
El sangat kesal dengan mertuanya yang memberikan kain sarung itu, "tidak perlu repot-repot Ayah, simpan saja." El menolak untuk kain sarung yang di berikan sebagai hadiah dari Bonar.
"Terimahlah, anggap itu sebagai berkatku. Kamu bisa mewariskan nya nanti setelah cucuku jika mereka telah dewasa," ucap Bonar.
"Bagaimana berkat mu di berikan kepada Panji saja," usul El.
"Aku memberikan ini khusus untukmu, karena kamu telah memberiku cucu terlebih dahulu. Pakai itu di malam jumat kliwon," tutur Bonar.
"Apa hubungannya?" tanya El yang memiringkan kepalanya menatap ayah mertuanya dengan penasaran.
"Itu akan menghilangkan nasib sial mu, aku dulu juga memakainya," ujar Bonar dengan bangga.
"Tapi kain sarungnya sangatlah bau, bulu hidung sepertinya mengeriting dengan aromanya yang luar biasa." El mengangkat kain sarung itu dan menutupi hidungnya.
"Jangan banyak komentar simpan saja," cetus Bonar yang menatap El dengan tajam.
"Baiklah aku akan menyimpan nya," sahut El yang tersenyum paksa.
"Bagus, aku ingin melihat Anna dulu." El menatap kepergian Bonar yang menghilang dari pandangan, dengan cepat dia menghempaskan kain sarung dengan aroma yang sangat menyengat.
"Ck, aku akan membakarnya nanti. Kain sarung bisa menghilangkan nasib sial? dasar konyol, yang ada kulitku gatal-gatal," gumam El dengan kesal.
****
Setelah mengerjakan soal ujian dengan benar dan juga cepat, Lea segera menuju kantin dan memesan semangkok bakso juga es jeruk.
"Bu, pesan seporsi bakso dan es jeruknya satu," ucap Lea yang menunggu.
"Baik neng," sahut penjaga kantin.
Pesanan Lea telah selesai, dia mencoba untuk mencari kursi kosong untuknya dengan membawa bakso dan segelas es jeruk.
"Untunglah masih ada kursi yang kosong," gumam Lea.
Tapi di saat dia berjalan menuju kursi kosong, tiba-tiba kaki nya di tersenggol hingga Lea yang tanpa persiapan itu terjatuh dan menumpahkan kuah bakso di tangannya.
"Siapa yang menyenggol kaki ku," ucap Lea yang berdiri dan meninggikan suaranya seraya menatap satu persatu siswa dan siswi yang juga menatapnya. Salah satu dari mereka berdiri dengan wajah yang di tekuk karena ketakutan, "m-maaf aku tidak sengaja."
__ADS_1
Lea terus mengipasi tangannya dan menatap gadis itu dengan tajam, "ada apa denganmu? apa kamu sengaja melakukannya?" pekik Lea.
Gadis itu menatap Lea dengan wajah meneteskan air mata, "tidak mungkin aku melakukan hal itu kepadamu, bukan kah aku sudah meminta maaf!" ucap gadis itu yang bernama Arabella, siswi tercantik dan banyak di kagumi oleh para siswa. Arabella juga sangat pintar dalam pelajarannya, tidak ada yang pernah mengalahkannya.
Lea yang tau jika Ara hanya berpura-pura itu pun mencengkram lengannya sembari menatap Ara dengan tajam, "jangan memainkan drama mu di sini, kenapa kamu melakukan hal itu kepadaku?"
"Sungguh Lea, aku tidak melakukan apapun. Bukankah aku sudah mengatakannya kepadamu," bela Ara dengan tatapan sendu dengan raut wajah yang tertindas membuat semua orang berpihak kepadanya.
"Jangan jadi sok jagoan di sini, kamu hanyalah wanita miskin saja. Bukankah Ara sudah meminta maaf kepadamu!" celetuk salah satu siswa, penggemar Ara.
"Terserah padamu saja, kalian hanya membuang waktuku saja." Lea sangat kesal karena semua orang malah menyalahkannya karena telah membentak Ara sang primadona dengan hati yang sangat lembut.
Lea yang ingin pergi dari kantin tercekal oleh Kenzi yang menghampiri nya, "Lea, ada apa dengan tanganmu?" tanya Kenzi yang memegang tangan Lea dengan raut wajah yang khawatir.
