Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 61


__ADS_3

Akhirnya kepanikan yang berada di mansion Wijaya telah teratasi dengan baik, dokter sudah memberikan obat untuk pereda gatal dan menghilangkan bekas bintik merah pada kulit Novi, hanya butuh 3 hari dalam masa pemulihan. Novi merutuki nasib sialnya, seharusnya yang mengalami ini adalah Dita. Mencoba untuk berpikir dengan keras, kenapa dia bisa salah memberikan gelas itu. Twins L hanya duduk diam, seakan-akan dia tidak mengetahui kejadian yang baru saja terjadi.


"Ya sudah, Mama istirahat aja ya, " ucap Wijaya yang memegang pergelangan tangan sang istri. Novi hanya mengangguk dan tidur di kasurnya yang empuk, dia tidak perlu di rawat ke rumah sakit.


"Tidur yang nyenyak Ma, " ujar Dita yang memegang tangan mertuanya, dengan cepat Novi menghempaskan tangan Dita dengan kasar. Semua orang melihat dengan jelas bagaimana Novi memperlakukan Dita, Nathan ingin memberi petuahnya tapi dengan cepat di cekal Dita dan menggelengkan kepala nya dengan pelan. Nathan menghela dengan kasar sembari menuju kamarnya yang di susul oleh Nathan.


Nathan menghampiri Dita dan memeluknya dari belakang, "maafkan kesalahan Mama yang berbuat tidak adil padamu, Sayang."


"Aku tidak memasukkan kata-kata Mama dan tidak memiliki dendam apa pun. "


"Selain cantik, kamu memiliki hati yang sangat mulia, " puji Nathan yang di tanggapi Dita dengan senyuman khas miliknya.


"Jangan memujiku. "


"Kita perlu membicarakan ini, " decit Nathan yang membalikkan posisi Dita dan mereka saling menatap mesra.


"Bicaralah."


"Aku tidak bisa menganggap hal ini dengan sepele. "


Nathan dan Dita membicarakan mengenai masalah ini dengan sangat serius, di mana perbuatan Zean tidak bisa di tolerir lagi. Apalagi menyangkut nyawa kedua putranya, dan Dita juga berharap tidak bertemu dengan Zean.


"Bagaimana ini, Sayang. Aku sangat takut jika dia kembali lagi, " lirih Dita yang menatap suaminya dengan nanar.


"Ssttt.... tenanglah, percayakan ini dengan ku. Ada satu hal yang belum kamu ketahui mengenai ku, " jujur Nathan yang menatap dalam wajah cantik milik Dita.


"Apa itu? "


"Sebenarnya aku adalah mantan Mafia, kekuatanku dan Zean hampir seimbang. Aku mengenalnya sudah sangat lama, dia akan mengacaukan keluarga kita. Sepertinya di terobsesi dengan mu, terpaksa aku kembali mengaktifkan seluruh anggota Mafia dan kembali dengan identitas lama, " jelas Nathan.


Dita membekap mulutnya seakan tidak percaya dengan semua itu, "Apakah itu di perlukan? " ucapnya dengan cemas.

__ADS_1


"Aku tidak punya pilihan lain, dia sangatlah licik. Mengaktifkan seluruh anggota Mafia untuk membantuku melawannya. Dan mulai sekarang, jika bepergian keluar dari mansion ini harus di dampingi para bodyguard."


"Tapi, aku tidak ingin jika kamu kembali ke dunia gelap itu, " seloroh Dita yang sangat mencemaskan suaminya. Tanpa mereka sadari, dua pasang mata dari tadi memperhatikan obrolan mereka dengan sangat jelas dari balik pintu.


"Kami ikut dalam misi ini, " ucap Al dengan sangat antusias.


"Sejak kapan kalian berada di sana? " tanya Nathan yang menatap ke asal suara.


"Entahlah, mungkin 10 menit yang lalu. " El mengangkat kedua bahunya dengan santai sambil berjalan masuk ke dalam kamar.


"Lain kali tidak boleh mendengarkan pembicaraan orang dewasa, itu sangat tidak sopan, " tutur Nathan.


"Yayaya, beri tau kami rencana mu Ayah, " sahut Al.


"Tidak, misi ini sangat berbahaya. Zean bukanlah tandingan kalian, " ucap Nathan yang menatap dalam mata Al.


