Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 136~ S2


__ADS_3

Karena kesehatan Lea mulai membaik, Dita berniat untuk menjenguk Lucifer dan ingin mengetahui keadaan nya. Kekhawatiran Dita dapat di rasakan oleh Nathan, dia mendekati istrinya seraya memeluk dari belakang.


"Apa yang kamu khawatir kan?"


"Aku mengkhawatirkan keadaan Lucifer," ucap Dita yang berbalik arah menatap mata suaminya.


"Mengkhawatirkan nya? bukan kah karena anak itu kita hampir kehilangan putri kita," sahut Nathan yang melepaskan pelukan nya.


"Sayang, Lucifer tidak bersalah. Itu perbuatan buruk dari altar jahatnya," ujar Dita.


"Tetap saja dia mencelakai anak kita, jangan terlalu baik kepada anak itu. Bisa saja dia mencelakai anggota keluarga kita," cetus Nathan.


"Jangan berburuk sangka begitu, aku sangat prihatin dengan nasibnya yang kurang kasih sayang. Bahkan sejak dia masih bayi telah kehilangan Ibunya," kata Dita yang mencoba memberi pencerahan agar Nathan setuju untuk menemui Lucifer.


"Hah, baiklah. Tapi aku tidak mengijinkan anak itu tinggal di mansion ini," jawab Nathan pasrah sembari menghela nafas dengan kasar. Dita tersenyum mengangguk mengiyakan ucapan Nathan, mereka bersiap-siap untuk menuju ke mansion milik Zean.


Lea yang sedang menonton televisi sembari memegang toples yang berisi cemilan manis, sesuai dengan suasana hatinya yang manis karena Abian menemaninya. Dia melihat kedua orang tuanya dengan pakaian rapi yang tengah menuruni tangga, " Ayah dan Ibu ingin pergi kemana?" ucap Lea dengan menautkan kedua alisnya.


"Kami ingin melihat keadaan Lucifer," jawab Dita.


"Apa aku boleh ikut?" ujar Lea.


"Tidak boleh," sepa Abian.


"Eh, tidak ada hak mu untuk melarangku," cetus Lea yang menolak pinggang.


Abian menghela nafas dengan kasar menatap Lea dengan dalam, "bagaimana jika dia kembali menyakitimu? aku juga ikut kesana," tutur Abian yang tidak ingin ada bantahan.


"Itu bagus, ayo kita pergi bersama," tukas Dita dengan antusias.

__ADS_1


"Ibu dan Ayah pergilah dulu, kami akan menyusul nanti," tolak Lea yang masih ingin memakan cemilannya.


"Ya sudah kami pergi dulu." Dita dan Nathan meningalkan ruangan itu berjalan menuju mobil yang telah di tersedia. Nathan mengemudikan mobilnya menuju mansion milik Zean, perjalanan yang sedikit membutuhkan waktu karena terjebak kemacetan.


Akhirnya mereka sampai di mansion milik Zean yang di sambut ramah oleh pemiliknya, "aku sangat senang jika kalian datang berkunjung, aku mengira jika kalian marah karena ulah putraku," kata Zean dengan nada yang sedih.


"Heh, karena ulah anakmu membuat putri ku hampir meregang nyawa," sela Nathan yang mendapat reward berupa cubitan cinta dari Dita.


"Apa? kenapa kamu mencubitku? aku berkata benar," ujar Nathan yang menatap istrinya sembari mengelus pinggang yang terkena cubitan.


Dita hanya membalasnya dengan gelengan kepala dengan pelan dan kembali manatap Zean yang merasa tak enak hati, "maafkan suami ku yang berbicara asal, bagaimana keadaan Lucifer?"


"Aku sudah mengenal Nathan lebih dulu dan aku sudah terbiasa dengan cara bicara dan juga sikapnya, tenanglah aku tidak akan tersinggung dengan ucapan yang belum di saring itu," ucap Zean yang tersenyum manis saat menatap Dita, sedangkan Zean tersenyum kecut dan melirik Nathan dengan malas.


Zean mempersilahkan Dita dan Nathan untuk masuk, mereka segera menuju kamar Lucifer. Saat pintu terbuka, betapa terkejutnya Dita dan Nathan yang melihat Caroline, begitupun dengan Caroline yang juga terkejut melihat musuhnya berada tepat di hadapan matanya.


