Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 174 ~ S2


__ADS_3

Pagi yang sangat indah, silauan dari sinar matahari menembus ke pori-pori kulit melewati jendela yang terbuka, seseorang mengerjapkan matanya saat silauan yang terasa menyengat. Al membuka matanya dengan perlahan, melihat ke sampingnya yang tidak ada siapapun. Mengucek kedua matanya dan menyenderkan punggungnya sembari menatap sekeliling.Tatapan matanya tertuju dengan wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi, menggenakan handuk berwarna pink membuat Al tidak berkedip.


"Dia terlihat sangat seksi," lirih Al yang terpana melihat pemandangan dan vitamin untuknya di pagi hari.


"Kenapa menatapku begitu?" tukas Shena yang menangkap basah tatapan Al.


"Kemarilah ada yang ingin aku bicarakan dengan mu," panggil Al.


"Yasudah bicarakan saja di sana, aku akan mendengarnya," ujar Shena yang mengeringkan rambutnya terlebih dahulu.


"Ikuti saja dan jangan banyak alasan." Shena menghentikan kegiatannya untuk mengeringkan rambut yang masih basah, berjalan mendekati sang suami dengan penasaran.


"Aku sudah mendekat, katakan ada apa?"


"Lebih dekat lagi," ucap Al yang di ikuti oleh Shena dan duduk di atas tempat tidur, berhadapan dekat dengan Al.


"Aku sudah dekat, katakanlah!"


Al tersenyum nakal saat melihat Shena yang hanya mengenakan handuk, membuat sesuatu di bawah sana mengeras. Dengan cepat Al menarik handuk yang menempel di tubuh Shena, hingga terpampang dengan jelas tubuh polos sang istri.


Shena berusaha menutupi bagian sensitif miliknya, Al menepis tangan yang jadi penghalang. Hasrat yang tidak bisa terbendung membuat Al melupakan segalanya, Shena ingin meloloskan dirinya yang berhasil lepas dari dekapan Al.


Dengan cepat Shena mengambil handuk yang lain dan membuka pintu, karena dia sangat yakin jika Al tidak akan bisa mengejarnya. Senyum kemenangan itu berubah menjadi senyuman kecut saat dia melihat kunci yang telah di pegang oleh Al.


"Apa kamu mencari ini?" ucap Al yang tersenyum nakal sembari memainkan kunci.


"Bukankah pintu kamar tidak di kunci, lalu siapa yang menguncinya?" batin Shena yang tampak berpikir.


"Tunggu dulu, bagaimana kunci itu bisa bersama mu?" ujar Shena yang mencurigai Al.


"Jangan menatapku begitu, ayo kemarilah!" jawab Al yang menepuk sisi kirinya di atas tempat tidur.


"Tidak, kita baru melakukannya semalam dan aku juga sudah mandi," tolak Shena yang berusaha membuka pintu.

__ADS_1


Shena yang di sibukkan ingin keluar kamar kaget saat ada tangan yang melingkar di pinggangnya, dia menoleh menatap sang pelaku yang hanya menikmati pelukan yang terasa sangat nyaman itu.


"Kaki mu bisa berdiri dan tanganmu terlihat baik-baik saja, katakan sejak kapan luka mu sembuh?" ucap Shena yang marah dengan Al.


"Seperti yang kamu lihat," jawab Al dengan santai sambil mencium leher jenjang milik sang istri.


"Kenapa kamu membohongiku?" protes Shena yang tidak terima dengan perlakuan Al kepadanya.


"Lupakan itu, aku sudah tidak bisa menahannya lagi," bisik Al sembari menggigit telinga Shena dengan lembut. Dia menggendong tubuh Shena ala bridal style, berjalan menuju tempat tidur, tatapan Al membuat Shena terhipnotis.


sepasang suami istri itu mulai melakukan pergumulan panas setelah melakukan beberapa pemanasan yang di rasa cukup, suara seksi yang keluar dari mulut Shena mambuat Al kian semangat dan melajukan tempo. Hingga keduanya terkapar di atas tempat tidur, setelah beberapa kali mencapai puncak dan *******.


