
Wanita itu sedikit kesal dengan penuturan Zean, "baiklah, perkenalkan nama saya Raya," ucap Raya yang mengulurkan tangannya. Sementara Zean kembali memasang haedset dan hanya mengacuhkan Raya, "hem, ikut denganku."
"Ck, sombong sekali pria ini," batin Raya yang terpaksa mengikuti Zean dan menatap Zean dengan sinis.
Zean membawa Raya ke mansion miliknya, dan memberikan tugas pertama untuk Raya dan juga beberapa peraturan yang telah di buat oleh sang majikan.
"Mulailah bekerja mulai hari ini, dan ada beberapa peraturan yang tidak boleh di langgar. Pertama, jangan mencampuri urusan ku. Kedua, jangan memasuki ruang kerja ku. Dan terakhir, jangan ada kesalahan dalam pekerjaanmu, usahakan beres tanpa ada celah sedikitpun," cetus Zean yang pergi meninggalkan Raya yang sedang Menyumpahinya.
"Tuan, katakan dulu siapa nama mu," pekik Raya yang sedikit penasaran dengan nama majikan barunya.
"Zean," sahut Zean singkat, padat, dan jelas.
Raya tidak mempedulikan semua itu, karena dia tertarik dengan dekorasi modern di mansion yang sangat mewah. Raya baru pertama kali menginjakkan kakinya di mansion itu, tatapan kagumnya membuat Raya hampir melupakan tugasnya.
"Wow, sasaran empuk. Dasar pria bodoh, membawa orang asing yang sepertiku masuk ke dalam istana ini. Barang-barang yang di ruangan ini terlihat mahal, jika aku menjualnya pasti mendapatkan keuntungan," batin Raya yang tersenyum smirk.
Dengan cepat Raya menyembunyikan guci kecil yang sangat langka dengan harga yang fantastik, "hehe...aku anggap ini sebagai gajiku yang bekerja keras, aku rasa dia tidak mengetahuinya," gumam Raya yang kembali melakukan tugasnya. Seseorang mengawasi pergerakan Raya yang terlihat di CCTV, "dasar gadis pencuri yang bodoh, dia tidak tau jika di setiap sudut mansion telah di pasang CCTV," ucap Zean yang tersenyum smirk.
Raya sangat kelelahan setelah membersihkan seluruh mansion itu, hingga dua memutuskan untuk beristirahat sambil meminum minuman dingin. Di saat Raya ingin meneguk minuman nya, dia terkejut saat minuman nya di buang oleh Zaen.
"Hei, kenapa kamu membuangnya. Itu pemborosan, masih ada setengah yang belum aku teguk," protes Raya yang menatap Zean dengan kesal.
"Kembalikan barangku yang telah kamu curi," cetus Zean dengan raut wajah yang datar.
"A-Apa yang kamu maksud? aku tidak mengambil apapun," kilah Raya yang berkeringat.
"Aku tau, kamu menyembunyikannya di dalam kacamata kuda di antara bukit kembar milikmu," jawab Zean yang menatap sembarang arah. Sedangkan Raya menutupi asetnya dengan kedua tangan.
"Aku tidak mencuri apa pun," kilah Raya. Zean mendecih, mendekati Raya berniat untuk menggeledah.
__ADS_1
"Dasar pria mesum," teriak Raya yang memukul kepala Zean dengan sapu, membuat sang empunya merintih kesakitan.
"Auuuh, dasar wanita kurang aja. Larilah sepuasmu!" pekik Zean yang mengejar Raya.
****
Sepulang sekolah, twins L memikirkan untuk berguru dengan Zean yang ahli dalam membuat racun yang mematikan.
"Aku sangat ingin membuat racun, setelah pelajaran ilmu sains dari guru tadi, ucap Al yang melirik El. Sedangkan Abian tidak tertarik dan lebih memilih membuat program yang baru yang telah dia ciptakan sendiri.
"Hubungi Ayah dulu, jika kita pergi ke mansion Paman Zean," usul El yang menatap Al.
"Sepertinya kamu sangat sibuk, apa kamu ikut bersama kami atau pulang ke mansion?" tutur Al yang menghentikan kegiatannya dan menatap twins L secara bergantian.
