Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 130 ~ S2


__ADS_3

Setelah perdebatan panjang, akhirnya Lea memutuskan untuk pergi bersama kedua pria tampan itu dengan menaiki mobil, wajah cemberutnya bertahan hingga sampai ke sekolah.


"Belajar yang rajin ya," ucap Abian yang mengelus pucuk kepala Lea dengan lembut seraya menyunggingkan senyuman di wajahnya. Lucifer yang duduk di belakang dengan cepat menyentil tangan Abian dengan sangat keras, "aku masih di sini," ketus Lucifer.


"Lalu?" sahut Abian dengan pongah.


"Jangan sok memberikan perhatian dengan Lea ku," ujar Lucifer yang menatap Abian dengan sengit.


"Kenapa kamu marah? dia bukan milik siapa pun, jadi sah-sah saja jika aku memberikan perhatianku," jawab Abian sengit.


Lea yang sangat jengah dengan perdebatan itu memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka, berjalan menuju ruang kelas nya yang sebentar lagi bel masuk berbunyi tanda memulai pelajaran.


Hari ini pelajaran Kimia membuat semua murid berusaha mendengarkan penjelasan dari Bu guru, tidak dengan Lea yang menguap beberapa kali. Lea mendengarkan pelajaran itu sebagai dongeng pengantar tidur. Beruntung Lea memilih duduk di bagian belakang di pojok kanan, hingga dia bisa tidur tanpa ketahuan dari sang guru.


Di kelas tidak ada prestasi yang bisa di banggakan olehnya, karena sifat malas membuat nilainya pas-pasan. Mata yang mengabur dan sedikit menundukkan kepala, berada di pertengahan alam nyata dan alam mimpi. Hingga seseorang melemparkan spidol tepat mengenai kepalanya, kesadaran yang hanya tinggal setengah membuat Lea reflek melakukan gerakan yang tak terduga, semua murid di kelas itu menertawakan aksinya yang heroik.


"Lea W, sudah Ibu bilang untuk tidak tidur di pelajaran ini," ucap Intan, guru kimia yang terkenal akan ketegasannya.


"Hehe....maaf Bu," sahut Lea yang menggaruk telinganya.


"Sebagai hukumannya, kamu berlari mengelilingi lapangan sebangak 5 kali," titah Bu Intan.


"Oh ya tuhan, aku lupa membawa Sunblock," gumam Lea.


"Cepat lakukan atau Ibu akan menambahkan hukumanmu," ancam Bu Intan, Lea dengan cepat berlari menuju lapangan dan memulai hukumannya.

__ADS_1


Karena kecantikan yang menurun dari Dita, membuat Lea sangat beruntung. Bagaimana tidak? hampir semua pria yang pernah di goda olehnya menemani Lea berlari. Ada yang memberikan pelindung kepala untuk Lea agar terhindar dari sengatan matahari, ada yang memberikan minuman dingin, dan masih banyak hal lainnya yang membuat para siswi sangat iri.


Lucifer mengepalkan tangannya sengan erat, memukul pintu dengan keras karena geram melihat banyak pria yang mendekati Lea. "Kenapa rival ku sangat banyak! aku harus menyingkirkan para pria jelek itu," batin Lucifer.


Tepukkan di bahu Lucifer membuatnya terkejut, dia menoleh berniat memukul pelakunya yang dengan cepat mencekal tangannya. "Kenapa kamu sangat marah?" tutur orang itu yang tak lain adalah Kenzi.


"Apa sepupumu itu primadona di sekolah ini? bahkan banyak pria yang mendekatinya," geram Lucifer yang menatap Lea yang tersenyum manis dengan para pria yang menemani nya.


"Itu hal yang biasa baginya, lupakan itu." Kenzi meninggalkan tempat itu menuju kantin sekolah, sedangkan Lucifer sangat marah hingga altar jahatnya kembali muncul. Altar jahatnya yang bernama Max tertawa menyeringai, menatap para pria yang mengerubungi Lea.


****


Shena yang sangat bosan berada di kamarnya, dia mencoba untuk mengusir kebosanan itu untuk mengelilkngi mansion Wijaya. Langkah kakinya terhenti saat melihat ruangan yang membuatnya tertarik, berjalan mendekati ruangan yang tidak di kunci memudahkannya untuk masuk menerobos.


