Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 198 ~ S2


__ADS_3

El mengerjapkan matanya karena kelelahan dalam pertarungan panas dengan sang istri, wajah kebahagiaan terlihat jelas di antara mereka. Kemesraan itu terganggu karena ponsel El yang selalu berdering tanpa henti, "angkat saja, siapa tau itu telfon penting," ucap Anna yang melirik ponselnya.


"Ya baiklah," sahut El dengan malas yang mengangkat telfon itu.


"King."


"Ada apa?"


"Bagaimana kabarmu, king?"


"Kenapa kamu menanyakan kabarku?"


"Hanya ingin saja, kami mengira jika king sedang bermasalah dengan kesehatan hingga tidak pernah mengunjungi markas."


"Bukankah kalian masih ada? aku mempercayai kamu dan juga Audrey, jadi aku serahkan tugas negara ini kepada kalian berdua. Aku ingatkan sekali lagi agar tak menganggu ku yang ingin bermesraan dengan istriku."


El memutuskan sambungan telfon dengan sepihak, membuat Roger dan Audrey mengelus dada sembari mengucapkan kalimat sumpah serapah, jika saja El mendengarnya sudah di pastikan mereka akan menjadi kelinci percobaan dengan beberapa ilmu racun yang El pelajari.


"Nasib bawahan," celetuk Roger.


"Kamu benar! jika saja dia bukan bosnya, sudah ku pastikan dia di makan harimau," jawab Audrey.


"Jangan bicarakan itu dengan sangat keras, bahkan dinding sekalipun juga mempunyai telinga," ucap Roger yang berbisik. Bulu kuduk Audrey seakan bergidik ngeri membuatnya dengan cepat menggeleng.


Lain halnya dengan El dan Anna yang tengah bersiap-siap untuk pergi kerumah Bonar. El mengendarai mobilnya dengan sangat perlahan mengingat Anna yang tengah hamil, hingga perjalanan yang terasa sangat lamban membuat Anna mendengus kesal dengan hal itu.


"Bisakah mobilnya di kemudikan dengan cepat, bahkan siput saja lebih cepat dari mobil ini," gerutu Anna.


"Tidak, ini demi keselamatan mu dan juga calon bayi kita," tolak El.


Perjalanan yang memakan banyak waktu akhirnya sampai di perkarangan rumah Bonar yang tengah memandikan Ayam kesayangannya. El dan Anna turun dari mobil dan melangkah menuju Bonar yang belum menyadari keberadaan anak dan menantunya.


"Ehem," dehem El yang tidak di dengarkan oleh Bonar.


"Ehem....ehem," ulangnya yang tetap tidak di dengarkan oleh Bonar. El tersenyum jahil dengan mengeluarkan beberapa lembar kertas berwarna merah dan memainkan di hadapan Bonar yang langsung mengambil uang itu dan memasukkan ke dalam saku celananya.


"Anna, akhirnya kamu datang juga. Ayah sangat merindukan mu? bagaimana keadaan mu? kenapa kamu terlihat kurus sekali? apa suamimu tidak memberimu makan?" beberapa pertanyaan yang di lontarkan oleh bonar membuat El manyun.


"Selalu saja ada kesalahan ku di matanya," gumam El yang menatap Bonar dengan jengkel.

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan? apa kamu membicarakan aku?" tukas Bonar yang menatap El dengan menyelidik.


"Tidak, untuk apa aku melakukan hal itu."


"Baiklah, aku ingin membicarakan hal ini kepadamu. Jika kain sarung yang telah aku wasiatkan kepadamu, berikan lagi kepada ku," pinta Bonar yang mengadahkan tangannya.


"Mati aku sudah membakarnya di saat itu," batin El yng sangat kelimpungan.


"Bukankah Ayah telah memberikan kepadaku? kenapa memintanya lagi?"


"Itu karena aku mendapatkan sebuah mimpi yang mengatakan jika menantuku Panji yang dapat mewariskan nya, cepat serahkan kepadaku!"


"Aku sangat menyukai kain sarung itu, bagaimana jika Panji memakai yang lain saja," tawar El.


"Jangan katakan jika kain sarung itu menghilang," ucap Bonar yang menatap El dengan tatapan menyelidik.


"Baiklah, jangan menunjukku begitu. Ayah lebih terlihat sebagai seorang polisi yang menginterogasi penjahat," seloroh El.


"Cepat katakan?" bentak Bonar yang berhasil membuat Anna dan El terkejut dengan aksinya.


