
Berliana berjalan mendekat dan memeluk Lea layaknya teman lama yang baru saja bertemu, dia terus saja memeluk tetangga barunya. Lea hanya dia terpaku dan tidak memberi reaksi apapun, "Sayang, hentikan pelukan itu. Lihatlah wajah suaminya yang memerah karena kepanasan, lebih baik kita masuk karena memang cuacanya sangat panas," ucap James yang merangkul pundak sang istri. Abian yang mendengarkan perkataan dari James berusaha merendam emosi dan rasa kesalnya.
Tanpa malu dan sungkan, James dan Berliana membuka pintu rumah Abian yang kebetulan kuncinya sudah berada di sana saat Abian ingin membuka pintu sebelum kedatangan mereka.
"Ehem," ucap Abian yang berdehem untuk memperingati James dan istrinya.
James menoleh dan tersenyum memperlihatkan giginya yang kuning nan rapi sembari menatap Abian, "ayo masuklah, pintunya sudah di buka."
"Sebenarnya pemilik rumah ini aku atau dia," gumam Abian yang kesal dengan tingkah tetangga barunya.
"Ayo masuk," ajak Lea yang mengenggam lengan Abian.
Mereka masuk ke dalam rumah mewah milik Abian, dekorasi modern klasik menyatu menjadi satu, beberapa dekorasi yang sangat indah membuat Lea, James, dan Berliana sangat kagum.
"Wow, rumah yang sangat indah. Sayang, kenapa kamu sangat pelit denganku," keluh Berliana menggoyangkan tangan suaminya saat melihat beberapa aksesoris rumah yang sangat mewah.
"Sabarlah, nanti akan aku belikan untukmu. Kenapa kalian berdiri saja, ayo duduklah!" ajak James yang duduk sembari mencoba sofa empuk milik Abian.
"Ini rumah ku," ucap Abian dengan dingin sembari menatap tetangga baru yang sangat menyebalkan baginya.
"Ingin sekali aku mengubur mereka hidup-hidup," batin Abian yang sangat jengkel dengan sepasang suami istri yang tidak tau malu.
"Iya aku tau itu. Siapa nama kalian, kami belum mengetahuinya?" tanya James yang menatap Lea dan Abian.
"Aku Lea dan ini adalah suamiku bernama Abian, kami dari Indonesia," ucap Lea yang memperkenalkan diri.
"Benarkah? aku mengira jika kalian kakak dan adik," seru James.
"Tentu saja dia istriku," cetus Abian dengan raut wajahnya yang dingin.
"Aku sangat menyukai indonesia, apalagi masakannya seperti rendang dan juga bakso," tutur Berliana dengan sangat antusias.
"Itu benar, aku sangat lapar saat kamu mengatakannya" sahut Lea dengan cepat.
"Bagaimana jika kita memasak saja," ujar Berliana.
"Itu yang jadi masalahnya karena aku tidak bisa memasak," lirih Lea yang menekuk wajahnya.
"Maaf, aku tidak tau akan hal itu. Bagaimana jika aku mengajarimu memasak?" ucap Berliana.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mencobanya. Maaf merepotkanmu, " jawab Lea yang sedikit sungkan. Mereka berjalan menuju dapur sesuai arahan pelayan sekaligus yang merawat rumah itu semenjak Abian pergi.
"Tenang saja, bukankah kita ini teman? sepertinya kita seumuran, berapa usiamu?"
"Usiaku baru menginjak 19 tahun."
"Benarkah? itu bagus, dan umurku baru 27 tahun. Jangan memandang umur, karena aku masih terlihat sangat muda," ucap Berliana yang penuh percaya diri sembari berpose imut.
Sedangkan James dan Abian menatap istri mereka yang menghilang dari pandangan. "Kenapa kamu menatapku begitu?" tutur Abian yang jengkel dengan pria yang duduk di sampingnya.
"Tidak ada, apa kalian pengantin baru?"
"Kenapa kamu menanyakan itu?" cetus Abian yang menyatukan kedua alisnya.
"Aku mempunyai rahasia, jangan beritahu siapapun."
"Rahasia?"
"Rahasia ranjang," bisik James.
"Aku tidak memerlukannya dan terima kasih."
