Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 166 ~ S2


__ADS_3

Lea sangat terkejut karena saat melihat Al yang berada di sana, tapi dia tetap melawan para bawahan Alan yang jumlahnya tidak lah sedikit. "Hah, sudah aku duga ini akan terjadi. Oh ya tuhan....tolong lindungi kami dari singa itu," batin Lea yang menatap Al dengan rasa bersalah.


Al mendekati adik perempuannya dan melempar shuriken ke arah musuh yang memanfaatkan kelengahan Lea, "apa yang kamu pikirkan? lupakan pikiran bodoh mu itu, dan mulailah fokus dalam penyerangan ini," titah Al dengan tegas tanpa menatap mata sang adik.


Lea mengangguk dan dengan cepat melumpuhkan para musuh yang seakan tidak ada habisnya, kedua kakak beradik itu menyatukan kekuatan mereka untuk melumpuhkan semua musuh. Al mengangkat tubuh Lea yang mengeluarkan pisau dari pahanya, menggores leher setiap musuh yang mendekat ke arah mereka.


Setelah musuh kian melemah, Al mengguncangkan tubuh Lea sembari menatapnya dengan dalam, "di mana Shena? di mana istriku hah?"


"D-dia ada bersama Alan, tapi kakak tenang saja. Karena Vivian ada di belakang Shena," jawab Lea yang sangat takut dan gugup menjadi satu, tidak berani menatap wajah sang kakak yang sangat kecewa dengan saudara-saudaranya yang menjadikan Shena sebagai umpan.


"Aku tidak ingin jawaban itu, di mana El berada?" ucap Al dengan dingin.


"Ada di dalam."


Tanpa menunggu waktu, Al menyelinap masuk ke dalam rumah itu, melihat situasi yang sekiranya aman untuk bisa mengendap secara diam-diam. Keadaan di rumah itu sedikit gelap, membuat Al di untungkan dari keadaan itu.


Banyak bawahan Alan yang membawa senapan api dan juga senjata tajam, berkeliling di dalam rumah yang sangat luas itu. Al melihat sebuah rantai yang berada tak jauh dari jangkauan nya, mengambilnya dan melilitkan di pergelangan tangannya.


Al melihat ada target yang mulai mencurigainya, dengan gerakan cepat dia melilit rantai besar itu ke leher musuh, menyeretnya ke tiang besar. Tanpa balas kasihan Al menarik rantai dengan sangat keras dan dalam hitungan beberapa detik, musuh tewas di tempat.


Kenzi terus menembak dengan pistol yang di lengkapi dengan peredam suara, membuat keuntungan berpihak kepadanya. Betapa terkejutnya dia saat melihat Al datang dengan penuh kemarahan, marah karena sang istri di jadikan umpan oleh keempat saudaranya dan marah kepada Alan yang sudah melewati batasannya.


Al mengkode Kenzi agar lebih fokus dengan targetnya, untung saja gerakan refleks Al sangat bagus bisa mengetahui ada musuh yang menyerang di belakang. Al memutarkan badannya, menendang sebuah pedang yang hampir saja melukainya.

__ADS_1


"Berani sekali kamu menyerangku dari belakang," kata Al yang melangkah ke arah salah satu bawahan Alan.


"A-ampun, jangan sakiti saya Tuan!" ucap nya yang menyatukan kedua tangan dengan tubuh yang gemetar hebat sembari memohon untuk pengampunan dari seorang Al Wijaya.


"Baiklah, katakan di mana bos mu?" Al tersenyum smirk.


"Ada di lantai ke dua, aku sudah mengatakannya. Ku mohon biarkan aku pergi," ucap pria itu yang di setujui oleh Al. Di saat berlari, Al mengeluarkan pistol dan dengan cepat menarik pelatuk pistol membidik pria yang merengek kepadanya, yang sekarang telah mati di tangan Al.


"Alan brengsek, aku akan memberimu pelajaran yang membuatmu sangat menyesal telah menculik istri ku," gumam Al yang memegang kedua pistol di tangannya.


