Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 201 ~ S2


__ADS_3

Abian sangat marah dengan perkataan dari Roy, tatapan mata yang memerah serta rahang yang mengeras. Entah kekuatan dari mana hingga bisa menyentak rantai yang melilit di tangannya, kemarahan yang tidak pernah terjadi membuat jiwa psikopat nya muncul.


Kemarahan yang tidak terkendali itu membuat Abian terbebas dari rantai yang melilit tubuhnya, beberapa para penjaga berusaha menenangkan Abian bagai seorang singa yang mengamuk, menyerang setiap orang yang menganggu jalannya.


Beberapa penjaga kewalahan dengan saat menghadapi Abian yang terbebas dengan mudah, berjalan mendekat ke arah Roy dan menatap mata dengan tatapan membunuh. Roy memberikan kode kepada anak buahnya untuk menyuntik Abian dengan obat bius, tapi itu tidak bekerja sekarang.


"Lea adalah istriku, tidak ada yang boleh memilikinya selain aku. Dan jika ada maka orang itu harus mati," ucap Abian dengan raut wajah di dinginnya.


"Heh, kita lihat saja nanti," sahut Roy yang memasang kacamata hitamnya dan berlalu pergi dengan tersenyum miring.


"Dasar pengecut, ayo lawan aku!" pekik Abian yang di pegang oleh beberapa penjaga dan kembali menyuntikkan obat bius yang berhasil menebus kulitnya.


****


Sebenarnya Al dan El sangat berat meninggalkan istri mereka yang tengah hamil, tapi mau bagaimana lagi? nyawa sang adik sedang di pertaruhkan. Akhirnya mereka sampai di Paris dengan menggunakan helikopter keluarga Wijaya. Al dan El turun dari helikopter dengan sangat elegan yang di belakangnya ada Audrey dan Roger juga beberapa pasukan inti Black Wolf.


"Apa kamu telah menyiapkan semuanya?" tutur Al yang melirik El dengan sekilas.


"Tentu saja, beberapa senjata api dan senjata tajam sangat lengkap."


"Bagus, sepertinya ini sangat menarik," ujar Al yang tersenyum samar.


Ada beberapa mobil yang menjemput kedatangan mereka dengan banyaknya bodyguard. Twins L di dalam mobil yang sama, tidak ada obrolan di antara mereka yang sibuk menatap layar ponselnya.


Tak lama mobil berhenti, meraka turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam apartemen mewah itu. Tanpa menunggu waktu lagi, twins L duduk di meja kerja sembari mencari lokasi dengan meretas beberapa data. Tatapan fokus dari keduanya, terus mencari keberadaan Lea dan Abian.


El terus berkutat di layar laptop dengan kecepatan jari yang tidak perlu di ragukan lagi, tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. El mengembangkan senyumnya saat mendapatkan lokasi Lea, "dapat." Ucapan El sontak membuat Al menghampiri saudara kembarnya, dia sangat tidak sabar dengan kabar itu.


"Bagaimana hasilnya?"


"Aku berhasil melacak keberadaannya lewat sebuah jejak yang dia tutupi. Lihatlah lokasi ini dengan jelas," ucap El yang menunjuk layar laptopnya.


"Aku tidak mengenal daerah ini," sahut Al yang menyipitkan kedua matanya.

__ADS_1


"Tentu saja kamu tidak mengenal daerah itu yang hanya di ketahui oleh Leader Mafia Black Wolf seperti aku," tukas El yang membusungkan dada dengan bangga, sedangkan Al hanya menghela nafas dengan kasar.


"Yaya....terserah padamu saja, perintahkan semua pasukan inti untuk mengepung tempat itu."


El menatap Al dengan jengah, "lalu? apa pekerjaanmu?"


"Hehe....lupakan itu. Katakan dengan rinci bagaimana dengan lokasi itu."


"Tempat itu sangatlah tersembunyi cukup sulit untuk kesana," ucap El dengan santai sembari menyeruput minuman yang tersedia di mejanya.


"Apa kamu mengenal pemilik dari tempat itu?" ucap Al yang menatap El dengan penuh harap.


"Aku pernah memasuki kawasan itu tapi tidak tau siapa pemiliknya," lirih El yang tersenyum dengan cengiran kuda membuat Al merubah ekspresinya menjadi jengkel.


"Hehe....jangan seperti anak perawaan, atur strategi oleh mu dan aku akan memeriksa senjata yang kita bawa," pungkas El yang pergi menuju ruang persenjataan yang mereka bawa.


Di malam hari..