"Setidaknya kami bisa melumpuhkan beberapa bawahannya, " sambung El yang sangat yakin.


"Ayolah Ayah, ajak kami juga. Ini pasti sangat menyenangkan," bujuk El dengan jurus andalannya yang di ikuti Al, mereka menatap Nathan dengan puppy eyes yang mrmbuat mereka tampak menggemaskan.


"Oh tuhan.... tatapan itu merupakan kelemahanku, mereka sangat menggemaskan," batinnya.


Nathan mengangguk membuat twins L senang dan mendapat pelototan mata dari Dita, "Sayang, kenapa kamu melibatkan anak kita? mereka hanyalah anak-anak, " cetus Dita.


"Aku tak tega dengan ekspresi mereka yang menggemaskan itu. "


"Baiklah, malam ini kamu tidur di luar, " titah Dita yang membuat Nathan terkejut, sementara twins L bahagia dengan kesialan Ayahnya.


"Kenapa nasibku sial jika twins L datang. Maafkan aku junior ku, akibat dua anak kecebong itu membuatmu harus menahan diri untuk membuat kecebong yang baru, " batin Nathan yang menatap lurus.


"Ini penyebabnya kalian berdua, dasar nakal. Dan sebagai hukumannya, Ayah akan mengungsi ke dalam kamar kalian, " kata Nathan tanpa bantahan.

__ADS_1


Al dan El saling melirik dengan raut wajah menolak ucapan Nathan, "Kami menolak, carilah kamar yang kosong lainnya, " tolak Al.


"Itu sebagai hukuman kalian. Jangan membantah dan jangan mengeluh. " Twins L sangat tidak suka dengan Nathan yang tidur di dekat mereka, Itu sama saja mengganggu privasi mereka.


****


Naina terlihat sangat cantik dan mempesona, membuat pria di hadapannya menyukai kekasihnya itu. Kali ini mereka memilih restoran yang tidak terlalu mewah tapi sangat cocok di lidah dan yang pasti sangat enak dan higienis.


"Aku beruntung memiliki wanita cantik sepertimu," ucap pria itu sambil memegang tangan Naina dengan sangat lembut.


"Dan aku lebih beruntung lagi, memiliki kekasih yang sangat tampan dan juga populer di kampus, " balas Naina yang tak kalah manisnya. Mereka makan dengan anggun dan juga elegan, sesekali saling menyuapi satu sama lain. Pria itu bernama justin, pemain basket dan juga most wanted di kampus dan menjadi target Naina yang berikutnya. Mereka baru saja resmi menjadi sepasang kekasih, moment romantis masih terasa hingga sekarang.


Ternyata keromantisan mereka pupus karena ada orang lain yang menganggu mereka. "Honey, kamu di sini? aku menunggu mu dari tadi, " ucap pria itu yang mencium pucuk kepala Naina.


"Siapa dia?" ketus Justin yang meminta penjelasan, Naina yang kaget mendongakkan kepala. Dia melihat dengan jelas pria yang baru saja mengecup pucuk kepalanya.


"Jangan dihiraukan, dia hanya pria asing," sahut Naina dengan santai.


"Perkenalkan, saya adalah Bara. Calon tunangan wanita yang sedang kamu kencani ini, " sapa Bara membuat Naina tersedak makanan, dan dengan cepat Bara memberi Naina gelas yang berisi air minum.


"Hei, jangan asal bicara, " ketus Naina.


"Jelaskan ini semua, Naina, " ucap Justin yang meninggikan suara.


"Dia berbohong, aku tidak memiliki calon tunangan, " bela Naina yang terpojokkan.


"Honey, kenapa kamu tidak mengakuiku? bukan kah kita saling mencintai? aku tidak pernah melarangmu untuk mengencani pria lain, setidaknya akui aku sebagai calon tunangan mu, " kata Bara yang berakting sedih.


"APA? sepertinya kita tidak bisa bersama, Naina. Mulai hari ini kita putus, urusi calon tunangan mu itu, " ujar Justin yang mengalah, meninggalkan restoran itu.


Sementara Bara tertawa terbahak-bahak, "bagaimana aktingku?"

__ADS_1


"Kurang ajar, kami baru saja jadian. Kamu membuat aku kesal, " pekik Naina yang pergi dari tempat itu dan tak lupa Bara juga mengikuti nya.


__ADS_2