
Shena yang merasa khawatir dengan kondisi Al memasuki ruangan tempat Al di rawat, perasaan cemas dan juga rasa bersalahnya kepada sang suami. Dia melihat pria tampan sekarang menjadi suaminya yang tengah berbaring di atas brankar, melangkahkan kakinya berjalan mendekati Al.
Shena memperhatikan wajah Al yang teduh dan damai saat sedang tertidur, "apa wajahku sangat tampan?" ucap Al yang hanya berpura-pura tidur.
"Hem, wajahmu sangat tampan di saat tertidur," sahut Shena tanpa sadar, 1 detik....2 detik, dan hitungan ke 3 detik dia kaget, Al menarik kedua sudut bibirnya terangkat ke atas.
"Apa kamu lapar?" celetuk Shena untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Hem," sahut Al dengan singkat, Shena mengambil makanan di atas nakas dan memberikannya kepada Al.
"Apa kamu ini pelupa? lengan kananku tertembak saat menyelamatkan nyawamu, Tertanggung jawablah atas kejadian menimpaku."
"Apa kamu tidak ikhlas menolongku?" cetus Shena.
"Dasar bodoh, kamu tidak lihat bagaimana lengan dan juga pahaku terluka? sebagai gantinya, kamu akan merawatku hingga sembuh. Aku tidak ingin ada bantahan dan juga penolakan, titik tanpa koma!" ucap Al dengan tegas.
"Yaya baiklah, cepatlah sembuh agar aku bisa terbebas dari tugas ini."
"Hem," balas Al yang hanya berdehem.
"Tidak akan semudah itu SHENA. Aku akan membuatmu untuk mencintaiku," gumam Al di dalam hatinya.
Shena yang merasa berhutang budi , dia merawat Al dengan sepenuh hati dan sangat cekatan. Rutinitasnya tak luput dari pandangan Al yang terus memperhatikan wajah sang istri yang sangat cantik. Dia tidak tau sejak kapan mulai mencintai Shena, tapi yang pasti dia merasa nyaman saat berada dekat dengan gadis itu.
Al hanya di rawat 3 hari setelah mendapat ijin keluar dari rumah sakit, lebih tepatnya dia mengancam Jimmy agar bisa terbebas dari ruangan yang membuatnya jenuh.
"Keadaanmu belum pulih, setidaknya kamu berada di rumah sakit selama satu minggu."
"Ck, jangan mengaturku atau aku akan membuatmu kehilangan pekerjaan," ucap Al dengan tegas.
"Hah, kamu selalu saja mengancamku. Terserah padamu saja dan jika terjadi sesuatu denganmu, jangan salahkan aku nantinya," ujar Jimmy yang menghela nafas dengan kasar, karena nasibnya hanyalah bawahan yang tidak akan menang jika berdebat dengan Al.
Al celingukan untuk melihat situasi dan hanya mereka saja di ruangan itu, "siapa yang kamu cari?" Jimmy menatap Al dengan memiringkan kepalanya.
"Mendekatlah," perintah Al yang di patuhi oleh Jimmy.
"Aku ingin kamu mengatakan kepada semua orang jika luka tembakku sembuhnya sangat lama," bisik Al spontan membuat Jimmy terbelalak kaget.
"Apa maksudmu melakukan itu? hei, lukamu langsung sembuh selama seminggu saja," ucap Jimmy yang meninggikan suara, Al yang geram melempar bantal tepat mengenai wajah Jimmy.
"Bisakah volume suaramu di kecilkan atau kamu ingin aku memecatmu?" ketus Al.
__ADS_1
"Hehe....maaf, aku hanya spontan saja tadi. Tapi untuk apa kamu melakukannya?"
"Ck, itu urusanku."
"Baiklah, aku akan mengatakan kepada semua orang jika luka mu akan sembuh selama dua minggu, bagaimana?"
"Tidak."
"Kenapa? apa itu belum cukup lama?"
"Hem, aku ingin selama sebulan."
"Ya....terserah padamu saja."
"Ck, apa-apaan dia ini? di sini aku lah dokternya," batin Jimmy yang pergi meninggalkan ruangan itu. Tak lama datanglah Shena yang baru saja sampai ke rumah sakit, dia terpaksa pulang untuk mengganti pakaiannya.
