
Antoni yang di bantu oleh beberapa perawat dan juga asisten nya berusaha melakukan pekerjaannya dengan semaksimal mungkin, mencoba untuk menahan racun itu sebisa mungkin untuk mencapai organ yang sangat penting.
Dita dan Nathan hanya pasrah dan berdoa dengan untuk kesembuhan putrinya, berusaha untuk berpikir optimis.
Abian dengan kecepatan penuh berusaha untuk menghindari kendaraan lain, hampir di setiap detik El melirik jam tangan miliknya. "Sial," gumam Abian yang masih terdengar di telinga El.
"Ada apa?" ujar El yang mengerutkan keningnya.
"Aku tadi melewati jalanan ini dan sekarang di sini juga macet," tutur Abian.
"Apa tidak ada jalur yang lain?"
"Ada, tapi itu akan memakan waktu yang lama."
"Tidak masalah, kita ambil saja jalur itu."
Abian mengangguk dan kembali mengemudikan motornya mengikuti jalur yang sepi dan lebih jauh dari rumah sakit Wijaya, tersisa 30 detik lagi membuat Abian berputus asa.
El melihat sebuah jalan tikus dan menepuk bahu Abian, "ada apa?"
"Biarkan aku yang mengemudikannya, pindah ke belakang," pinta El. Dengan cepat Abian menukar posisinya yang sekarang duduk di belakang, El mengambil jalanan tikus yang dia tau bisa menebus ke rumah sakit Wijaya dengan sangat cepat.
El dan Abian masuk ke dalam rumah sakit dengan berlari sangat cepat, menerobos masuk ke dalam ruangan tempat Lea di tangani oleh dokter. "Ini penawar racunnya Paman," ucap El yang memberikan ramuan penawar itu ke Antoni yang dengan cepat menyuntikkan ke dalam tubuh Lea.
El, Abian, dan Antoni melihat reaksi penawar itu yang mulai bekerja. Warna biru di tubuh Lea perlahan mulai memudar, bahkan Lea mulai sadar. El memeluk Lea dan meneteskan air mata bahagianya, Nathan dan Dita menerobos masuk untuk melihat keadaan Lea yang mulai membaik.
Dita menangis haru dan memeluk Lea, mencium pipi dan juga kening anaknya secara bertubi-tubi. Lea tersenyum, "hentikan ini Ibu," lirih pelannya.
"Dasar anak nakal, kamu membuat Ibu terus saja menangis," ucap Dita yang menghapus air matanya.
"Maaf," sahut Lea yang tersenyum.
"Apa putriku melupakan Ayahnya ini?" celetuk Nathan yang berpura-pura merajuk.
__ADS_1
"Itu tidak mungkin, Ayah adalah cinta pertama ku. Mana mungkin aku melupakan Ayah yang sangat aku sayangi," tutur Lea. Nathan tersenyum dan memeluk putrinya, Abian juga ikut bahagia dengan keadaan Lea yang membaik.
Tak lama kemudian, Al datang dengan jalan yang tergesa-gesa, mengkhawatirkan adik kesayangannya. Dia menerobos masuk ke dalam ruangan dan tersenyum saat melihat kondisi Lea baik-baik saja. Dia menghampiri Lea seraya memeluknya dengan hati-hati, "bagaimana dengan keadaanmu?"
"Seperti yang kakak lihat, aku baik-baik saja. Oh ya, bagaimana dengan Lucifer?" tanya Lea yang celingukan.
"Hatiku merasa sesak mendengar nya," batin Abian yang menatap Lea dengan nanar.
"Ck, jangan mengatakan namanya. Aku sudah memberi pelajaran terhadap anak itu," ketus Al.
"Apa yang kakak lakukan, ini bukan kesalahannya. Melainkan Altar jahatnya yang mengendalikan tubuhnya itu, dimana dia sekarang?" ucap Lea yang menatap kakaknya.
"Jangan menanyakan keadaannya kepadaku, kakak tidak tau dan tidak ingin tau," jawab Al dengan malas.
"Lupakan itu, setidaknya kamu berterima kasih kepada nya," celetuk El yang menarik tubuh Abian.