****


Di pagi hari, Shena turun dengan wajah yang berseri. Menyapa beberapa orang yang berada di meja makan, tidak ketinggalan jika Lea dan Vivian juga berada di sana, mereka tak sengaja melihat banyaknya tanda memerah di leher milik Shena.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Vivian dengan raut wajah bingung.


"Tanyakan saja," sahut Shena yang memakan roti.


"Uhuk." Al terbatuk saat mendengar ucapan dari Vivian, dia sedikit malu dengan itu. Dita dan Naina sedang menahan senyum dengan ucapan Vivian.


"Wah, sepertinya kamu harus menangkal nya," ledek El yang menatap Al. Shena yang tau penyebabnya berusaha untuk menutupi dengan rambutnya yang terurai.


"Aku akan ke kantor hari ini," ucap Al yang berusaha mengalihkan perhatiannya.


"Itu bagus! aku sangat senang, ternyata kaki mu bisa berjalan dengan cepat ya?" sindir El.


"Hah iya, bukankah kemarin kamu masih menggunakan kursi roda?" celetuk Naina.


"Karena aku selalu rutin meminum obat dari Jimmy, Nana."


"Wah, hebat sekali Jimmy yang bisa membuatmu berjalan dengan cepat. Kemarin aku melihat Shena selalu membopongmu, ini keajaiban."

__ADS_1


"Sialan, berani sekali El menyudutkan aku. Apa ini? kenapa Ibu dan Nana menatapku bagai seorang penculik?" umpat Al di dalam hati.


"Dasar anak muda, itu salah satu triknya untuk mendapatkan perhatian dari sang wanita," sela Bara.


"Apa? jadi ini hanya kebohongan saja?" sahut Dita yang menatap Bara beberapa detik dan kembali menatap Al dengan tajam.


"Hehe....bukan begitu, kalian bisa menyebutnya keajaiban," jawab Al dengan sedikit gugup, apalagi cara pandangan Nathan yang menatapnya.


"Diamlah, kamu seakan tidak pernah berbuat begitu demi mendekati adikku," seloroh Nathan yang menatap Bara.


"Ck, ada perbedaan dari itu."


"Tidak ada perbedaan dari itu," ucap Al.


"Ya aku tau, jika aku tidak akan menang melawanmu," jawab Bara yang melemparkan buah apel ke arah Nathan.


"Tentu saja, tidak akan ada orang yang bisa mengalahkan ku," sahut Nathan dengan sombong sambil menangkap buah apel dan memakannya.


"Untuk Lea, album foto para pria jelek itu sudah kakak bakar," ucap Al dengan santai membuat Lea mengerjapkan mata karena sangat syok..


"Kakak pasti bercanda kan?" ucap Lea yang seakan tak percaya.


"Tidak."


Lea menghampiri Al dan meminta penjelasan dari sang kakak, "kenapa Kakak membakarnya?"


"Aku tidak akan membakarnya jika kamu tidak membuat ulah."


"Apa yang kakak maksud? aku tidak mengerti?" tanya Lea yang mengerutkan keningnya.


"Kamu kabur dari mansion tanpa sepengetahuan orang lain menuju pantai," ucar Al yang menatap wajah sang adik.


"Aku tidak pernah keluar dari mansion," ujar Lea yang membela dirinya. Al yang geram mengeluarkan ponselnya, melihat semua aksi Lea yang sangat nekat. Dita terkejut dengan keahlian dari putrinya, "jika kamu terjatuh bagaimana hah? apa kamu tidak menyayangi Ibumu?" tutur Dita dengan sedih.

__ADS_1


"Aku tidak akan melakukannya lagi, Ibu jangan lah menangis." Lea kembali menatap Al dengan tajam, "kak Al menyebalkan, aku bersusah payah untuk mengumpulkan foto-foto itu. Tapi kerja kerasku terbuang dengan sia-sia," ketus Lea yang pergi menuju kamarnya. Dia sangat kesal dengan Al yang selalu bertindak dengan sesukanya.


"Bagaimana aku akan hidup? pengemangatku sudah terbakar oleh kakak sialan itu. Hiks....ya tuhan, tolong ambillah nyawaku ini! dan tempatkan aku di antara para pria tampan dengan perut sixpack seperti roti sobek," ucap Lea yang sedih.


__ADS_2