"Apa kamu sudah meminum obat?" tanya Shena yang mendekati sang suami.
"Lengan ku ini terluka dan membuat pergerakan ku menjadi terbatas," jawab Al yang memperlihatkan lukanya yang sudah di balut perban.
Shena menyuapi Al dengan makanan yang dia pesan, menyuapi sang suami dengan telaten. Al hanya tersenyum tipis sembari menatap wajah gadis kecilnya, "apa kamu sudah makan?" tanyanya.
"Aku sudah makan sebelum berangkat ke sini."
"Dia sudah di perbolehkan pulang, makanan mu sudah habis. Ini, minumlah obatmu," ujar Shena yang memberikan Al beberapa obat dan juga segelas air mineral. Al menerimanya dan meminum obat itu serta menghabiskan segeles air.
"Aku ingin toilet, bisakah kamu membantuku?" ucap Al dengan wajah yang memelas.
"Baiklah." Shena membopong tubuh Al dan membawanya ke toilet.
****
Di sisi lain El mengumpati saudara kembarnya, karena waktunya terkuras dalam mengurus semua perusahaan. Begitupun dengan Kenzi yang sekarang berada diruangan El.
"Ini semua salahmu, kak!"
"Apa? kenapa kamu menyalahkanku?"
"Ini semua ide kakak, jika saja aku tidak mengikuti rencana konyol mu itu."
"Hei, jangan melimpahkan seluruh kesalahan kepadaku," protes El.
__ADS_1
"Tapi itulah kenyataannya," cetus Kenzi.
"Jangan berdebat, kerjakan pekerjaan masing-masing," lerai Ben yang di perintahkan untuk mengawasi El dan juga Kenzi.
"Hei, diamlah! jangan mengaturku," ketus El.
Ben memegang ponselnya berusaha untuk menghubungi Al, "siapa yang kamu hubungi?" celetuk El yang sedikit khawatir.
"Aku akan memghubungi tuan Al."
"Hehe....jangan cepat tersinggung, kita bisa membicarakan ini baik-baik," bujuk El yang menghampiri sang asisten dan membetulkan dasi Ben.
"Baiklah, kerjakan semuanya dengan cepat," ucap Ben dengan tegas.
"Baiklah, asal kamu tidak melaporkan kami kepada Al."
"Selesaikan pekerjaan kalian," ucap Ben dengan tegas. seraya meninggalkan ruangan itu.
"Asisten sialan, aku akan membalasmu nanti," umpat El di dalam hati.
El berjalan mendekati Kenzi, "aku ingin pergi dulu, kamu lanjutkan pekerjaan mu."
"Kakak mau kemana?" tanya Kenzi yang menautkan kedua alisnya.
"Ada masalah di markas, kamu urus perusahaan dulu."
"Eh, aku tidak mendapatkan berita apapun dari markas. Apa kakak sedang berbohong?" ucap Kenzi dengan tatapan menyelidik.
"Ini lihat lah jika tidak percaya," sahut El yang memperlihatkan ponselnya dengan beberapa permasalahan markas.
"Ya baiklah, tapi jangan lama-lama. Di sini masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan," ujar Kenzi dengan pasrah.
"Tidak masalah," tutur El yang pergi meninggalkan ruangan presdir dengan senyuman tipis di wajahnya. Karena El sudah mengatur segalanya agar bisa mencari alasan untuk pergi dari kantor.
"Heh, ternyata Kenzi bodoh juga. Dia bisa tertipu dengan semua itu, lebih baik aku pergi kerumah calon mertua saja," gumam El di dalam hati.
El berjalan dengan sangat santai, hingga Ben menghampirinya, "tunggu, tuan mau kemana?"
"Aku akan ke markas, ada hal yang harus aku lakukan dan ini misi yang sangat berbahaya," jawab El dengan wajah tegasnya.
Ben yang ingin menghubungi Al untuk memberikan laporan terhenti saat El mencekalnga, "ini sangat berbahaya, jika kamu mengabarinya para musuh akan mengintai atasan mu yang teladan itu."
__ADS_1
"Apa itu sangat berbahaya tuan?"
"Tentu saja, jangan halangi aku." Ben hanya terdiam tanpa berniat untuk mencegat El, menatap punggung El yang menghilang dari pandangan.