
Udara sejuk masih terasa menyentuh kulit. Embun pagi masih menghiasi dedaunan. Sayup-sayup terasa belaian sinar matahari pagi. Semua makhluk hidup mulai membuka mata untuk menyambut hari baru, memulai aktivitas dengan semangat baru bagi semua orang tapi tidak dengan Lea yang berjalan menuruni tangga dengan lesu, Dita tersenyum saat melihat putrinya yang telah bersiap untuk ke sekolah.
"Duduklah di samping Ibu," ujar Dita yang menepuk sofa kosong di sebelahnya, Lea berjalan gontai dan mematuhi perkataan sang Ibu. Nathan menatap putrinya yang tidak biasanya, "ada apa dengan tuan putri Ayah?"
"Bukan apa-apa Ayah," jawab Lea dengan tidak bersemangat.
"Jangan berbohong kepada Ayahmu ini."
"Aku hanya kesal dengan kak Al."
"Maafkan saja kakak mu, dia ingin yang terbaik untuk adiknya," ucap Dita.
"Dia membakar semua kerja kerasku yang telah aku kumpulkan selama bertahun-tahun dan aku tidak akan memaafkan," cetus Lea yang pergi meninggalkan kedua orang tuanya tanpa menghiraukan panggilan dari mereka.
"Dasar tidak sopan," tutur Nathan yang jengkel dengan putrinya.
"Tenanglah! dia itu putrimu," ucap Dita yang menenangkan suaminya.
"Hah, kamu benar."
****
Lea pergi ke sekolah dengan mobil yang di kendarai oleh pak supir, karena di sangat tidak bersemangat bersekolah.
"Aku tidak bersemangat untuk melakukan apapun, sudah beberapa hari ini aku tidak melihat wajah pria tampan dengan perut sixpack. Hah, aku harus apa?" gumam Lea.
Lea menghentikan mobil dan turun untuk berjalan kaki yang hanya berjarak 100 meter dari sekolah, dia terus mengumpati kakaknya, hingga tidak sadar menabrak orang.
"Maaf....aku tidak sengaja menabrakmu," ucap Lea yang mendongakkan kepala, melihat seorang yang menatapnya dengan sinis.
"Dasar orang miskin, berani sekali kamu menabrak ku," ketus orang itu. Lea mengepalkan kedua tangannya dan menatap orang itu dengan kesal.
"Apa masalahmu? aku sudah meminta maaf untuk itu," ucap Lea yang geram.
"Berani sekali kamu melawanku," ucap pria itu.
"Kamu belum mengenal siapa kekasih ku ini, dia bisa membuat keluarga mu menjadi gembel," sambung seorang wanita yang bergelayutan manja di lengan sang pria.
__ADS_1
"Hah, membuang waktuku saja." Lea hanya mengacuhkan sepasang kekasih itu dan pergi, tapi tanggannya di cekal.
"Lepaskan tanganku atau aku akan menghajarmu," ujar Lea dengan tegas.
"Hanya orang miskin saja, jangan pernah mengancamku," jawab pria itu tatapan remehnya.
Lea yang kesal memberikan bogeman mentah di wajah sang pria dengan sangat keras dan meninggalkan bekas yang memerah.
"Sialan, berani sekali kamu memukul ku." Pria itu ingin menghajar Lea, yang dengan cepat di cekal.
"Jika kamu menyentuhnya, aku akan mematahkan tanganmu. Apa kamu ingin bermain dengan ini?" tutur penyelamat Lea yang tak lain adalah Abian. Sepasang kekasih itu ketakutan saat melihat Abian yang memegang belati dan memainkannya, hingga mereka lari kocar-kacir meninggalkan Lea dan Abian.
"Kenapa kamu selalu muncul di hadapan ku?"
"Aku harus menjaga calon istriku agar tidak tergores sedikit pun, kamu tenang saja."
"Calon istri apa? aku bahkan belum lulus SMA. Sudahlah, lebih baik aku pergi atau aku bisa terlambat nanti."
Abian menatap kepergian Lea hingga menghilang dari pandangannya, "cepat atau lambat kamu akan menjadi milikku Lea Wijaya," gumam Abian yang tersenyum.
Dia mengeluarkan ponsel yang berada di dalam saku celananya, menghubungi salah satu nomor yang berada di kontak.
"Iya tuan."
