Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 186 ~ S2


__ADS_3

Pagi hari yang indah, sinar matahari pagi yang menyentuh pori-pori kulit membuat Lea terbangun dari mimpi yang indah, meregangkan ototnya dan sesekali menguap. Karena masih mengantuk membuat Lea kembali melanjutkan tidur nya, tanpa memikirkan urusan dunia.


Pintu terbuka dengan keras membuat nya terkejut, berusaha mengumpulkan seluruh nyawanya untuk bisa sadar sepenuhnya.


"Sudah jam berapa ini? Kenapa kamu masih tertidur?" Pekik orang itu yang menarik selimut Lea.


"Hem," balas Lea dengan spontan tanpa menyimaknya.


"Bangunlah, 10 menit lagi jam akan menunjukkan setengah delapan," Ucap orang itu yang tak lain adalah Vivian. Seketika mata Lea terbuka, "mati aku, sebentar lagi ujian akhirku di mulai," racau Lea yang berlari menuju kamar mandi.


"Mandi tidak ya? jika aku mandi maka membutuhkan waktu yang sangat lama," monolog Lea yang menggunakan cara tengah, yaitu membersihkan diri hanya menggosok gigi dan cuci muka, tak ketinggalan parfum yang akan menunjang penampilannya.


Lea keluar dari kamar mandi, menyiapkan semua keperluannya dan juga laptop. Vivian hanya menatap Lea yang terus mondar mandir, "bisakah kakak tidak bolak-balik begitu? kepala ku pusing saat melihatnya," gerutunya.


"Mau bagaimana lagi? Ini ujian terakhirku di sekolah, walaupun aku tipikal siswi yang malas. Ya sudah aku pergi dulu," pamit Lea yang berlari menuruni tangga dengan sangat cepat, dia harus mengejar waktu tanpa terlambat. Jika itu terjadi, maka Lea akan menetap di kelas 12.


"Sayang, makan sarapanmu dulu!" Teriak Dita yang hanya di acuhkan oleh putrinya berangkat dengan terburu-buru.


"Aku akan sarapan di sekolah Ibu," balas Lea yang menoleh sebentar.


"Lupakan saja, bahkan di ujian akhir bisa-bisanya dia terlambat," sahut Naina yang menggelengkan kepalanya.


"Aku ingin mengabari kepada kalian, jika Anna dan El akan kembali sore ini. Mereka sangat bahagia saat mendengar jika Al akan menjadi seorang Ayah," ucap Nathan sembari menyuapi mulutnya dengan roti selai.


"Benarkah? tapi kenapa dia hanya menghubungi mu saja, aku ini juga ibunya!" tukas Dita dengan raut wajah yang sedih.


"Sebenarnya ini surprise, tetapi karena aku ingin menyambut kepulangan mereka, itu sebabnya aku mengatakan kepada kalian."

__ADS_1


"Mereka sudah bersusah payah untuk merencanakan ini, tetapi kalian malah merusak kepercayaan dari mereka. Ayah macam apa diri mu?" sahut Bara yang membuat Nathan menantap sang adik ipar dengan jengah.


"Berbicara dengan mu tidak akan menemukan solusi apapun," ujar Nathan yang pergi meninggalkan meja makan.


****


Lea yang berusaha untuk sampai tepat waktu, tapi pintu gerbang sudah tertutup rapat. Dia mempunyai ide untuk melewati jalan rahasia yang menjadi alternatif nya untuk sampai, dia melihat situasi yang sekiranya aman. Lea berjalan keluar dengan cara mengendap-endap, hingga dia berhasil tanpa ada orang yang melihat nya.


"Aman," lirihnya yang berjalan menuju kelas. Dengan sangat penuh percaya diri, meminta izin untuk mengikuti ujian. Dengan sedikit akting dan juga raut wajah yang sangat menyesal, berbanding terbalik dengan perasaan hatinya yang bisa ikut ujian mengunakan kepintaran nya.


Lea memusatkan pikiran hanya satu yaitu mengisi lembar jawaban dari soal-soal yang sangat di keluhkan oleh sebagian siswa. Lea hanya tersenyum tipis dan mulai mengerjakan dan mengisi lembar jawabannya. Kali ini Lea ingin mengalahkan sang juara umum berturut-turut yang bernama Arabella, gadis yang selalu sombong dan selalu menyudutkannya.


