
Sesuai rencana Al dan El saling berjauhan, mereka hanya ingin mengecoh musuh. Al kembali dengan rutinitas dan kesibukan di kantor, dia bekerja dengan sangat fokus. Sedangkan El lebih memilih untuk bermain game online bersama dengan Kenzi dan juga Lea.
Lea tidak begitu bersemangat, hingga dia memutuskan untuk ke kantor menemui Al. "Hei, selesaikan dulu game nya," teriak Kenzi yang menatap kepergian Lea.
"Tidak, sangat bosan jika aku selalu kalah," sahut Lea yang menghilang di balik pintu.
"Ya sudah jangan di pikirkan, ayo kita lanjutkan," ajak El yang fokus dengan game di ponselnya.
"Hem, apa kakak mengenal Paman Daniel?" tanya Kenzi yang menatap El.
"Tentu saja, kenapa kamu menanyakan itu?" jawab El tanpa menatap lawan bicaranya.
"Aku mendengar dari Papa, jika Paman daniel dan keluarganya akan menetap di indonesia."
"Terus? apa hubungannya dengan ku?" cetus El yang jengah dengan pertanyaan Kenzi.
"Yang aku dengar dia akan tinggal di mansion ini untuk sementara waktu, setelah mendapatkan rumah yang sangat cocok untuk mereka," celetuk Kenzi.
"Hah, kamu ini pria atau wanita? sangat cerewet sekali, lupakan itu dan fokuslah dengan game," ujar El.
"Aku hanya memberikan berita saja."
"Dan aku tidak peduli," sahut El dengan cepat.
****
Lea mengendarai motor sport milik El, yang tidak di ketahui oleh pemiliknya. Lea terlihat sangat keren saat menggunakan jaket kulit, di Padupadankan dengan celana andalan seperti jins serta memakai sepatu sneakers berwarna hitam.
Motor berhenti di dekat parkiran yang tak jauh dari gedung pencakar langit yang menjadi tujuannya. Wajah yang sangat cantik membuat para karyawan pria kehilangan fokus mereka dan Lea tidak mempedulikan itu.
Tidak ada yang berani menghalangi Lea untuk masuk ke dalam ruangan presdir, karena sebagian orang telah mengenalnya. Berjalan memasuki ruangan dan dengan cepat di cekal oleh wanita cantik yang menghadangnya untuk masuk.
"Maaf, nona tidak bisa masuk ke ruangan presdir yang sekarang sedang sibuk."
"Minggir, jangan halangi jalanku," ketus Lea.
__ADS_1
"Ini sudah jadi tugasku," ucap orang itu yang tak lain adalah cantika.
Lea mengeluarkan ponselnya seraya menelfon Al yang berada di ruangannya. Al sangat senang dengan kedatangan sang adik, dia memerintahkan Cantika untuk membuka pintu.
"Ada apa kamu kesini?" tanya Al.
"Itu tidak penting sekarang, ada sesuatu yang ingin aku katakan kepada kakak."
"Apa itu?"
"Tapi aku hanya ingin berbicara 4 mata saja," ucap Lea yang melirik Cantika. Al menggerakkan jarinya untuk mengusir Cantika dari ruangannya, hingga tinggal lah kedua kakak beradik itu yang saling menatap dengan serius.
"Aku menemukan sebuah mata-mata yang bekerja sama dengan nyonya Caroline."Penuturan dari Lea membuat Al sangat tertarik dengan itu, dia mendekati Lea.
" Siapa dia?"
"Wanita yang baru saja keluar," sahut Lea dengan sangat yakin.
"Bagaimana mungkin? dari wajahnya saja tidak meyakinkan," cetus Al yang sedikit kesal dengan jawaban dari Lea, karena dia mulai mencintai Cantika.
"Wajah bisa menipu, tapi itu lah yang terjadi. Aku sudah melacak data mereka, jika kakak ingin bukti, maka lihatlah ini." Lea melemparkan sebuah flashdisk ke arah Al yang dengan cepat memeriksa file yang ada di dalam nya.
"Bagaimana ini bisa terjadi? bahkan aku sendiri bisa terkecoh oleh wanita itu," tutur Al yang mengepal kedua tangannya.