"Aku sudah mengirimkan foto sepasang kekasih yang berani menganggu calon istriku, hancurkan kesombongan mereka."
"Baik tuan, akan saya laksanakan."
"Hem." Abian memutuskan sambungan telfon dan pergi dari tempat itu.
****
Seluruh penghuni komplek sangat senang dengan kebaikan dari El, "hatimu sangat dermawan sekali, bagaimana jika aku mengenalkan mu kepada putriku. Putriku itu sangat cantik, dan dia sangat pintar memasak. Jadilah menantuku," tawar salah satu ibu-ibu yang bernama Mina.
"Cantik apanya? putrimu itu panuan, anakku bahkan lebih cantik dari anakmu, " sewot Ibu Titin.
"Haha....anak mu itu kutuan, lebih baik dengan anakku saja. Bagaimana Nak, apa kamu mau dengan anakku?" sela Bu Mura. Sedangkan yang menjadi rebutan hanya pusing melihat para Ibu-ibu itu, dia berusaha untuk untuk melepaskan dirinya.
__ADS_1
"Eit, kamu mau kemana? pilih lah wanita yang kamu inginkan untuk di jadikan istri," ungkap Bu Titin yang memegang pergelangan tangan El.
"Aku sudah mempunyai calon jadi maaf kan aku," tolak El yang ingin melepaskan diri.
"Lebih baik dengan ku saja, walaupun aku sudah janda beranak tiga tetapi aku sanggup untuk menjadi istrimu. Bahkan permainan ranjangku lebih oke," bisik Lili sembari mengedipkan mata ke arah El.
"Hei Lili, pria tampan ini adalah calon menantuku. Jangan mencoba untuk merebutnya, dasar ulat! " ujar Bu Mura.
"Semua adil dalam kompetisi," sahut Lili.
"Sepertinya ada kesalahan pahaman di sini, maafkan aku yang tidak bisa memilih siapa pun karena aku sudah mempunyai calon istri," ucap El.
"Dan dia adalah calon menantuku," ucap seorang pria yang tak lain adalah Bonar. El menoleh, dia tersenyum saat Bonar mulai mengakuinya, "Paman," ucap El dengan mata yang berbinar.
"Ayo datanglah kerumahku," ajak Bonar membuat El bersemangat. Bonar melihat kedermawanan El yang terus menebar kebaikan di komplek itu membuat Bonar mengaguminya, hingga dia mengundang El untuk datang kerumah. Apalagi dia sedikit cemburu saat banyaknya para Ibu-ibu yang memperebutkan pria tampan itu.
"Hehe....ini kesempatan yang bagus untukku, sebentar lagi Anna akan menjadi istri," gumam El di dalam hati.
"Enak sekali para wanita tua itu yang merebut calon menantuku," batin Bonar dengan sombong.
Tak butuh waktu yang lama bagi mereka untuk sampai tujuan, Bonar mempersilakan El duduk dengan hormat. Dia bahkan meminta Anna untuk menghidangkan beberapa makanan dan juga kue kering.
"Paman lihat, kamu selalu membantu warga sekitar ya," ucap Bonar dengan basa basi.
"Yah begitulah Paman, sudah lama aku membantu para warga," sahut El dengan sedikit kebohongan.
"Aku mengagumi mu, banyak orang kaya yang hanya melakukan pencitraan saja. Aku harap kamu tidak melakukan hal yang sama."
"Uhuk!" El terbatuk saat mendengar penuturan Bonar, dengan cepat dia merubah raut wajahnya agar tidak ketahuan oleh Bonar.
"Ini minumlah," ujar Bonar yang memberikan segelas air mineral.
"Terima kasih Paman."
"Aku memikirkan ini dengan keras, bahwa keputusan ku sangatlah bulat. Aku merestuimu untuk menikah dengan putri bungsu ku bernama Anna," tutur Bonar membuat El bersorak gembira seraya memeluk Bonar dengan haru, karena usahanya berjalan dengan sempurna berkat bantuan informasi dari Panji.
"Wah, ternyata aktingku sangat bagus sekali. Akhir dari perjuangan ku terbayarkan dengan mendapatkan Anna," batin El yang tersenyum.
__ADS_1
"Walaupun aku membenci orang kaya, tidak menutup kemungkinan jika aku juga menyukai uang. Ini sangat bagus dan menguntungkan untukku hehe," batin Bonar yang tersenyum.