Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 217 ~ S2


__ADS_3

Kontraksi yang di rasakan Anna semakin terasa kuat dan juga teratur, hingga dia sendiri tidak bisa merasakan pinggangnya sendiri. Rasa sakit yang dia rasakan tidak bisa di katakan lewat kata-kata, Anna hanya memegang pinggangnya karena sudah tidak tahan dengan rasa sakit itu.


"Sayang bertahanlah, kamu pasti kuat untuk ini. Jangan khawatir dan tetaplah tenang ya," ucap El membuat Anna hanya menggeleng.


"Simpan saja perkataanmu itu, pinggangku sangat sakit. Pijatlah pinggangku yang rasanya mau putus," ucap Anna yang berusaha untuk mengatur nafasnya dengan sangat baik.


"Saya periksa dulu Nona," ucap doker Kinan yang memasukkan jarinya di bagian sensitif untuk memeriksa pembukaannya.


"Kamu kasar sekali, bagaimana jika mata bayiku terkena jarimu itu?" ucap El dengan kesal sembari menatap sang dokter.


"Oh ya tuhan....kenapa aku terjebak dengan kedua tuan muda yang sangat minim pengetahuan untuk lahiran," batin dokter Kinan yang menggeleng dengan pelan.


"Tenang saja Tuan, ini hanya pemeriksaan jalan nya sudah terbuka berapa senti. Dan masalah posisi sang bayi, tidak ada bayi yang mengadahkan kepalanya ke atas Tuan," jawab dokter Kinan yang menahan senyum.


"Ya baiklah, kamu harus lebih berhati-hati lagi," cetus El.


"Baik Tuan, saya akan sangat berhati-hati."


"Bagaimana Dok?" tutur Anna yang sedikit memahami tentang proses melahirkan dari internet.


"Pembukaan 7 Nona."


El menautkan kedua alisnya seraya memijat pinggang Anna dengan lembut, "apa maksudnya dengan itu?"


"Ada 10 pembukaan Tuan," sahut Dokter Kinan.


"Apa? istriku sangat kesakitan dan masih pembukaan 7?"


"Benar Tuan."


El menghela nafas dengan kasar sembari mengusap perut balon istrinya, "jangan menyusahkan Mommy kalian, semoga kalian berdua sehat di sana," tutur El yang mengusap dan mencium perut istrinya dengan sangat lembut.


El sangat siaga menjaga istrinya, kesabarannya patut di ancungi jempol. Anna selalu meminta El untuk mengusap pinggangnya dengan lembut, dan sedikit mengurangi rasa sakitnya.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian..


Dokter Kinan menginstruksikan Anna untuk melakukan tarik nafas dan buang nafas, "aku sudah tidak kuat lagi," tutur Anna yang menggeleng dengan cepat.


"Kamu harus kuat, kita berjuang sama-sama ya. Ayo sedikit lagi, lihatlah kepalanya sudah mulai terlihat," ucapan El yang membuat semangat Anna kembali bangkit.


"Ayo tarik nafas dan buang, dorong dengan sekuat tenaga," ucap dokter Kinan.


Bonar, Lolita, dan Panji telah sampai di rumah sakit dengan keadaan apa adanya yang kebetulan Bonar mengenakan kain sarung dengan baju kaos putih, yang membuat suasana tegang sedikit mencair.


"Bagaimana keadaan anak dan cucuku?" tanya Bonar yang menatap Nathan dengan antusias.


"Mereka masih di dalam."


"Semoga anak dan kedua cucuku selamat," gumam Bonar yang masih terdengar oleh Nathan yang mengulas senyum tipis.


Suara teriakan Anna di sertai dengan teriakan El membuat semua orang penasaran apa yang terjadi di dalam sana, dan tak lama terdengar suara bayi pertama membuat semua orang tersenyum bahagia.


"Bayi pertama laki-laki Tuan," tutur dokter Kinan yang menyerahkan bayi ke tangan suster. El mengusap pucuk kepala Anna dan mengecupnya dengan lembut, "kamu dengar? anak pertama kita laki-laki."


"Apapun itu aku tidak mempermasalahkannya," bisik El. Hingga obrolan mereka terhenti saat Anna kembali merasakan kontraksi yang sangat hebat, El dengan siaga menuntun istrinya agar tetap tenang dan berjuang dengan sekuat tenaga. Hingga suara bayi kedua terdengar membuat semua orang tersenyum bahagia.