Twins L dan beberapa anggota inti menyusup ke lokasi yang mereka lacak dengan senjata yang telah melekat di tubuh masing-masing, mereka menggunakan Helikopter karena jaraknya yang sangat jauh dari mereka. Twins L berjalan maju sebagai pemimpin mereka, sedangkan Roger dan Audrey mengamankan bagian samping.


"Itulah kelebihan dari hutan ini, siapa saja bisa tersesat jika pertama kali datang kesini. Tapi tenang saja, ikuti arahan ku," jawab El.


Perjalanan mereka terhenti saat sampai di sebuah bangunan yang berdiri kokoh dengan megah, Mereka berjalan masuk dan menyusup masuk ke dalam bangunan itu sesuai strategi dan rencana dari Al.


****


Siksaan yang selalu datang bertubi-tubi membuatnya seakan mati rasa, Abian bahkan tidak merasakan pedihnya siksaan itu. Di benaknya hanya terselip kenangan indah bersama dengan istrinya, mengingat hal itu membuat Abian tersenyum.


Mirza memiringkan kepalanya saat menatap ekspresi Abian yang sangat berbanding terbalik, "tambah cambukannya," perintah Mirza kepada bawahannya.


"Baik Bos."


Tak lama, Roy datang ke penjara bawah tanah untuk memeriksa keadaan tawanannya yang sebentar lagi akan dia eksekusi, "tetaplah tersenyum seperti itu, sebelum aku melenyapkanmu." Roy berjan mendekati Abian dengan kondisi berdiri dan kedua tangan yang di ikat menggunakan rantai.

__ADS_1


Abian menatap asal suara seraya tersenyum meremehkan, "kamu bukanlah tuhan yang bisa memprediksi ajalku."


"Hidup ataupun mati mu ada si tanganku, tapi aku akan melenyapkanmu setelah pernikahan ku dengan Lea."


Abian yang sangat kesal itu meludahi wajah Roy, dengan tatapan kemarahan dan juga kebencian. "Lea adalah istriku, tidak akan ada yang bisa mengambilnya dariku," cetus Abian.


Roy yang merasa terhina, mengeluarkan pistol dan mengarahkan tepat di kepala Abian, "ternyata kamu punya keberanian meludahi wajahku." Abian tidak merasa takut sedikitpun, dia kembali meludahi wajah Roy dan tertawa.


Roy menarik pelatuk dan menembak Abian, suara tembakan yang terdengar nyaring di telinga. Abian kembali membuka matanya dan tidak ada satupun peluru yang mengenai wajahnya, untung saja twins L datang dengan beberapa pasukan di waktu yang sangat tepat.


Roy dan Mirza melindungi diri mereka dari tembakan twins L dengan kemampuan si kembar yang tidak bisa di ragukan lagi. Suara tembakan yang saling bertautan membuat Roy dan Mirza tersudutkan, "sial!" umpat Roy.


"Hei jangan lari dasar pengecut," pekik Al yang mengejar Roy dan Mirza.


El mendekati Abian dan melihat rantai yang mengikat kedua tangan, hingga El menembak rantai itu dan Abian dapat terbebaskan.


"Ck, jika saja pelurumu mengenai tanganku, aku akan membalaskan nya," racau Abian yang tersenyum.


"Itu lebih baik daripada kepalamu yang menjadi sasaran. Jangan senang dulu, aku melakukan ini agar adikku tidak menjanda di usia muda," sahut El yang juga tersenyum dan membantu Abian keluar dari penjara bawah tanah.


"Terserah padamu saja."


Roy dan Mirza yang lari karena kalah jumlah dan tersudutkan membuat Al membidik mereka dengan shuriken yang sudah di olesi racun yang mematikan saat tertancap di tubuh.


Bidikan kena sasaran membuat Al tersenyum samar, dan mendekati kedua pria yang telah menyekap salah satu anggota keluarga Wijaya. "Itulah akibatnya jika berani dengan keluarga Wijaya, racun itu akan merusak organ penting di dalam tubuhmu dalam waktu sepuluh menit," tutur Al tersenyum kemenangan.


"Brengsek," umpat Roy yang menahan rasa sakit yang teramat pedih.


"Tinggalkan saja mereka di sini, cepat cari adikku."


"Baik Tuan."


Mereka sangat kebingungan karena tidak menemukan keberadaan Lea yang sudah di cari kemana-mana oleh anggota Mafia.

__ADS_1


"Apa kalian mencariku?" dengan spontan mereka menoleh ke belakang, dan sangat bahagia saat menemukan Lea dalam keadaan baik-baik saja.


__ADS_2