"Hah, aku akan mencabut kesombongan mu itu," batin Lea yang mengerjakan ujian dengan sangat cepat dan juga teliti. Tak butuh waktu lama bagi Lea, dia berjalan menuju sang pengawas dan menyerahkan hasil lembaran jawabannya, "ini Pak, saya sudah menjawab semuanya."


"Benarkah? aku tidak yakin jika dia bisa mengerjakan soal dalam waktu 10 menit saja," bisik salah satu siswi.


"Apa aku boleh keluar?" ucap Lea yang hanya mengacuhkan para siswa dan siswi yang membicarakannya.


"Telitilah dengan lembar jawaban mu, periksa lah dan jangan terlalu terburu-buru, apakah jawabanmu sangat tepat atau tidak," ujar sang pengawas.


"Saya sudah yakin Pak," sahut Lea yang melenggang keluar dari kelas tanoa menghiraukan sang pengawas ujian memanggik namanya. Kenzi dan Rayyan yang juga baru keluar ruangan menyelesaikan lembar jawaban dengan sangat cepat. Mereka juga keluar dari kelas dan melihat Lea yang berjalan menuju gerbang Sekolah.


"Lea, tunggu kami!" pekik Kenzi yang berlari, di ikuti oleh Rayyan. Lea berhenti sembari menoleh kebelakang, "ada apa?" tanyanya yang menautkan kedua alis.


"Bagaimana jika kita pulang bersama saja!" ajak Rayyan yang di iyakan oleh Kenzi.


"Tidak buruk." Mereka masuk ke dalam mobil mewah milik Rayyan dan menuju mansion wijaya. Rayyan mengemudikan mobil sportnya dengan santai, menikmati suasana kota. Yah mereka sedikit terjebak macet, suasana membosankan itu membuat Lea hanya pasrah.

__ADS_1


"Aku sangat bosan, kapan mobil ini berjalan?" gerutu Lea.


Kemacetan kota yang berlangsung 15 menit, hingga Rayyan kembali melajukan mobilnya untuk menuju mansion wijaya dan akhirnya mobil berhenti tepat di depan mansion megah itu. Lea terus berjalan dengan raut wajah yang bosan. Tiba-tiba mata Lea kembali bersemangat saat melihat kedatangan kakak nya yang bernama El, dia berlari dan memeluk kakak tampannya itu.


"Kak El, kenapa sangat lama sekali? aku sangat merindukan mu dan juga kak Anna. Tapi dimana oleh-oleh ku?" ucap Lea yang celingukan mencari hadiah.


"Hem, kamu merindukan kakak atau tidak? dasar nakal," El mencubit hidung mancung sang adik dengan gemas.


"Mana hadiahku?"


"Ada di kamar mu, pergilah!" Lea berlari dengan sangat cepat menuju kamarnya. Kenzi dan Rayyan hanya menatap punggung Lea yang menghilang di pandangan mereka.


Mereka saling melepas rindu dengan cara memeluk satu sama lainnya, anggota keluarga Wijaya menjadi lengkap saat El melihat Al berjalan mengarah kepadanya.


"Bagaimana keadaan mu dan juga hasilnya?" bisik Al.


"Aku baik dan hasilnya terbayarkan saat Anna di nyatakan positif hamil yang baru berusia 4 minggu. Aku dengar, Shena juga hamil 5 minggu ya."


"Aku menang, dan kamu kalah star dariku. Aku mendapatkan 3 anak kecebong sekaligus, itu menandakan jika tembakanku berhasil," ucap Al yang membusungkan dadanya dengan senang.


"Ck, hanya kembar 3 saja. Tidak perlu menyombongkam dirimu begitu, aku bahkan lebih dari itu," cetus El yang menatap kakak kembarnya dengan malas.


"Apa? jangan katakan jika anak mu ada 4?" sahut Al dengan wajah yang sangat serius.


"Dua anak lebih baik, aku mendapatkan dua anak kembar." Penuturan dari El membuat Al geram dan memukul kepala El dengan keras, "dasar bodoh, aku sudah sangat serius tapi apa ini?"


"Yang penting sombong terlebih dahulu," jawab El dengan santai.

__ADS_1


"Itu bagus, karena kami akan mendapatkan lima cucu sekaligus," sela Nathan yang tertawa di ikuti oleh semua orang.


__ADS_2