"Selamat Tuan, bayi kedua juga laki-laki. Mereka sehat tanpa satu kekurangan apapun," tutur dokter Kinan yang memberikan bayi kedua kepada suster untuk di bersihkan.


"Ya tuhan, aku tidak percaya sekarang telah menjadi seorang Daddy," ucap El yang bersorak gembira. Anna tersenyum saat melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah sang suami.


Setelah bayi di bersihkan, suster memberikan kedua bayi laki-laki yang sangat tampan, persis seperti dirinya dan Al. Semua orang yang sudah tidak sabar untuk melihat pun berbondong-bondong untuk masuk ke dalam ruangan itu, terutama Bonar yang sangat bahagia dengan kehadiran cucu yang telah dia nantikan.


"Akhirnya aku mempunyai cucu sultan," batin Bonar yang selalu tersenyum.


"Selamat, kamu telah menjadi seorang Ayah," ucap Bonar yang tersenyum sembari memeluk El dengan erat.


"Bukan Ayah, mereka akan memanggilku Daddy dan itu terlihat lebih keren," ralat El yang membuat Bonar memukul kepala menantunya dengan perlahan dan tersenyum.

__ADS_1


"Dasar anak muda, terserah padamu saja," sahut Bonar yang tertawa.


"Selamat Anna, kamu telah menjadi seorang Mommy sekarang," ucap Lolita yang ikut bahagia akan hal itu, walau terselip rasa iri yang belum mempunyai anak.


"Terima kasih Kak, aku doakan agar Kakak segera menyusul," sahut Anna yang tersenyum.


"Hem," sahut Lolita yang tersenyum hambar.


"Apa kalian telah mempunyai nama untuk twins?" tanya Nathan yang menatap putranya.


"Sudah, aku akan menamai putra pertama NIKO WIJAYA dan putra kedua NIKI WIJAYA," ucap El yang bersemangat sembari menatap kedua putra kembarnya yang ada di gendongannya saat ini.


"Wah, itu nama yang sangat bagus," tutur Bonar yang di angguki oleh Nathan dan semua orang.


"Wah, ternyata cucuku sangatlah tampan. Persis sepertiku saat muda dulu," tutur Bonar yang menatap kedua cucu tampannya, sedangkan El menatapnya dengan jengah.


"Ck, tampan apanya? tentu saja kedua anakku sangat tampan karena menurun dari gen ku," batin El.


"Akhirnya aku bisa tidur dengan tenang," ucap Bonar dengan senyuman yang selalu mengembang di wajahnya.


"Apa ayah mertua akan meninggal dunia?" gumam El yang terdengar oleh Bonar.


"Apa kamu ingin menyumpahiku mati?" cetus Bonar yang menatap El dengan sinis.


"Aku tidak mengatakan itu, Ayah mertua saja yang selalu sensitif denganku," sahut El dengan polos membuat semua orang di sana tertawa dengan interaksi Bonar dan El yang sangat luar biasa, jika mereka berjauhan saling rindu dan jika berada dekat tidak pernah akur.


"Apa kami melewatkan sesuatu?" ucap Lea dan Abian yang baru bergabung di tengah-tengah mereka. Semua orang menoleh ke asal suara, kebahagiaan Dita bertambah saat melihat putri dan juga menantunya datang di saat moment yang sangat pas. Dita memeluk Anak dan menantunya dengan haru, "bagaimana keadaan kalian dan juga kelima keponakan ku itu?" tanya Lea yang sangat bersemangat.


"Kami sangat baik," jawab Dita yang mengulas senyum.


"Ini, gendonglah." El menyerahkan salah satu bayinya di gendongan Lea. Lea menggendong baby Niko, Abian menatap Lea yang sangat cocok menjadi seorang ibu. Hanya saja mereka belum di karuniai anak, tapi Abian tidak mempedulikan itu. Baginya Lea adalah segalanya, sedangkan seorang anak adalah bonus.


Sesuai kesepakatan bersama, ruangan Shena dan Anna di jadikan 1 untuk lebih memudahkan mereka dan menghemat energi.

__ADS_1


Zean dan Caroline datang dengan menggendong seorang putri yang berusia 1 tahun hadir di tengah-tengah kebahagiaan keluarga Wijaya, semua orang hadir kecuali Rayyan dan Kenzi yang sedang menempuh pendidikan di Paris. Semua orang berpose dengan sangat bahagia dan mengabadikannya menjadi sebuah foto.


...~TAMAT~...


__ADS_2