Seakan waktu terhenti, Dita sangat syok melihat Caroline, "kenapa wanita ini ada di sini Zean?" ucap Dita yang menatap Caroline dengan tajam tanpa menoleh.


"Dia adalah wanita yang ingin menghancurkan keluarga kami, dia menjadi buronan saat menculik putriku dengan meminta tebusan dengan sejumlah uang," jelas Dita.


"Aku hanya meminta hak ku, karena kamu telah membunuh suamiku, Darren. Dan aku juga kehilangan calon anakku yang belum lahir di hari yang sama, karena ulah mu yang membunuh suamiku," ucap Caroline yang meninggikan suaranya.


"Aku membunuhnya karena dia menodongkan pistolnya di kepala putraku, aku hanyalah seorang Ibu yang berusaha menyelamatkan anaknya. Apa aku salah?" cetus Dita yang juga meninggikan suaranya.


"Jadi kamu mengenal kedua orang itu?" tanya Caroline yang menatap Zean dengan banyak pertanyaan.


"Mereka sahabatku," sahut Zean dengan santai. Caroline memundurkan kakinya selangkah, berusaha memegang meja yang berada tak jauh darinya.


"Dasar pembunuh," pekik Caroline yang menatap Dita dengan air mata yang mengalir di pipinya.

__ADS_1


"Aku hanya melindungi anakku, apa aku salah?" jawab Dita.


Lucifer, Nathan dan Zean menatap kedua wanita yang bersitenggang itu. Zean melerai nya, "ada kesalahpahaman disini, aku tau bagaimana kejadian nya. Sebenarnya Darren lah yang membuat rencana licik untuk menghancurkan dan menguasai harta Wijaya, dan dalam pertarungan sengit dia membunuh paman Wijaya dan juga bibi Novi," jelas Zean.


"Kalian berbohongkan? mana mungkin suamiku tega melakukan hal itu, dia sangat baik kepada semua orang."


"Jika kamu tidak percaya maka aku akan menunjukkan bukti yang sudah lama aku simpan," ucap Zean yang mengambil laptop miliknya dan memperlihatkan rekaman video saat Darren menyerang dan bahkan rencananya yang sangat licik, Caroline seakan tak percaya dengan hal itu. Zean mendapatkan informasi yang sangat detail, bahkan juga menemukan beberapa foto Darren yang memiliki banyak wanita simpanan.


"Apa? jadi selama ini Darren mengkhianati aku? dia seolah-olah bersikap manis padaku hanya untuk menutupi hubungan gelapnya dengan beberapa wanita?" batin Caroline yang membekap mulutnya, air matanya mengalir dengan sangat deras.


Dita yang melihat semua bukti itu menjadi kasihan dengan nasib Caroline yang sangat malang, dia mencoba untuk mendekati Caroline dan menenangkannya.


"Lupakan yang lalu dan mulailah menata hidupmu menjadi lebih baik lagi," ujar Dita.


"Aku sangat mencintai pria itu dan bahkan membalaskan dendamnya, aku juga kehilangan anakku. Aku sudah terpuruk begitu dalam, rasa sakit hati ku saat di khianati oleh pria itu. Bagaimana cara ku untuk bangkit?" ucap Caroline di sela-sela tangisannya.


"Sekarang kamu tau kebenarannya, apakah kamu masih ingin membalaskan dendam yang tidak beralasan itu?" tutur Zean.


Caroline menangis sejadinya, dia sangat menyesal dengan perbuatan dan dendam yang bersarang di hatinya selama bertahun-tahun. Dia terus menangis hingga perasaannya menjadi sedikit lega, Caroline menatap Dita dengan dalam.


"Jika mungkin, tolong maafkan kesalahan ku," tutur Caroline yang memegang kedua tangan Dita.


"Aku memaafkan mu, apa sekarang kita berteman?" ucap Dita yang tersenyum.


"Apa kamu bersungguh-sungguh? aku bukanlah orang yang baik."


"Aku sangat yakin jika kamu adalah wanita yang baik, hanya saja dendam itu menutupi hatimu."


Caroline memeluk Dita dengan sangat erat, Zean dan Nathan tersenyum saat melihat semuanya dalam keadaan baik-baik saja.

__ADS_1


"Apa kalian melupakan aku?" ucap Lucifer menatap Dita dan juga Caroline.


__ADS_2