
Di meja makan Al dan El menatap anak-anak mereka dengan tatapan tajam, seakan ingin menelan mereka hidup-hidup. Suasana itu tak luput dari pandangan Nathan dan juga Bara, "ada apa dengan kalian berdua dan kenapa wajahmu seperti itu?" ucap Bara yang menatap El.
"Karena aku sangat kesal dengan Niko dan Niki,"sahut El yang terus menatap tajam kedua putranya, sedangkan yang di tatap hanya acuh tak acuh dan lebih tertarik dengan makanan di atas piringnya.
"Aku ingin menghukum Alex, Lexa, dan Lexi karena mereka telah mengerjaiku."
Nathan dan Bara menatap kelima cucu mereka dengan dengan wajah yang serius, "apa kalian kembali berulah lagi? dan kenapa wajah Daddy kalian seperti itu?" tutur Nathan yang menatap semua cucunya, terutama Niko.
"Kami tidak berulah, hanya menyalurkan hobi saja," jawab Niko dengan enteng membuat El semakin geram dengan wajah seperti udang rebus.
"Hanya menyalurkan hobi? karena kalian berdua telah merusak aset berharga yang bisa mengurangi kadar ketampanan Daddy hingga 30 persen," sewot El yang menunjuk kedua putra kembarnya, sedangkan Anna berusaha untuk menenangkan suaminya.
"Tenanglah, jangan terlalu keras dengan mereka."
"Hah, mau bagaimana lagi? mereka sangat nakal."
"Karena kenakalannya menurun dari mu," sela Nathan yang melirik Bara sembari tersenyum.
"Aku tidak merasa begitu," kilah El.
"Ayah akan menghukum kalian, terutama Alex." Al menatap putranya yang menjadi akar permasalahan.
"Kenapa Ayah menatapku begitu? kami hanya bersenang-senang saja," jawab Alex dengan santai.
Al yang geram itu menggebrak meja membuat semua orang terlonjak kaget, Al berdiri sembari menatap putranya yang sangat kurang ajar, "Ayah akan menghukum kalian bertiga dengan menyita laptop dan juga ponsel, terutama Alex."
"APA?" sahut Alex yang menyemburkan makanannya hingga mengenai wajah Niki yang tampak kesal.
"Makanan mu membuat wajahku ternoda," tukas Niki yang menatap sepupunya.
"Hehe.... maafkan aku yang refleks," ujar Alex yang mengelap wajah Niki dengan sapu tangan yang selalu dia gunakan untuk membersihkan tangan setelah bermain.
Niko menatap kembaran serta sepupunya itu, dia menahan tawa karena wajah Niki bukannya menjadi bersih tapi terlihat sangat kotor. Semua orang tertawa melihat tingkah Alex dan Niki yang tampak sangat menggemaskan.
"Kenapa kalian tertawa? apakah ketampanan ku sangat memukau?" tutur Niki dengan polos menatap semua orang, dengan cepat Lexa mengambil cermin kecil miliknya.
"Jangan terlalu percaya diri, tataplah cermin ini dan lihat lah wajahmu," cetus Lexa.
Niki menatap wajahnya yang menghitam akibat ulah sepupu kembarnya, "Sial, wajahku seperti hangus terbakar. Alex....jangan lari kamu!" pekik Niki yang mengejar sepupu nakalnya.
__ADS_1
Al dan El hanya memijat pelipisnya untuk mengurangi rasa pusing akibat ulah anak-anak mereka yang sangat ajaib dan selalu membuat mereka mengelus dada dengan sabar.
"Ya tuhan....kenapa mereka sangat nakal sekali," gumam Al yang memijit pangkal hidungnya.
"Hehe....itu lah yang kami para orang tua rasakan, karma is real," sela Bara dan Nathan yang bertos ria, sementara Naina dan Dita hanya menggelengkan kepala.
****
Seorang wanita tengah menatap pemandangan dari balkon, menikmati suasana di malam hari dengan hembusan angin yang menerpa kulitnya. Mengadakan wajahnya dengan menatap langit, tetesan air mata keluar dengan sendirinya saat meratapi nasib yang belum di karuniai seorang anak.
Lea selalu menangis dan menyembunyikan penderitaannya di hadapan suami dan juga keluarga besarnya, tapi Abian bukanlah pria yang mudah untuk di bodohi. Menatap sang istri yang tidak bisa tidur dan memeluk pinggang ramping Lea sambil mencium tengkuk leher jenjang milik istrinya.
"Aku tau kamu kecewa dengan hasilnya, tapi jangan bersedih dengan hal itu. Lupakan omongan dari semua orang, tapi satu hal yang pasti, aku sangat mencintaimu sepenuh hatiku. Dan cinta itu semakin besar setiap harinya," tutur Abian.
"Ini sudah 6 tahun berlalu dan aku belum hamil juga, aku sangat menginginkan kehadiran seorang anak di antara kita," lirih Lea yang menatap lurus.
