
Di pagi hari, seorang wanita cantik masih terlelap dengan tidurnya. Walaupun alarm berbunyi, tetap saja tidak membangunkannya. Hingga seseorang masuk dengan tumpukan baju yang ada di tangannya dan melemparkan semua baju itu mengenai wajah wanita yang tengah terlelap.
"Bagun, cepat cuci bajuku," ketus Zean yang menatap Raya.
"Eum, sebentar lagi ya," sahut Raya dengan suara serak khas bangun tidur sembari menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Zean tak habis pikir dengan wanita itu, dia memegang kaki Raya dan menyeretnya dan terjatuh dari tempat tidur, membuat sang empunya bangun di sertai rintihan.
"Sialan, apa tidak ada cara lain membangunkan wanita secantikku?" cetus Raya yang memegangi pantatnya.
"Heh, hanya itu satu-satunya cara yang aku pikirkan. Jangan salahkan aku karena kamu tidur layaknya orang mati," ucap Zean.
"Katakan ada apa?"
"Cepat cuci semua baju itu, aku ingin memakainya," titah Zean.
"Aku mengantuk, nanti sore saja aku mencucinya. Aku juga tidak yakin jika kamu akan memakai semua pakaian itu, ambil salah satu yang akan kamu kenakan."
"Di sini aku majikannya, jangan mengatur ku. Cepat lakukan sesuai permintaanku, cuci semua bajuku. Dan jangan lupa, untuk membersihkan mansion ini, aku tidak ingin ada debu," ujar Zean yang meninggalkan tempat itu dengan senyuman tipis.
Raya mencuci pakaian dan memasukkan ke dalam mesin cuci. Sesaat dia baru sadar, "eh, bukankah ini pakaian aku cuci kemarin?" ucap Raya melihat semua pakaian itu dengan seksama sembari mengepalkan kedua tangannya dan menghentakkan kaki.
"Sialan, dia mengerjai aku," gerutu Raya dan menyelesaikan pekerjaan mencucinya. Dia berjalan dengan menghentakkan kaki dan menghampiri Zean yang sedang membaca koran.
"Aku ingin protes kepadamu! pakaian yang kamu berikan itu, aku sudah mencucinya kemaren. Apa kamu sengaja melakukan ini kepadaku?" protes Raya sembari menolak pinggang.
"Hem, itu benar!" sahut Zean dengan santai tanpa menoleh. Raya yang geram itu pun mendekati Zean berniat memukul Zean menggunakan kedua tangannya, Zean melempar koran di tangannya sembari memegang kedua tangan Raya. Mata mereka saling bertemu beberapa detik, membuat keduanya terbuai.
Raya kembali menormalkan keadaan dengan menepuk pipi Zean dengan keras, "lepaskan aku," ketus Raya.
"Coba saja jika kamu bisa," tantang Zean. Raya yang terus memberontak, tak sengaja memegang sesuatu yang tidak seharusnya dia sentuh. Membesarkan kedua matanya sembari berteriak, dan segera menjauhi Zean.
"Sial, kenapa juniorku beraksi," umpat Zean di dalam hati.
"Aaaagh....tidak! tangan ku ternodai dengan ganggang sapu milikmu," pekik Raya yang mengipas-ngipasi tangannya.
__ADS_1
"Sangat berlebihan, juniorku tidak sekecil yang kamu katakan. Ayo kita buktikan, bagaimana reaksi juniorku saat mengamuk," cetus Zean membuat Raya lari terbirit-birit. Sedangkan Zean berlari menuju kamar mandi, menyelesaikan hal yang harus di selesaikan.
****
"Bagaimana hasilnya?" tanya Daniel penuh harap. Nurma memasang wajah sedih dan menggelengkan kepala dengan pelan, membuat Daniel memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku yang terlalu mengharapkan nya."
"Apa kamu kecewa dengan hasilnya?" ujar Nurma yang mendongakkan kepala menatap suaminya.
"Aku sangat berharap memiliki anak, tapi aku tidak akan memaksamu dengan harapan ku itu. Masih ada di lain waktu," sahut Daniel yang mencium kening Nurma dengan perlahan. Nurma melepaskan pelukan itu dan memperlihatkan sebuah testpack bergaris dua, membuat Daniel terkejut dan sangat bahagia.