"Beraninya kamu masuk ke kamarku," ucap Al yang baru keluar dari kamar mandi, dengan mengenakan handuk putih yang melingkar di pinggang, dada bidang dengan perut sixpack yang melemahkan iman, terekspos jelas di mata Shena.


Nathan meminta Al untuk tidak datang ke kantor selama 2 minggu, karena dia tidak ingin jika El menjadi pemalas yang hanya keluyuran. Awalnya Al menolak karena terbiasa dengan pekerjaan kantor sebagai rutinitas hariannya, tapi Al mencoba untuk memahami maksud dari Nathan.


"Kenapa kamu ada di kamarku?" tanya Al yang ke dua kalinya. Shena terdiam dan tidak mengedipkan matanya sebab tidak melewatkan pemandangan indah di hadapannya. Al yang tidak menyukai mengulangi pertanyaan, membuat dia kesal dan menyeret Shena dengan kasar.


"Auuh, kamu kasar sekali," ketus Shena yang memegang pergelangan tangannya yang sakit.


"Itu akibatnya jika kamu memasuki kamarku tanpa ijin."


"Bukan salahku untuk masuk ke kamarmu, pintunya terbuka dan aku tidak tau jika kamar itu milik pria tua yang sangat galak. Aku sarankan agar memperbanyak senyum di wajahmu," sahut Shena dengan santai.

__ADS_1


"Berani sekali kamu berbicara seperti itu kepadaku," ucap Al. Shena menelan saliva sengan susah payah, menatap Al yang seakan ingin mencabik-cabik dirinya. Dengan kekuatan penuh, Shena berlari dengan sangat cepat menghindari singa jantan yang siap menerkamnya.


"Larilah sampai kamu lelah," gumam Al yang menyeringai.


Shena menghentikan langkah nya untuk berlari, menatap situasi yang menurutnya aman. Menoleh ke belakang tanpa melihat ke depan hingga di bertubrukan dengan seseorang.


"Mau lari kemana kamu, gadis kecil." Shena sangat kalut karena yang di tabrak adalah dada bidang Al yang menghalanginya.


Al berjalan semakin dekat, Shena yang terpojokkan sangat ketakutan. Di sela-sela ketakutannya, terlintas ucapan dari Daniel, "Nak, jika ada pria yang berbuat macam-macam denganmu, tendang atau sikut bagian utamanya."


"Kenapa? tidak bisa lari?" ujar Al yang tersenyum meremehkan.


"Bagian utama," sahut Shena yang tersenyum.


"Bagian utama?" ucap Al yang mengerutkan keningnya. Dengan gerakan cepat, Shena menyikut bagian vital mengenai junior Al dengan sangat keras.


"Aaargh, berani sekali kamu melakukan ini padaku," ucap Al yang meninggikan suaranya sembari memegang junior yang terasa sangat ngilu. Al berusaha mengejar Shena dengan sisa tenaga yang ada, Shena terus saja tertawa saat melihat jalan Al yang seperti sedang bersunat.


"Hei pria tua, bagaimana rasanya? pasti sangat ngilu," ledek Shena yang menjulurkan lidahnya mengejek Al.


"Sial, aku di kerjai oleh gadis kecil itu. Heh, lihat saja nanti! aku akan membalasmu," batin Al yang menyeringai.


Shena sampai di kamarnya dan mengunci pintu, mengatur nafas yang tersenggal akibat berlari dengan sangat cepat. "Untung saja aku mengingat perkataan Daddy, itu sangat berguna di saat genting seperti tadi. Pria tua itu sangat galak, aku harus menghindarinya jika ingin selamat dari si kera yang sangat garang itu, " gumam Shena.


Al terpaksa berbaring di atas tempat tidur, rasa ngilu yang dia rasakan masih menjalar. Menatap ke langit-langit kamar tidurnya sembari memikirkan cara untuk membalas perbuatan Shena, "selama ini tidak ada yang berani mengerjaiku seperti ini, seorang gadis kecil yang sangat menjengkelkan," batin nya.

__ADS_1


__ADS_2