"Itu semua salahku, maafkan aku!" sela Ara yang menatap Kenzi dengan air mata yang menetes. Sedangkan Lea hanya menghela nafas dengan kasar dan pergi keluar dari kantin.
"Lea, tunggu!" pekik Kenzi yang mengejarnya tanpa menghiraukan Ara.
"Jangan mengejarku atau aku akan menghajar mu," balas Lea yang badmood.
"Tapi.."
"Baiklah, kabari aku jika kamu sampai," ucap Kenzi yang menatap kepergian Lea.
Lea memilih untuk pulang ke mansion dan menunggu jemputan pak supir setelah dia menelfonnya, sangat lama menunggu hingga Lea kembali menghubungi pak supir.
"Halo."
"Paman di mana? aku sudah menunggumu 30 menit di luar sekolah."
"Maaf Nona, Paman terjebak macet."
"Baiklah."
Lea mematikan sambungan telfon dengan kesal, dia terpaksa memesan taxi online.
"Berani sekali gadis itu menyudutkan aku, seolah-olah akulah yang bersalah. Lihat saja, aku akan mengalahkannya dengan menjadi juara," monolog Lea.
__ADS_1
Tidak ada orang di sana, membuat Lea sedikit waspada, dia yang di sibukkan dengan ponselnya tidak sadar jika ada orang lain yang mengintainya. Dia berjalan meninggal tempat sepi itu, hingga seseorang menabraknya dan menyuntik sesuatu di punggung Lea hingga tidak sadarkan diri. Pria itu tersenyum tipis seraya mengambil ponsel dari saku jaketnya.
"Halo."
"Saya sudah melakukan tugas darimu, bos."
"Bagus, jalankan rencana kedua."
"Baik bos."
Pria itu mematikan sambungan telfon dan kembali meletakkan di saku jaket, dia menggendong Lea dan membawanya menuju mobil.
Seseorang di seberang sana tengah tertawa, "rasakan itu, aku akan membuatmu menderita hingga tidak ingin hidup lagi," ucap orang itu di sela-sela tawanya.
Lea di bawa ke sebuah gubuk kecil di tengah hutan, dengan tangan yang di ikat dengan sangat erat. Dia mengerjapkan mata dan melihat sekelilingnya, hanya gubuk kayu dan 1 tempat tidur.
"Aku ada dimana? siapa yang berani menyekapku?" batin Lea yang bertanya-tanya.
Lea mendengar ada beberapa suara tapak sepatu menuju tempatnya, pintu terbuka membuat Lea melihat seorang pria yang berjalan mendekatinya.
"Akhirnya kamu bangun juga," ucap pria itu dengan dingin.
"Kenapa kamu menyekap ku? aku tidak mengenalmu dan tidak mempunyai masalah dengan mu," jawab Lea yang menatap pria itu dengan tajam.
"Kamu tidak perlu siapa aku, bersiap-siap lah karena sebentar lagi kita akan bersenang-senang," tukas pria dingin itu yang memberikan Lea makanan dan juga minuman.
"Bagaimana aku bisa memakannya, kedua tanganku terikat," ketus Lea, pria itu membukakan ikatan di tangan gadis di hadapan nya. Lea yang sangat kelaparan itu terpaksa memakannya, hingga menghabiskan seluruh makanan tanpa tersisa, pria itu menatap Lea yang tidak merasa takut tetapi hanya santai sembari memakan makanan.
Lea bersendawa dengan sangat keras tanpa malu sedikitpun, pria itu menatap tingkah Lea yang sangat berbeda dari gadis lain yang lebih menjaga image.
"Wanita ini sangat unik dan juga menarik," batin pria itu.
"Apa kamu tidak malu makan sebanyak itu?"
"Kenapa? apa sekarang kamu di rugikan? heh, itu konsekuensi mu saat menculikku. Katakan siapa bos nya?" sahut Lea dengan santai.
"Dasar wanita aneh." Pria itu pergi meninggalkan Lea dengan pintu yang di kunci.
__ADS_1
"Hei pria es, jangan mengunciku di sini. Tempat ini sangat buruk sekali," pekik Lea.
"Nikmati saja harimu dan persiapkan diri mu malam ini," sahut pria itu dari balik pintu. Sedangkan Lea mencari cara untuk bisa keluar, dia juga memikirkan siapa dalang di balik penculikannya. Dia merasa tidak mempunyai musuh sama sekali.