujarnya sembari mengulurkan tangan dengan senyuman di wajahnya.


"Lea," jawab Lea yang singkat, padat, dan jelas tanpa menoleh ke asal suara. Walaupun laki-laki yang di sampingnya sangatlah tampan, tapi dia tidak menyukai laki-laki yang lebih muda darinya.


"Boleh aku meminta alamat mu? kota ini sangat baru bagiku, hampir 2 bulan aku berada di sini dengan orang tua ku," ucap Lucifer yang ingin memecahkan suasana hening.


"Tidak, lukamu sudah aku obati. Aku pergi dulu," ucap Lea yang pergi, dengan cepat Lucifer mencekal tangan Lea.

__ADS_1


"Tunggu dulu, aku tidak mempunyai seorang pun teman di sini. Bagaimana jika kita berteman," tutur Lucifer.


"Baiklah." Seseorang yang mengawasi Lucifer dan Lea sedari tadi dari dalam mobil merah gelap miliknya.


"Gadis itu seperti magnet yang semua orang dengan cepat menyukainya," gumam seseorang dari dalam mobil. Dia mengambil telfon dari saku jasnya dan menekan nomor yang menjadi tujuannya.


"Hallo!"


"Di mana kamu?"


"Tak jauh dari taman, ada apa?"


"Cepat pulang ke mansion."


"Baiklah."


Lucifer menatap Lea, "aku harus pulang, terima kasih telah mengobati siku ku yang terluka."


"Tidak masalah." Lea kembali menganyuhkan sepedanya, Lucifer melihat itu dan tersenyum tipis.


Sesampainya di mansion dengan wajahnya yang dingin, menatap orang tuanya dengan tajam, "jangan ganggu wanita itu," tutur Ayahnya yang tak lain adalah Zean.


"Aku tidak mengganggunya, hanya menawarkan pertemanan. Jangan mengkhawatirkan aku Dad," cetus Lucifer yang membalas tatapan Ayahnya.


Pernikahan Zean dan Raya tidak berjalan lama, karena Raya meninggal setelah melahirkan putranya. Kepergian Raya membuat dunia Zean seakan runtuh, hingga dia melupakan anaknya. Di saat anaknya berusia 10 tahun, dia mulai memberikan kadih sayang seorang Ayah dan juga Ibu sekaligus. Namun sayang, itu semua sudah terlambat. Dia baru mengetahui jika putranya memiliki kepribadian ganda, saat penyelidikan kasus terbunuhnya para pelayan dengan sangat sadis.


Zean sangat menyesal tidak memperhatikan putra semata wayangnya, bahkan dia melupakan ucapan Raya di detik-detik meninggal dunia.


"Jangan dekati siapapun, Dad sangat takut jika kamu melukai orang lain," ucap Zean dengan tatapan tajam.


"Aku hanya ingin berteman," sahut Lucifer dengan nada santai.


"Dad tidak ingin jika altar jahatmu keluar dan membunuh gadis itu," tutur Zean dengan cemas.


"Aku akan mengendalikan diriku, dan tidak akan membunuh gadis itu," yakin Lucifer yang sangat tertarik dengan Lea, walaupun Lea lebih tua darinya.

__ADS_1


__ADS_2