Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 167 ~ S2


__ADS_3

Mereka saling menatap tajam, tatapan kebencian yang telah lama mereka pendam. Alan sangat menantikan hari ini, hari penentuan dan mengukuran keahliannya.


"Berani sekali kamu mengusik keluarga Wijaya," tutur Al yang menangkis pukulan Alan dengan mudah.


"Tentu saja, dendam ini tidak akan hilang setelah melihatmu mati di tangan ku," ucap Alan dengan lantang.


"Heh, bahkan di dalam mimpi kamu tidak akan bisa membunuh ku," balas Al dengan senyuman miring sembari melayangkan pukulan.


Shena memanfaatkan situasi dengan melepaskan lilitan tali di tubuhnya, perlahan tapi pasti dia menggeser tubuhnya saat melihat shuriken tajam yang tak jauh dari nya. Dia sedikit kesusahan saat mengambil shuriken yang tergeletak di lantai itu, Shena berhasil meraihnya tapi tangannya sedikit terluka karena shuriken milik Al sangatlah tajam.


Di sisi lain, Rayyan dan Abian mendapatkan informasi mengenai para penerus keluarga Wijaya sedang menyerang musuh, "bagaimana? apa kamu sudah menemukan lokasinya?" ucap Abian yang terus mendesak Rayyan.


"Ck, hentikan ocehanmu. Ini sudah ketiga kalinya aku mendengarkan kalimat yang sama," sahut Rayyan yang kesal.


"Dasar lamban, cepatlah sedikit nyawa mereka dalam bahaya. Mereka tidak tau jika Alan sedang menjebak keluarga Wijaya," desak Abian yang sangat khawatir terutama Lea, sang gadis pujaannya.


"Beri aku waktu sebentar lagi."


"Aku akan menghubungi El," ucap Abian yang mengeluarkan ponselnya seraya menghubungi salah satu nomor kontak yang telah tersedia di ponselnya.


"Halo."


"Ada apa?"


"Terjadi masalah! kirimkan lokasimu padaku, ini sangat genting."


"Kamu menelfon di saat darurat, katakan ada apa?"


"Alan sedang memasang jebakan untuk kalian, dia sangat licik...." belum sempat Abian menyelesaikan pembicaraan lewat telfonnya terputus.


"Sial, sambungan telfonnya terputus," umpat Abian.


"Ada apa? apa yang dia katakan?" celetuk Rayyan yang telah mendapatkan lokasi dan menghampiri Abian dengan mengerutkan kedua keningnya.


"Aku belum sempat menyelesaikan pembicaraan tiba-tiba saja terputus dan saat aku menghubunginya tidak bisa, apa kamu telah menemukan lokasinya?"


"Sudah, ayo kita bantu mereka. Sepertinya sangat menyenangkan, siapkan motor trail. Aku akan mengambil beberapa racun racikanku," ujar Rayyan yang berlari menuju laboratorium milik sang Ayah.

__ADS_1


"Berani sekali anak ini memerintahku, aku akan menghajarmu nanti," gumam Abian yang kesal.


Abian dan Rayyan menyiapkan segala persenjataan dan pelindung diri, tak lupa Rayyan membawa senyawa racun yang sangat berguna untuknya dalam melawan musuh tanpa mengeluarkan banyak keringat.


Mengendarai motor trail masing-masing, mereka telah membagi setiap tugas dan memudahkan untuk berpencar. Mereka bagaikan raja balapan di jalanan, aksi mereka banyak mendapatkan makian dari pengendara lain.


****


El sedikit kewalahan dalan menyerang Gery yang tidak merasakan kelelahan setelah mereka bertarung cukup lama, "ck, ternyata dia hebat juga," batin El yang terus memukul dan menendang Gery.


"Apa kemampuanmu hanya segitu? aku tidak menyangka jika seorang El, anak dari Nathan Wijaya sangatlah lemah," ejek Gery yang tersenyum miring.


"Hah, aku hanya menguji sejauh mana kekuatan mu. Apa kekuatan mu itu lebih besar dari ucapanmu, ternyata bicara mu sangatlah besar dengan kemampuan yang sangat minim, " cibiran El yang membuat Gery darah tinggi, menghampiri El dan memukul wajahnya.Hingga mereka kembali menyerang, tapi kali ini El mengerahkan semua kekuatannya untuk memenangkan pertarungan.


Sedangkan Kenzi terus terus menembak dengan sniper miliknya dari kejauhan, karena bosan menyerang dari belakang, dia melompat keluar dan menghadapi musuh untuk membantu Lea.


"Ck, akhirnya tikus keluar juga," ejek Lea dengan sinis.