Tak lama makanan sudah selesai di masak dan di tata dengan rapi di atas meja makan. Berliana hanya bisa mengelus dada dengan kesabaran saat mengajari Lea yang hanya masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Bahkan dapur terlihat berantakan seperti habis terkena angin ****** beliung.
Mereka makan bersama dengan nuasa khidmat, apalagi masakan dari Berliana sangat lezat. Lea menyuapi makanan di atas piringnya ke dalam mulut, "wah....masakanmu sangat lezat," puji nya menatap Berliana yang tersenyum.
"Aku akan mengajarimu nanti, tenang saja itu baru percobaan pertama mu, tidak masalah jika gagal," sahut Berliana yang di anggukan kepala oleh Lea.
****
Al membawa Shena yang ingin menikmati suasana kota saat sore hari. Shena menatap jalanan kota yang sangat ramai akan pengendara, "hentikan mobilnya," ucap Shena yang di patuhi oleh pak supir.
"Ada apa? tanya Al yang menoleh ke arah samping sembari menatap sang istri.
"Paman, mundurkan mobilnya," perintah Shena tanpa menghiraukan Al yang penasaran.
Shena turun dari mobil dan berjalan menuju pedagang gerobak yang tengah berjuan Es serut, Al yang sangat cemas dengan cepat mengikuti istrinya yang sedang melihat Es serut yang terasa menyegarkan dengan cuaca panas.
"Kenapa kamu turun dari mobil, ada apa?" Al menatap Shena dan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Wah....sepertinya Es serut itu sangat menyegarkan," gumam Shena yang hampir saja meneteskan air liurnya.
"Aku ingin itu," rengek Shena yang menunjuk Es serut.
"Tidak boleh makan sembarangan, itu sangat tidak sehat untuk mu yang tengah hamil muda."
"Aku sangat menginginkannya, apa aku perlu mengingatkan perkataan Ibu? tidak boleh menahan selera wanita yang tengah hamil," ucapnya yang cemberut.
"Bagaimana jika kita membeli Es krim saja?" tawar Al yang di balas Shena dengan gelengan kepala.
"Tidak, aku hanya ingin memakan Es serut."
"Kita pulang ke mansion dan meminta para pelayan untuk membuatkannya khusus untukmu, bagaimana?"
"Rasanya akan berbeda, aku hanya ingin memakan Es serut dari gerobak itu. Apa kamu ingin jika ketiga anak kita ileran karena keinginan mereka tidak terpenuni!" cetus Shena yang bertolak pinggang seraya menatap Al dengan tajam.
"Baiklah, aku akan memesannya untukmu." Al menghela nafas dan memesannya, dia melihat bagaimana penjual itu menyerut bongkahan Es.
"Tunggu dulu, apa kamu telah mencuci tangan? bagaimana jika tanganmu terkontaminasi dengan beberapa kuman yang menyebabkan istriku sakit perut setelah mengkonsumsinya. Apa alat yang di atas bongkahan es itu sudah di cuci terlebih dahulu? apakah pewarna di dalam botol kaca ini sangat aman atau tidak," sewot Al yang membuat pedagang Es serut menghentikan kegiatannya menyerut Es.
"Jangan membuat aku kesal dengan pertanyaan bodohmu, Tuan. Dan aku juga tidak memaksamu untuk membeli dagangan ku, jika tidak suka silahkan pergi saja. Dasar orang kaya," protes pedagang Es serut yang menggeplak kain yang bertengger di lehernya dan mengejutkan Al.
"Aku hanya bertanya dengan kualitas usaha mu, kenapa kamu marah-marah."
"Pergi sana, aku tidak akan menjualnya kepadamu."
"Aku juga tidak akan membeli Es serut itu darimu," balas Al.
"Tapi aku menginginkan Es serut itu," keluh Shena yang menghentikan pertikaian Al dan pedagang Es serut.
Al mendengus kesal karena menjilat perkataannya sendiri, "baiklah berikan aku satu porsi."
"Baiklah, untukmu satu porsi satu juta," sahut pedagang Es yang tersenyum licik.
"Apa kamu memerasku? jika aku memborongnya juga tidak akan sampai satu juta," protes Al.
"Yasudah pergilah," usir pedangan Es serut.
Al menatap Shena yang hampir menangis karena sangat menginginkan hal itu dan mengalah dengan cara membeli Es serut seharga 1 juta.
__ADS_1