"Kamu segalanya bagiku dan akan selalu begitu. Bagaimana jika kita menetap ke Indonesia? aku sudah mengatur semuanya dan memindahkan seluruh aset di Amerika ke Indonesia," ucap Abian yang membuat Lea menghapus air matanya dan seketika tersenyum hangat menatap wajah tampan suaminya.
"Apa kamu serius?"
"Aku serius."
"Tentu saja, sekarang hapuslah air matamu dan kita akan mengunjungi keluarga Wijaya. Pasti di sana sangat menyenangkan dengan adanya kelima keponakan kita yang sangat lucu itu," ujar Abian.
"Kamu benar, tapi kapan kita akan berangkat ke Indonesia?"
"Seminggu lagi, bagaimana?" ucap Abian.
"Baiklah, aku akan menunggu hingga minggu depan dan aku sangat tidak sabar untuk bermain dengan twins N dan triple A."
"Sebaiknya kita tidur," ajak Abian.
"Hem, kamu benar."
****
Shena menatap ketiga anak kembarnya dengan tatapan tajam, "kenapa kalian sangat nakal sekali, hah?"
"Ma-maaf Bu, kami hanya bersenang-senang saja," jawab Alex yang menundukkan kepala karena tidak berani dengan sang ibu.
__ADS_1
"Bersenang-senang dalam kategori apa? apa kalian ingin tinggal di rumah kakek Daniel?" ancam Shena yang bertolak pinggang. Karena Shena menemukan kelemahan ketiga anaknya yang tidak ingin hidup terpisah dari Niko dan Niki.
"Tidak Bu," ujar Lexi dengan cepat.
"Minta maaf sekarang dengan ayah dan akui kesalahan kalian."
"Baik," jawab Lexa yang juga menundukkan kepala. Ketiga bocah yang berusia 6 tahun pergi meninggalkan kamar mereka menuju ruang kerja sang ayah. Sementara Shena menatap kepergian mereka yang hilang di balik pintu.
Lain halnya dengan Anna yang duduk bersama kedua putra kembarnya, "apa kalian tau, jika sifat kalian itu membuat Mom sedih. Apa Mom harus meninggal dunia barulah kalian tidak nakal lagi?" ucap Anna yang menatap lurus membuat twins N sontak kaget.
"Apa yang Mom bicarakan? jangan berpikir untuk meningalkan kami," Niki memeluk ibunya dengan haru.
"Hanya Mom yang mengerti kami, tolong jangan katakan itu. Kami melakukan hal itu untuk mendapatkan perhatian dari Daddy yang selalu sibuk mengurusi pekerjaan nya," sambung Niko yang juga memeluk tubuh Anna dengan erat.
"Minta maaf lah esok hari dan akui kesalahan yang telah kalian perbuat dan masalah yang lainnya serahkan kepada Mommy kalian ini, " Anna melepaskan pelukannya sambil menoel dagu Niko dan Niki.
"Baiklah, katakan juga kepada Daddy agar kembali menyerahkan ponsel yang telah di sita."
"Apa ponsel itu begitu penting?" ucap Anna yang mengerutkan keningnya.
Twins N menganggukkan kepala mereka dengan cepat, "benar, atau kita akan terkena masalah besar."
"Apa yang kalian maksud dengan itu?" tanya Anna yang tidak paham dengan beberapa aplikasi buatan kedua putranya dan juga beberapa data yang telah mereka retas.
"Bukan apa-apa," sahut Niko dengan enteng. Anna menyelimuti kedua putranya dan tak lupa mencium kening putra kembarnya, mematikan lampu kamar dan menutup pintu.
"Apa yang terjadi? kenapa aku seperti orang bodoh jika bersama mereka?" gumamnya yang melangkah keluar kamar.
Lain halnya dengan Al dan El yang memeriksa setiap ponsel dan laptop anak-anak mereka, terutama Alex, Niko, dan Niki yang berisi beberapa file yang di samarkan. El sangat yakin jika mereka tengah meretas data-data yang sangat berbahaya, "bagaimana ini Al? anak-anak ini tidak pernah berubah, selalu saja meretas perusahaan lain."
"Biarkan saja, perusahaan yang mereka retas itu sangat curang dan juga mengambil keuntungan sendiri."
"Bagaimana jika ada yang menyakiti mereka?" ucap El yang sangat khawatir dengan keselamatan anak-anak.
Walaupun mereka selalu sibuk, tidak menutup kemungkinan jika Al dan El mencari tau aktivitas anak-anak mereka yang mempunyai hobi meretas dan membuat program, hampir sama dengan kegiatan mereka sewaktu kecil.
"Aku akan menyamarkan data mereka, sementara tugasmu menutup akses mereka agar tidak bisa membobol data perusahaan orang lain."
"Baiklah."
__ADS_1