"Aku bukan tikus dan aku sudah menghabiskan seperempat dari tim musuh," cetus Kenzi.


"Ck, jangan meremehkan ku."


"Aku tidak meremehkanmu."


Lea dan Kenzi di kepung oleh beberapa musuh yang di yakini sebagai grup inti milik Alan. Posisi mereka saling memunggungi satu sama lainnya, melirik setiap musuh untuk mencari celah.


Kenzi memegang tangan kiri Lea dan memutar tubuhnya, sedangkan Lea yang menendang semua musuh yang mengepung mereka dengan bertumpu di tubuh Kenzi yang melayangkan tubuhnya. Tak sampai di situ, Kenzi berjongkok memudahkan Lea untuk bertumpu di tangan Kenzi dan kembali memukul musuh hingga terjatuh terkapar tak berdaya.


"Kami datang," pekik Rayyan dan Abian yang berhasil menerobos masuk setelah menuntaskan bagian luar rumah mewah, mereka menggunakan motor trail dan beberapa skill yang mereka kuasai dari Zean.


Abian mengambil sebuah kayu dan melayangkannya mengenai musuh yang ada di belakang Lea, "fokuslah dengan serangan musuh," tutur Abian yang mengedipkan sebelah matanya saat menatap Lea.


"Kalian ada di sini?" tanya Kenzi yang menautkan kedua keningnya.


"Tentu saja, ada beberapa ranjau yang mereka pasang, kalian berhati-hati lah," ucap Rayyan yang memperingati Kenzi dan juga Lea, mereka membalas dengan sekali anggukan kepala.


Mereka berempat menyerang musuh, mengabungkan beberapa keahlian yang mereka miliki. Kenzi dan Lea menyerang dengan tangan kosong, Abian dengan belati miliknya, dan Rayyan menggunakan racun. Sementara di ruangan lain, Al dan Alan bertarung dengan sangat sengit. Shena mendekati Vivian dan membawanya ke tempat yang aman.

__ADS_1


Alan melirik Shena yang berhasil melepaskan simpul tali yang melilit tubuhnya, dia dengan cepat mengejar Shena. Al tak tinggal diam, dia mengalihkan perhatian Alan dan kembali bertarung, hingga keduanya babak belur.


"Ini sangat menyenangkan, bukankah begitu?" tukas Alan dengan tatapan remehnya.


"Ck, aku hanya ingin mengakhiri pertarungan ini," jawab Al yang mengelap darah segar di sudut bibirnya.


"Kalian tidak akan bisa lari dari sini," ucap Alan dengan senyum devil.


"Itu sangat mudah bagiku," ujar Al dengan raut wajah dingin.


"Cobalah dengan ini, kamu akan memilih adik atau istrimu?" Alan mengeluarkan pistol dan menarik pelatuk, membidik Shena dan Vivian.


Al berlari dengan secepat kilat untuk menyelamatkan kedua wanita yang dia sayangi, tidak ada waktu untuknya menyelamatkan keduanya. Alan tersenyum bahagia melihat keadaan itu, suara tembakan berhasil mengenai Al yang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Shena dan Vivian.


Shena berbalik dan berteriak saat melihat lengan dan paha Al tertembak, Shena berlari menuju Al dan memeluknya. "Ku mohoh bertahanlah," ucap Shena yang meneteskan air matanya.


"C-cepat keluarlah dari sini, selamatkan dirimu dan juga Vivian," ucap Al yang menahan rasa sakit.


"Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu," tolak Shena yang terus menangis.


"Dasar bodoh, tidak perlu mengasihaniku. Cepat selamatkan dirimu." Alan tertawa sangat keras, tapi itu tidak bertahan lama karena Kenzi, Lea, El, Abian, dan Rayyan menerobos masuk dan menyerang Alan hingga tewas.


Dengan cepat mereka keluar dari rumah itu karena sudah terpasang bom di setiap sisinya. Mereka semua keluar sebelum rumah itu hangus terbakar, dan berhasil menyelamatkan diri.


Mereka mengerubungi Al yang tertembak, "apa kamu baik-baik saja?" ucap El.


"Sepertinya lukamu cukup dalam," sambung Abian.


"Ck, jangan banyak bertanya. Cepat bawa aku ke rumah sakit dan setelah sembuh aku akan memberikan kalian hukuman," cetus Al yang menatap ke empat adiknya.


Lea, Kenzi, dan El menelan saliva dengan susah payah, sembari membawa Al menuju rumah sakit.


"Sial, dia mengingatnya," batin El.


"Mati aku, harusnya aku tidak bergabung dengan rencananya kak El," gumam Kenzi di dalam hati.


"Aku akan melarikan diri nanti," batin Lea.

__ADS_1


__ADS_2