Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 56


__ADS_3

Setelah makan malam selesai mereka kembali melakukan aktivitas masing-masing, Naina menuju ke kamarnya untuk mengenakan masker wajah. Perawatan merupakan bagian penting yang tidak boleh di lewatkan oleh seorang Naina Wijaya. Sementara Bara menunggu Naina dari ruang tamu, dia celingukan saat bermain dengan twins L.


"Dimana gadis itu? kenapa aku tidak melihatnya, " batin Bara.


Naina membawakan jus untuk semua orang, dengan wajah yang di baluti masker, tersenyum dan memperlihatkan deretan gigi putih dan rapi. Bara yang menoleh, seketika terpana dengan senyuman Naina yang sangat cantik.


"Dia terlihat sangat cantik. Eh, apa yang aku pikirkan? aku tidak boleh menyukai gadis gila itu, " batin Bara dengan cepat merubah raut wajahnya.


"Ini Naina buatkan jus untuk semua orang, silahkan di minum, " tutur Naina yang membagikan gelas yang berisikan jus untuk semua orang.


"Tumben kamu membuat jus? biasanya meminta pelayan yang membuatnya, " ledek Novi.


"Iih Mama, sesekali Naina tidak masalah."


"Terserahlah." Semua orang meminum jus buatan Naina, termasuk Bara. Tak lama kemudian, suara yang nyaring itu terdengar dengan jelas. Semua orang menutup hidung, akibat tidak tahan dengan bau kentut yang terdengar seperti petasan.


"Ini sangat bau sekali, " ucap Al yang terganggu dengan suara nyaring itu. El memeriksa semua orang yang tengah berkumpul di ruang tamu, di saat El memeriksa Bara sebagai kandidat terakhir.


"Apa kamu menemukan pelakunya? " tanya Al sambil menutup hidungnya.


"Papa Bara lah pelakunya, dasar tidak sopan, " ucap El kesal dan segera menjauh dari sumbernya.


"Tolong kubur aku, ini sangat memalukan, " batin Bara dengan keringat di dahinya.


"Heheh.... sepertinya ini masalah teknisi, harap di maklumi. Bisa tunjukkan di mana kamar mandinya, ini sangat darurat dengan tingkat kecemasan, " seloroh Bara yang menahan malu sambil memegang perutnya yang mulas. Naina berusaha menahan tawa yang sebentar lagi akan meledak.


"Di sebelah kanan, cepatlah pergi dari sini. Bulu hidungku seperti rontok jika mencium bau itu lagi, " ucap Nathan yang menutup hidung.


Dengan cepat Bara meninggalkan ruang tamu menuju toilet, tapi sebelum meninggalkan ruangan itu. Lagi dan lagi suara nyaring itu merusak pendengaran semua orang. Naina tertawa terbahak-bahak, di ikuti oleh semua orang, "rasakan, mau bermain-main denganku rupanya," batin Naina menyeringai.


Bara menyelesaikan ritualnya, sudah 3 kali dia bolak-balik masuk ke kamar mandi, "perutku tadi tidak apa-apa, tapi setelah meminum jus itu? aku sangat yakin jika Naina yang memberiku jus dengan campuran pencuci perut. Ck, lihatlah pembalasan ku nanti, Naina, " gumam Bara yang geram.


****

__ADS_1


Hari ini Nathan, Dita, dan twins L menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Daniel. Saat masuk ke dalam rumah sakit, membuat semua orang menatap mereka dengan tatapan iri dengan pasangan yang sangat serasi dan di tambah dengan dua anak duplikat dari Nathan.


Mereka menuju ruangan VVIP, Nathan sengaja memindahkan Daniel untuk memberi perlindungan dan di awasi oleh orang suruhannya, dia tidak ingin sahabatnya nya itu mengalami kesulitan. Mereka membuka pintu dan terlihat seorang pria yang sedang memainkan ponselnya.


"Bagaimana dengan keadaan mu, Paman? " ujar Al yang berlari menghampiri Daniel.


"Aku sangat baik. " Daniel mengalihkan perhatiannya dan meletakkan ponsel itu di atas nakas.


"Sepertinya tembakan itu tidak membuatmu mati ya, " ledek Nathan.


"Ck, aku tidak akan mati dengan semudah itu."