Terdengar suara pistol bersahut-sahutan, El yang berhasil membuka pertahanan lawan menghampiri Alan yang membawa Shena, karena ini rencananya dan sudah menjadi tugasnya untuk melindungi istri dari kakak kembarnya.


Aksi El di ketahui oleh Gery yang tengah berjaga di depan pintu untuk berjaga melindungi Alan yang telah berhasil menyekap Shena. "Lepaskan Shena atau aku akan membuat mu menyesal karena telah berani menculiknya," ucap El yang mulai mempersiapkan dirinya, karena Gery tidak bisa di pandang sebelah mata.


"Brengsek," umpat El yang menyerang Gery.


Terjadi pertarungan di antara keduanya, Al yang melihat itu datang untuk membantu kembarannya untukelawan Gery sang asisten Alan. El membesarkan kedua pupil matanya saat melihat kedatangan Al, "mati aku," batinnya dengan keringat di dahi.


"Dasar adik durhaka, berani sekali kamu menjadikan istriku sebagai umpan," cetus Al yang melirik El sekilas.


"Hehe....tolong maafkan aku yang sedang khilaf ini," bujuk El agar bisa terhindar dari amukan Al.


"Jika saja Shena tergores sedikit saja, maka terimalah nasibmu yang berada di genggaman tanganku," ketus Al yang membuat El menelan saliva dengan susah payah.

__ADS_1


"Aku bisa jelaskan ini," sahut El dengan cengengesan.


"Heh, ternyata begini saja kekuatan dari Wijaya. Kalian masih sempat mengobrol hal yang tidak penting di saat keadaan genting," celetuk Gery yang tersenyum miring.


Al dan El saling melirik satu sama lain dan melayangkan pukulan mereka dengan serempak mengenai wajah tampan Gery yang meninggalkan bekas memerah. "Itulah akibatnya jika kamu ikut campur dalam pembicaraan ku dengan kak Al," ucap El yang hanya di tanggapi gelengan kepala oleh Al.


"Kamu urus dia, aku akan menghampiri dan membuat pelajaran kepada Alan. Aku akan menghukum kalian berempat nanti," ancam Al.


"Mati aku, oh tuhan....berikan dia hidayah untuk melupakan ancamannya," gumam El yang menatap kepergian Al.


Dia kembali fokus dalam menyerang Gery, sedangkan Al menerobos masuk ke dalam ruangan dengan cara menendang pintu dengan sangat keras, tempat Shena di sekap oleh Alan.


"Selamat datang Al Wijaya," sambut Alan yang merentangkan tangannya, Al melirik Shena yang di ikat di sebuah kursi dengan tali yang melilit di seluruh tubuhnya.


"Ck, tidak perlu berbasa basi," ketus Al yang memukul wajah Alan dengan keras.


"Sial, berani sekali kamu memukul wajahku," geramnya.


"Tentu saja, berani sekali kamu menyekap istriku."


Shena melihat kedatangan Al bagai penyelamat dan juga pahlawan penolongnya. Tak sengaja tatapan keduanya bertemu, Al menatap sang istri dengan sendu. Kemarahannya kembali memuncak saat melihat Vivian yang tergeletak di lantai dengan beberapa luka di tubuhnya.


Al menghirup udara dengan sangat dalam, mengeluarkan secara perlahan. Mengepal kedua tangannya dengan sempurna, tatapan mata yang memerah dari Al merupakan rasa sakit di dada saat melihat adik sepupunya pingsan tepat berada di depan matanya. Al membidik Alan dengan shuriken dengan secara bertubi-tubi, namun dapat di hindari oleh Alan.

__ADS_1


"Heh, shuriken mu tidak akan bisa melukai ku," ucap Alan dengan bangga. Al menyerang Alan dengan tangan kosong, serangan secara bertubi-tubi dia layangkan mengenai tubuh Alan. Pertarungan yang sangat sengit bagi keduanya terjadi di hadapan mata Shena yang ketakutan, berusaha melepaskan ikatan yang melilit di tubuhnya.


__ADS_2