"Karena kakak mencintai wanita itu, membuatmu terlihat sangat bodoh dan buta apa yang di kerjakan olehnya secara diam-diam."
"Tunggu dulu, bagaimana kamu mengetahui hal ini?" ucap Al yang menautkan kedua alisnya.
"Karena aku sangat pintar," sahut Lea yang membanggakan diri.
"Hem," balas Al yang jengah dengan adiknya memuji diri sendiri.
"Singkirkan perasaan kakak kepada wanita itu, di dunia ini sangat banyak sekali wanita seperti dia dan bahkan lebih. Hidup ini indah saat kakak menikmatinya, aku hanya memberitahukan apa yang aku ketahui. Dan selanjutnya aku serahkan kepada kakak," kata bijak dari Lea yang meninggalkan ruangan presdir, dia berjalan dengan sangat elegan seraya menatap Cantika dengan sinis.
"Kenapa dia menatap ku begitu?" gumam Cantika yang mengerutkan keningnya.
__ADS_1
****
Karena rencana yang telah dia lakukan gagal, kembali membuat rencana cadangan, yaitu menculik Lea dan meminta tebusan berupa 75 persen harta kekayaan Wijaya yang berganti nama dengan nya.
"Aku sangat yakin jika rencana terakhirku ini berjalan dengan sempurna," ucap Caroline yang tertawa jahat.
Dari data dan informasi yang dia dapatkan, Lea hanyalah gadis dengan IQ standar dan tidak memiliki kemampuan apa-apa, sangat cocok untuk membuat Dita dan Nathan menderita.
Caroline seakan menemukan cela untuk menculik Lea yang sedang bersantai dengan sepedanya, dengan cepat dia memerintahkan bawahannya untuk melakukan tugas yang telah dia atur sedemikian rupa.
Lea mengerjapkan kedua matanya, melihat sekeliling ruangan yang dia tempati. Terlihat dengan jelas di mata Lea, jika yang menculiknya adalah Caroline, tapi dia tidak tau alasan penculikan itu.
"Akhirnya kamu bangun juga, apa kamu memiliki kesulitan di perjalanan menuju kesini? jika ada katakan saja."
"Bagaimana aku tau, jika kamu membiusku. Kenapa kamu menculikku?" ucap Lea.
"Karena Ibumu telah membunuh Suamiku," teriak Caroline yang mendekati Lea.
"Jangan berteriak, gendang telingaku bisa rusak nanti."
"Aku tidak peduli dengan itu, aku hanya ingin harta Wijaya ada di tanganku," ucap Caroline yang tersenyum membayangkan kekayaannya yang akan bertambah.
"Aku juga tidak peduli dengan itu. Aku sangat lapar, beri aku makan," cetus Lea.
"Ck, menyusahkan ku saja," ketus Caroline yang meminta bawahannya untuk membelikan makanan untuk Lea.
Makanan di hadapannya membuat Lea meneteskan air liurnya, karena tangan yang tidak di ikat memudahkan pergerakan Lea yang menyantap semua makan hingga habis tak tersisa. Para bawahan hanya meneguk saliva dengan susah payah, mereka tidak mengira jika Lea makan dengan porsi yang sangat banyak.
"Apa dia manusia? makannya banyak juga," batin salah satu bawahan Caroline.
"Apa kamu tidak di berikan makan oleh Dita? kamu persis seperti orang yang tidak makan selama beberapa hari saja," cetus Caroline.
"Mau bagaimana lagi? perutku selalu kelaparan, apalagi tenaga ku sedikit terkuras saat menganyuh sepedaku tadi," sahut Lea yang mulai tertidur dan berjalan mendekati sofa yang tak jauh darinya.
Caroline tidak mempermasalahkan itu, karena paling penting baginya adalah harta yang bentar lagi menjadi miliknya, sebesar 75 persen.
__ADS_1
Abian yang sangat mengenal Caroline dan mengetahui rencana dari Ibu angkatnya yang menculik Lea, dan sekarang tengah berada di dalam mansionnya, lebih tepatnya berada di kamar kosong.
Semua orang mencemaskan keadaan Lea yang belum pulang sedari tadi, Dita selalu mondar-mandir untuk menunggu putrinya pulang. Bahkan ponsel Lea tidak aktif.