"Paman sangat keren, saat melawan para anggota Mafia itu, " celetuk El yang keceplosan. Semua orang menatap El dengan tajam, sementara Dita menatapnya dengan penasaran.


"Mafia? Sayang, bukankah mereka di culik para penjahat biasa?"


"I.... iya itu benar."


Nathan menghela nafas dengan kasar, "Hem, yang di katakan El memang benar. "


"Jangan katakan jika ini ulah Al dan El yang meretas data perusahaan orang lain, " tukas Dita yang bertolak pinggang. Mereka semua mengangguk dengan lemah, membuat Dita membulatkan matanya.


"Mulai sekarang, Al dan El ponsel dan laptop kalian ibu sita. " Nathan yang ingin membuka mulutnya untuk berbicara langsung di sela oleh Dita, "Dan untuk suamiku tersayang, jika kamu memberi ataupun menuruti permintaan mereka yang meminta alat itu. Maka, sebulan penuh kamu tidak di perbolehkan tidur di dalam kamar, " ancam Dita yang menatap tajam suaminya.


Nathan tak habis pikir dengan istrinya yang seperti singa yang siap menerkamnya. Aura di ruangan seakan mencekam, membuat keempat pria itu mengangguk patuh. Dan dengan cepat Dita mengubah suasana hatinya seperti semula, Nathan mengelus dadanya dengan pelan.


"Kapan aku di perbolehkan untuk pulang? disini sangat membosankan, walau fasilitas di kamar ini sangat lengkap. Tetap saja membuatku benci dengan bau obat di rumah sakit, " seloroh Daniel yang memecahkan suasana tegang itu.


"Baiklah, aku akan mengurus segalanya," balas Nathan yang menatap sahabatnya. Kejadian waktu itu, membuat twins L dan Daniel menjadi semakin baik.


****


Semenjak menikah, Dita tidak pernah membawa kedua putranya menemui Lilis, sang malaikat penolongnya. Lilis menyambut kedatangan Dita dan twins L dengan sangat baik, dia mencium pipi Al dan juga El.

__ADS_1


"Kalian melupakan wanita tua ini, " ucap Lilis dengan raut wajah berpura-pura sedih.


"Oh ayolah, Nek. Jangan berakting di saat ini, kami tidak akan melupakan mu, " ucap Al.


"Jangan mengeluh, atau kerutan di wajah Nenek akan bertambah, " tambah El. Sedangkan Lilis terkekeh mendengar ucapan twins L. Dia mengelus pucuk kepala sambil berkata, " Nenek sudah memasakkan makanan kesukaan kalian, ayo makan. Kalian pasti sangat lapar, " ajak Lilis dengan tersenyum khas miliknya.


"Nenek yang terbaik, " sahut El yang mengacungkan jempolnya di hadapan Lilis.


Di meja makan, Al dan El celingukan mencari seseorang, "Papa ada di mana, Nek? "


"Dia ada tugas dari atasannya, lupakan saja. Ayo makan lagi, " Lilis menyodorkan twins L ayam bakar kesukaan mereka.


Selesai makan, twins L berlari menuju kamar Bara. Mereka masuk dan mengecek laptop milik Bara, "walaupun laptop ini di password, tapi tetap saja aku bisa membukanya dengan sangat mudah terbuka, " lirih pelan El.


Di saat El membukanya mereka sangat terkejut dengan daftar yang tersimpan di sana, "Papa tidak pernah berubah, mengencani puluhan wanita." El menggelengkan kepalanya sambil kembali fokus dengan laptop itu.


"Sedang apa kalian? " ucap Pria dari balik pintu.


"Melihat laptop ini, " jawab El dengan polos.


"Dasar tidak sopan. "


"Papa sendiri yang memperbolehkannya. "


"Kapan? Papa tidak pernah mengatakan apa pun. "


"Papa pernah mengatakan, jika barang yang Papa miliki juga milik kami." sela Al.


"Kemarikan laptopku." Bara merampas laptop itu dan memandang twins L dengan kesal.


"Papa tidak berubah, selalu saja mempermainkan perempuan, " seloroh Al.


"Papa melakukannya, hanya memilah mana yang terbaik untuk di jadikan istri. "

__ADS_1


__ADS_2