Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 157 ~ S2


__ADS_3

Shena mengemasi buku-bukunya dan memasukkan ke dalam tasnya dengan rapi, dia melangkahkan kaki nya berjalan menuju kelas Lea karena waktunya pulang.


Tapi dia tidak menemukan keberadaan Lea dan menanyakan kepada teman sekelas adik iparnya yang sedang bermain gitar dan bernyanyi.


"Permisi, apa kalian melihat Lea?" tanya Shena.


"Keadaan Lea sangat tidak sehat jadi dia sudah pulang lebih awal, " sahut pria yang memegang gitar.


"Itu benar," tambah seorang gadis yang duduk di samping pria bermain gitar.


"Eh, kenapa Lea bisa sakit? tadi pagi dia baik-baik saja, " batin Shena.


"Baiklah, terima kasih." Shena pergi dari sana dan keluar dari sekolah. Dia berjalan kaki dengan membawa beberapa buku di tangannya, ingin sekali dia menghubungi Lea tapi ponselnya tertinggal di mansion, Shena berjalan seraya merutuki nasib nya yang sial. Panas terik yang menjalar di seluruh tubuhnya hingga mengeluarkan keringat membuat Shena merasa sangat haus.


"Hah, aku sangat haus sekali. Untung saja aku punya uang receh dan hanya cukup untuk membeli air mineral saja," gumam Shena yang tersenyum saat melihat sebuah mini market.


Selama menikah, Al tidak pernah memberinya uang dan bahkan dia juga tidak memintanya karena ego dan gengsi nya sangat tinggi. Selama ini Shena hanya mengandalkan uang tabungannya untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, dia melangkahkan kakinya menuju mini market.


Shena dengan cepat mengambil sebotol air mineral dan pergi meninggalkan mini market, di sepanjang perjalanan, dia melihat sebuah gerobak siomay dan membuat perutnya berbunyi yang berdemo minta di isi.


"Hah cobaan apa lagi ini? aku sangat lapar," gumam Shena yang memegang perutnya dan menelan salivanya.


Seseorang tersenyum melihat Shena yang malang, dia keluar dari mobinya dan memesan 2 buah porsi dalam paket komplit. "Hei gadis kecil, siapa namamu?" ucapnya.


"Shena, ada apa?"


"Ayo duduklah di sampingku," ucap pria itu yang tak lain adalah Alan yang menepuk kursi di sebelahnya untuk mempersilahkan Shena duduk.


"Di larang berbicara dengan orang asing," ucap Shena yang pergi dan dengan cepat Alan mencekal tangannya.


"Aku sudah menawarkan nya kepadamu, tidak baik menolak rezeki," ucap nya dengan bijak.

__ADS_1


Shena yang lapar hanya mengikuti dengan pasrah, karena dia tidak tahan dengan perut yang kosong. "Ayo makanlah," ucap Alan yang memakan siomay dengan begitu lahap membuat Shena hampir saja meneteskan air liurnya.


"Sepertinya sangat lezat," gumam Shena yang memakan siomay hingga tandas. Bahkan mereka menghabiskan 2 porsi dan membuat Shena sangat bersyukur, setidaknya dia akan sampai di mansion setelah memulihkan tenaga.


"Terima kasih karena sudah mentraktir ku, maaf merepotkanmu," pamit Shena yang ingin pergi. Alan mengikuti Shena dengan berjalan kaki, membuat Shena sedikit ketakutan akan di culik.


"Apa kamu ingin menculikku?" ujar Shena yang menoleh ke belakang, Alan tersenyum geli saat mendengar penuturan dari seorang gadis kecil di hadapannya.


"Untuk apa aku menculikmu?"


"Seperti berita yang disiarkan di televisi," cetus Shena, semakin membuat Alan terkekeh geli.


"Tidak ada untungnya bagiku, apa raut wajah yang tampanku ini bisa di katakan sebagai penculik?"


"Wajah tampan tidak menjamin semua itu, bisa saja kamu menculik dan menjual organ pentingku ke pasar gelap."


"Hahaha....kamu ini sangat lucu ya. Aku sudah kaya, untuk apa aku melakukan itu!"


Shena sangat syok dengan mata terbelalak kaget, karena jika sampai terlambat sedetik saja akan membuatnya berpindah alam dengan sangat cepat. Alan menepuk pipi Shena agar tersadar, "sekarang kamu aman, tenangkan dirimu," ucap Alan.