"Aku berterima kasih kepadamu karena telah menyelamatkan nyawaku," ucap tulus Lea sembari tersenyum sangat manis, Abian seakan melupakan kejadian Lea yang menanyakan keadaan Lucifer dan membalasnya dengan tersenyum.
"Semua ini berkat mu, sekali lagi aku berterima kasih kepadamu."
"Lupakan itu, lekaslah sembuh." Abian yang ingin memeluk Lea, dengan cepat El menghalangi pelukan itu dan membuat Abian memeluk El.
"Aku tau kamu penyelamat adikku, tidak perlu memeluknya," ucap El yang mengeratkan pelukannya hingga Abian terasa sesak.
"Iya baiklah, lepaskan pelukan ini," cetus Abian.
"Tidak masalah," sahut El dengan santai dan melepaskan pelukan mautnya.
Semua orang tertawa dengan Abian yang sangat malang, sedangkan yang tertawakan hanya cengengesan sembari menggaruk tengkuk leher yang tidak gatal.
****
Caroline sangat bosan di mansion, hingga dia memutuskan untuk berkeliling di mansion milik Zean. Caroline tak sengaja melihat pintu yang terbuka, dia masuk ke dalam ruangan itu yang tak lain sebuah kamar. Karena rasa penasaran, dia masuk dan celingukan menatap dekorasi kamar yang elegan dengan nuasa hitam putih.
__ADS_1
Pupil matanya membesar di kala melihat seseorang yang berbaring lemah di atas tempat tidur, Caroline semakin penasaran. Dia mendekati orang itu yang tak lain Lucifer, "malang sekali nasib anak ini," gumam Caroline yang memberanikan dirinya mengusap pucuk kepala Lucifer dengan lembut.
"Badannya sangat panas sekali, dia demam tinggi," batin Caroline yang merasakan suhu tubuh Lucifer yang sangat tinggi.
"Mommy, akhirnya kamu datang. Mom, jangan tinggalkan Lucifer! bawa aku pergi bersamamu," racau Lucifer yang mengigau, sembari memeluk lengan Caroline dengan sangat erat, seakan tidak ingin melepaskan.
Sontak Caroline terkejut mendengar racauan dari Lucifer, dia sangat kasihan dan juga prihatin dengan kondisi Lucifer.
"Sepertinya dia merindukan Mommy nya, tapi di mana Ibu dari anak yang malang ini. Aku baru melihat anaknya sekarang, apa dia anaknya Zean? aku rasa begitu, karena wajahnya sangat mirip dengan pria itu. Jika anakku masih hidup, mungkin dia sudah seumuran dengan anak ini," monolog Caroline.
"Sedang apa kamu di sana?" ucap seseorang yang berdiri di depan pintu, Caroline terkejut dan menoleh ke asal suara.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja masuk kesini."
"Apa yang kamu lakukan di dalam kamar anak ku?" tanya Zean yang membawa segelas air mineral.
"Eh, maaf kan aku. Aku melihatnya sendirian di sini dan aku hanya menemani saja, jadi ini anak mu?"
"Hem, dia anakku."
"Dia demam tinggi, suhu tubuhnya sangatlah panas. Apa kamu sudah memanggil dokter?" ucap Caroline dengan antusias.
"Aku sudah memanggil dokter."
"Itu bagus, anak mu meracau memanggil Mommy. Di mana Ibu nya? aku tidak melihatnya?" ujar Caroline yang menatap Zean dengan serius.
"Istriku telah meninggal dunia, cukup kali ini kamu membahasnya," jawab Zean yang kembali bersedih, membuat Caroline merasa tak enak hati.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuat mu sedih. Sepertinya anak mu merindukan Ibu nya," tutur Caroline.
"Jika sudah selesai, pergilah dari ruangan ini," cetus Zean yang mengusir Caroline dengan halus.
Caroline terpaksa keluar dari kamar Lucifer, di satu sisi dia tidak ingin kehilangan tempat berlindung. Tapi, di sisi yang lainnya dia merasa sangat kasihan dengan Lucifer. Setelah sekian lama menyimpan dendam, Caroline baru merasakan jiwa keibuannya muncul secara alamiah.
__ADS_1