Daniel sangat senang dengan dua garis yang menandakan jika Nurma sedang hamil, memeluk istrinya dan mencium wajah Nurma bertubi-tubi, "hentikan ini, aku sangat geli."
"Aku sangat bahagia dengan ini, dan aku berterima kasih kepadamu," tutur Daniel yang meneteskan air mata.
"Eh, kamu menangis?"
"Bagaimana jika aku bosan?" rengek Nurma.
"Telfon saja aku, dengan cepat aku akan menghilangkan kebosanan mu," jawab Daniel.
"Apa itu tidak akan menganggu pekerjaan mu nantinya?"
"Tidak, mereka akan mengerti. Jika kamu menginginkan sesuatu apa pun itu, jangan sungkan untuk mengatakannya langsung kepadaku," ucap Daniel yang menatap mata Nurma dengan Dalam.
"Baiklah." Mereka saling memeluk, karena kebahagiaan terbesar mereka akan segera hadir di antara Daniel dan Nurma.
****
Nathan membawa keluarga kecilnya untuk berlibur ke sebuah Villa yang dekat dengan pantai, wajah yang tersenyum dari istri dan juga anak-anaknya membuat Nathan bahagia. "Apa kalian menyukainya?" tutur Nathan yang menoleh ke arah twins L.
"Pertanyaan apa itu? tentu saja kami sangat menyukainya, ayo kita bermain di bibir pantai," jawab El yang menarik tangan Al dan juga Nathan. Sementara Dita tertawa bahagia melihat ketiga pria tampan yang bermain kejar-kejaran. Sedangkan dia lebih memilih duduk di kursi santai yang tak jauh darinya sambil menggendong Lea yang juga tertawa.
__ADS_1
"Ayah," teriak El yang melempar pasir mengenai wajah Nathan.
"Kamu sangat nakal, lihat bagaimana Ayah akan menghukum mu," pekik Nathan yang mengejar El dan Al yang telah berlari.
"Hehe....jangan mengancam! coba saja jika berhasil," ledek Al yang menjulurkan lidahnya dan di ikuti oleh El.
"Jangan main-main, Ayah dengan mudah menangkap kalian berdua," sahut Nathan yang tertawa.
Setelah merasa kelelahan dengan bermain kejar-kejaran, sekarang mereka mencoba wahana Jet Ski. Aktivitas mengendarai perahu yang bentuknya seperti sepeda motor hanya di lakukan di atas permukaan air.
Nathan memasangkan jaket pelampung untuknya dan juga kedua putranya, untuk keselamatan mereka saat bermain wahana itu. Nathan mengemudikan Jet Ski dengan begitu lihainya, "bagaimana? apa kalian menyukainya?" ucap Nathan yang menoleh ke arah belakang.
"Kami sangat menyukainya," sahut El yang di anggukan kepala oleh Al.
"Baiklah, berpeganglah dengan erat. Ayah akan menambah kecepatannya," tutur Nathan.
"Baik," sahut mereka dengan kompak.
1 jam telah berlalu, mereka mengakhiri wahana itu dan menghampiri Dita yang telah menyiapkan makanan. Sementara baby Lea sedang asik memakan biskuit yang ada di tangannya.
"Wah, ini semua makanan kesukaan kami," celetuk El dengan mata yang berbinar.
"Habiskan jika kalian menyukainya," ucap Dita yang tersenyum, sedangkan Nathan menggendong baby Lea.
"Sayang, turunkan Lea. Kalian pasti lapar setelah bermain air," ucap Dita dengan lembut.
"Apa aku tidak boleh menggendong tuan putriku ini?" sahut Nathan.
"Tidak ada yang melarang mu untuk itu, suamiku. Makan dulu, baru kamu boleh menggendongnya."
"Tuan putri, di sini hanya Ayahlah yang sayang dengan mu," ucap Nathan yang tersenyum menatap putrinya.
Al dan El tidak menghiraukan sekelilingnya, mereka lebih tertarik dengan makanan yang ada di atas piringnya.
__ADS_1