"Tanganmu terluka, aku akan mengobatinya!" Shena menarik tangan Alan dan membawanya duduk di bawah pohon yang sangat rindang. Untung saja Shena selalu membawa kotak P3k di dalam tasnya, mengobati lengan Alan yang terluka akibat menolongnya. Alan menatap Shena yang sangat telaten dalam mengobatinya.


"Terima kasih telah menyelamatkan nyawaku, sekali lagi aku berhutang budi kepadamu, aku pergi dulu!" pamit Shena yang tersenyum tulus. Alan membalas senyum itu dan pergi menuju mobilnya, "rencana ku berhasil, hanya perlu beberapa langkah lagi dan aku akan mendapatkan apa yang sangat aku inginkan," batin Alan yang tersenyum kemenangan.


Al mengepalkan tangannya dengan sempurna memukul setir mobilnya dengan keras, karena dia memperhatikan Shena yang sedang mengobati pria lain saat dia ingin menjemput sang istri. Dia tidak bisa melihat wajah dari pria itu yang di halangi oleh tubuh Shena, "berani sekali dia berdekatan dengan pria lain dan bahkan tersenyum? dia bahkan tidak pernah tersenyum jika berhadapan denganku," ucap Al yang menarik rambutnya dengan kasar.


Al mengemudikan mobilnya mendekat ke Shena yang terus berjalan, bahkan Al juga membunyikan klakson tapi hanya di abaikan oleh Shena tanpa menoleh sedikitpun.


"Berani sekali dia mengabaikanku," batinnya.


Al turun dari mobil dan menggendong Shena layaknya sekarung beras, dengan paksa untuk masuk ke dalam mobil, Shena terus memberontak memukul punggung Al dengan sekuat tenaganya tapi tidak terasa sakit bagi Al. "Dasar kera, kamu sangat kasar sekali," teriak Shena yang ingin membuka mobil tapi kalah cepat dengan Al yang lebih dulu mengunci pintu mobil.

__ADS_1


"Berani sekali kamu bertemu dengan pria lain di belakangku, aku ini suami mu dan bahkan kamu tidak pernah tersenyum tulus seperti tadi, " ucap Al yang meninggikan suaranya membuat Shena tersentak kaget dan menangis, karena hatinya sangat rentan akan bentakan, makian, ucapan kasar, dan masih banyak lagi yang tidak bisa di jabarkan satu per satu.


Al tidak bisa melihat air mata Shena yang mengakir deras di pipinya karena menangis terisak-isak. Dia memegang pundak Shena dengan lembut tapi dengan cepat di hempaskan dengan kasar oleh Shena.


"Suami? suami mana yang bahkan tidak memberikan nafkah kepada istrinya? selama ini aku hanya bergantung dengan uang tabunganku sendiri. Bahkan pria itu lebih baik darimu, aku hampir saja tertabrak mobil dan untungnya dia menolongku tepat waktu. Jika tidak, aku sudah tiada saat ini, berhentilah sok peduli kepadaku," pekik Shena membuat Al seakan tertampar.


"Dia benar, kenapa aku bisa seceroboh ini? dan bahkan aku lupa memberikannya uang," batin Al.


"Maafkan aku yang tidak mengerti dengan hal itu," ucap Al dengan tulus.


"Aku memafkanmu tapi jangan mendekatiku, aku akan tidur di kamar lain."


"Tapi?" Al yang ingin menyelesaikan masalah terhenti saat Shena mengangkat tangannya.


Di sepanjang perjalanan Shena hanya menatap ke luar jendela mobil, Al sesekali mengajak Shena untuk mengobrol tapi tidak ada tanggapan sama sekali.


Sesampainya di mansion, Shena menaiki tangga dengan terburu-buru masuk ke kamar nya tanpa menghiraukan Dita dan Al yang sedang memanggil. Dita menoleh ke arah Al dengan tatapan menyelidik, "apa yang kamu lakukan kepada menantu Ibu?"


"Ada sedikit kesalahpahaman."


"Kesalahpahaman?" ujar Dita yang menautkan kedua alisnya.


"Hem, selama ini aku tidak pernah memberinya uang dan juga memarahinya saat dia dekat dengan pria lain saat aku menjemputnya," jawab Al.


"Apa? jadi selama ini kamu tidak memberinya nafkah? ya tuhan, kesalahanmu sangat lah fatal. Bagaimana kamu bisa seceroboh itu hah?" ucap Dita dengan geram.


"Maaf Bu."


"Minta maaf kepada istrimu bukan kepada Ibu, cepat bujuk dia."


"Baiklah." Al berjalan menghampiri Shena yang tengah menangis sesegukan.

__ADS_1


__ADS_2