"Aku tidak tertarik dengan racun, kalian pergi saja. Aku ingin membuat programku dan beberapa virus baru perusak data," jawab Abian.
"Hem, baik."
Setelah perdebatan dari Nathan yang tidak memperbolehkan mereka belajar racun, tak membuat twins L menyerah. Mereka terus saja memohon di sertai merengek yang akhirnya membuat Nathan luluh.
Dengan cepat twins L menuju mansion Zean dengan sangat mudah, mereka berteriak memanggil Zean. Karena tidak ada sahutan dari pemilik mansion, membuat twins L yang penasaran dengan mansion Zean memilih untuk berkeliling.
"Apa Paman Zean tidak ada di mansion?" tanya El yang melirik Al.
"Mana aku tau, mansion ini sangat unik. Aku sangat penasaran dengan isi setiap ruangan ini," celetuk El yang berbinar. Tak lama terdengar suara perut dari keduanya, "perutku sangat lapar, ayo kita cari makanan di dapur. Kita memerlukan tenaga untuk berkeliling," ujar Al yang menarik tangan El menuju meja makan.
Mansion milik Zean dan milik mereka sangat jauh berbeda, di sini pelayannya tidak sebanyaknya milik keluarga Wijaya. Bau harum dari masakan membuat mereka menghampiri asal bau harum dari makanan itu, perut mereka seakan meronta minta di isi. Twins L hampir meneteskan air aiurnya saat melihat hidangan di atas meja makan.
"Suatu kebetulan yang pas, ayo kita makan dan anggap rumah sendiri," celetuk El yang mengisi piringnya dan di ikuti oleh Al.
__ADS_1
Zean yang baru membersihkan dirinya, menuju meja makan untuk mengisi perutnya yang kelaparan, begitupun dengan Raya yang juga merasakan hal yang sama. Betapa terkejutnya Zean saat mendapati kedua bocah yang makan dengan sangat lahab . Hingga makanan di atas meja makan tersisa sedikit, Zean mendecih dan berjalan mendekati twins L yang sibuk dengan makanan di atas piringnya.
"Ehem, kenapa kalian di sini? jangan katakan jika kalian tersesat ke mansion ku," ucap Zean membuat Al dan El mendongakkan kepala menatap Zean dengan wajah tanpa dosa.
"Ayo makan Paman, ini sangat lezat! kami bahkan menambah beberapa kali, ayo duduk dan anggap rumah sendiri," tutur El membuat Zean mengepalkan kedua tangannya.
"Ck, Nathan dan kedua anaknya selalu saja menyusahkan aku," batin Zean.
"Eh, siapa kalian?" celetuk Raya yang baru saja datang.
"Dia hanya...." ucap Zean yang di potong cepat oleh Al, "kami keponakannya Paman Zean, dan nona siapa?" Al menautkan kedua alisnya.
"Aku hanya pelayan baru," jawab Raya yang melirik Zean dengan sinis, twins L saling menatap satu sama lain dan tersenyum.
"Perkenalkan, nama saya Al dan ini adik saya El."
"Hai, aku Raya. Kalian bisa memanggilku dengan kakak Aya," sahut Raya yang tersenyum.
"Duduklah kak, ayo kita makan bersama. Anggap lah ini rumahmu sendiri, " tutur El yang menarik tangan Raya dan duduk di sampingnya. Sementara Zean berusaha berdeham, untuk mengingatkan twins L akan keberadaan dirinya.
"Siapa yang mengajari mu begitu? ini mansion milikku, bukan milik Wijaya," ketus Zean.
"Tentu saja Ayah kami yang mengajarkannya," Jawab El dengan santai sembari menyuapi mulutnya dengan makanan di atas piring. Sementara Raya hanya tersenyum bahagia saat melihat raut wajah Zean yang seakan kesal.
"Katakan kenapa kalian ada di sini?" ucap Zean yang menatap twins L dengan dalam.
"Ah iya, kami hampir saja lupa. Kami berniat untuk berguru dengan Paman yang ahli dengan racun," jawab Al tanpa menoleh.
"Nathan sialan, kenapa dia bisa mempunyai anak yang seperti dua kutu ini," batin Zean.
__ADS_1