"Hehe....aku sudah membakar sarung yang sangat bau itu," lirih El dengan pelan membuat Bonar terkejut dan menatap El dengan tajam.


"Aku khilaf Ayah mertua."


"Jangan memanggilku begitu," cetus Bonar yang menggeplak kepala El dengan koran yang telah dia gulung terlebih dahulu.


"Maafkan aku Ayah mertua, walau aku tidak pantas mendapatkan maaf mu. Tapi aku berjanji akan melakukan hal apapun yang membuat Ayah mertua bahagia," ucap El yang bersimpuh di kaki Bonar untuk mendapatkan maaf.


"Akan aku maafkan, urus semua ayam-ayamku. Pastikan semua ayamku terawat dengan sangat baik."


"Tidak masalah," sahut El yang terpaksa tersenyum.


****


Lea dan Abian menyiapkan beberapa keperluan mereka selama di sana, Lea terdiam membuat Abian menatapnya dengan seksama.


"Ada apa? kenapa kamu terdiam?"


"Entahlah, perasaanku tidak enak sejak tadi pagi."

__ADS_1


Abian tersenyum dan memeluk tubuh Lea dengan sangat erat, "berjanjilah kepadaku untuk selalu bersama dengan ku," ucap Abian.


"Kenapa kamu mengatakan itu? seakan kita akan berpisah saja. Walaupun aku menikah dengan terpaksa, tetap saja statusku seorang istri dan aku menghargai sebuah pernikahan yang sangat sakral. Lagipula kamu juga mengambil keperawanan ku," lirih Lea yang membuat Abian tersenyum samar.


"Hei, akulah korban di sini."


"Yaya baiklah, jangan katakan itu lagi. Bahkan aku tidak tau bagaimana rasanya," celetuk Lea yang keceplosan.


"Sabarlah, tinggal beberapa hari lagi aku akan meminta hakku dan tidak membiarkanmu untuk keluar kamar seharian," tutur Abian yang tertawa.


"Dasar mesum."


"Dulunya masih suci, tapi karena tertular dengan mu," sahut Abian yang kembali mengemasi barang-barang bawaannya.


Abian Dan Lea berpamitan kepada semua orang untuk berangkat ke Amerika, sudah di pastikan beberapa banyak tisu yang di habiskan oleh Lea di saat berpamitan dan juga berpelukan yang juga sangat lama. Abian terus melihat benda yang melingkar di tangannya, "ayolah, ini sudah sangat terlambat," ucapnya.


"Sabarlah, kamu tidak tau bagaimana rasanya pergi dari keluarga untuk pertama kalinya. Diam di sana dan jangan banyak bicara," cetus Lea yang melirik Abian dengan sekilas.


"Kita hanya pergi selama dua minggu dan bukan setahun, cepatlah atau kita akan ketinggalan pesawat."


"Iya iya, kenapa kamu sangat cerewet sekali?" tukas Lea yang bertolak pinggang.


Lea kembali menatap kedua orang tuanya dengan sendu, "Ayah....Ibu, aku pergi dulu. Aku akan mengabari kalian jika kami sampai nanti," pamitnya.


"Pergilah dan jaga diri kalian dengan baik," sahut Dita yang mendapatkan pelukan yang sangat lama dari Lea.


"Ada apa dengan Lea, tidak biasanya dia memelukku dengan sangat lama. Mungkin saja ini kali pertamanya berpisah dengan keluarganya," batin Dita yang berusaha berpikiran positif.


Lea melepaskan pelukan itu dan menggandeng tangan Abian, mereka berbalik dan melambaikan tangan ke semua orang dan masuk ke dalam pesawat.


Perasaan Dita seakan cemas dengan putri dan juga menantunya yang baru saja menaiki pesawat, kekhawatiran Dita dapat terlihat di wajahnya yang sangat jelas. Nathan menegang pundak sang istri, "ada apa? kenapa kamu terlihat sangat cemas?"


"Entahlah, aku juga tidak tau kenapa. Yang pasti hatiku menolak mereka pergi jauh dariku," jawab Dita yang tiba-tiba meneteskan air mata.


"Semoga saja perjalanan adikku mulus," celetuk Al yang sedih dengan perpisahan adiknya.


"Ayo kita kembali," ajak Nathan.


"Ayo."

__ADS_1


Sebelum pergi dari bandara, Dita selalu melihat kearah tempat terakhir kali Lea dan Abian berdiri dan pergi meninggalkan tempat itu.


__ADS_2