Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 90


__ADS_3

Karena sedikit kesulitan dan menghabiskan banyak waktu bolak-balik, Nathan memutuskan untuk memindahkan Dita dan di rawat di mansion Wijaya, semua orang menyetujui itu.


Sepulang dari urusan kantor, Nathan langsung pulang ke mansion dan melakukan rutinitasnya merawat Dita dan juga baby Lea.


Dia menatap dalam wajah Dita sembari mengelap tubuh lemah itu dan tak lupa mengganti pakaian istrinya, "mau sampai kapan Kamu terus tertidur? ini sudah masuk 3 bulan. Aku membutuhkan mu, dan juga anak-anak kita. Aku cukup kesulitan menjaga Lea, putri kita," ucap Nathan dengan sendu. Nathan sengaja tidak menyediakan jasa babysitter, karena dia tidak mudah percaya dengan orang lain.


Di tengah malam, Nathan terbangun dari tidurnya karena suara tangisan baby Lea yang sangat keras. Sebenarnya, dia sangat lelah menjadi peran Ayah dan Ibu sekaligus. Tapi apa boleh buat, dia tak ingin orang lain menyentuh Lea selain keluarga Wijaya.


Nathan menghampiri tempat tidur bayi Lea yang berada tak jauh darinya. "Kamu pasti sangat haus, Ayah akan membuatkan susu untuk mu dulu," ucap Nathan yang bergegas membuatkan susu formula.


Setelah membuatkan susu formula, baby Lea kembali tidur dan 2 jam kemudian bangun lagi karena haus, sesekali nathan mengganti popok Lea agar tidak infeksi.


Di pagi hari, twins L dan Abian menghampiri kamar Ayahnya. Betapa terkejutnya mereka saat melihat kondisi Nathan, "kenapa dengan mata mu Ayah?" ucap El yang berjalan mendekati Nathan, di ikuti oleh Al dan juga Abian.


"Ayah sangat cocok seperti panda," tambah Al.


"Benar-benar buruk," sambung Abian yang menggelengkan kepala.


"Diamlah, karena Ayah meronda 1 kali 24 jam," jawab Nathan dengan bangga.


"Wah, kamu cukup hebat menjadi seorang Ayah yang sangat handal," ledek Bara yang tiba-tiba datang ke kamar Nathan.


"Heh, ini namanya cinta. Kamu tidak akan paham dengan itu," cetus Nathan.


"Aku kasihan dengan mu, mengurus segalanya sendiri. Bagaimana jika kita memberikan baby Lea seorang babysitter?" usul Bara yang membuat bantal besar melayang mengenai wajah tampan milik Bara.


"Sudah aku bilang, bayiku tidak sembarang orang yang boleh memegangnya."


"Oh ayolah, jangan memaksakan diri mu. Kamu tidak akan bisa melakukannya sendiri," ucap Bara yang menatap Nathan.


"Masih ada dirimu dan juga Naina."


"Aku?" ucap spontan Bara yang menunjuk dirinya sendiri.


"Tentu saja, setidaknya jadi lah seseorang yang berguna," cetus Nathan.

__ADS_1


Sementara twins L dan Abian tak menghiraukan perdebatan para pria dewasa itu, mereka lebih memilih untuk melihat baby Lea. Perdebatan terhenti saat baby Lea menangis, Nathan dan Bara segera menghampiri baby Lea dan menenangkannya. Kedua pria itu sangat kebingungan dengan tangisan baby Lea, Nathan sudah memberikan susu tapi di tolak oleh baby Lea.


Hingga Bara memainkan benda berbunyi untuk menenangkan bayi itu, tetap saja tidak berhenti menangis. Karena kehabisan cara, Bara menari membuat baby Lea berhenti menangis. Sedangkan twins L, Abian, dan Nathan menatap Bara dengan penuh arti.


"Bagitulah cara menenangkan bayi," tutur Bara dengan tersenyum bangga.


"Dapat," cetus El yang sedari tadi merekam aksi nyeleneh Bara.


"Eh, apa yang kamu lakukan?" ucap Bara yang menoleh ke arah asal suara.


"Tentu saja merekam tarian robot yang baru saja Papa lakukan," sahut El dengan santai.


"Tarian robot? Papa baru saja melakukan dance yang sering di lihat oleh Naina," ujar Bara yang menautkan kedua alisnya.


"Ck, tarian yang sangat jelek. Itu tarian atau sedang sakit tulang?" celetuk Nathan yang mencemooh Bara.


"Sesekali lihatlah dance negeri ginseng itu, kamu akan tau nanti. Dasar kurang update," balas Bara yang mencibir.


"Kami pernah melihat nya, tapi tidak ada yang menari seperti Papa Bara. Malah terlihat seperti robot yang kaku," sela El.


"Ck, tarian sakit tulangmu tidak akan bekerja," tutur Nathan. Bara akhirnya menghentikan tariannya dan menatap Nathan dengan pongah, "bagaimana kamu mengetahuinya?"


Nathan tersenyum tipis yang tidak di Sadari oleh orang lain, "mendekatlah, akan aku katakan kepadamu," ucap Nathan.


Sesuai perkataan Nathan, Bara berjalan mendekatinya Nathan. Dengan cepat Nathan mendekatkan pantat bayinya ke hidung Bara, "Nathan sialan, cepat gantilah popoknya. Aku merasa sangat mual akibat ulahmu," Ketus dari Bara yang menjauh, sedangkan ke empat pria itu tertawa terbahak-bahak.


"Ternyata baby Lea sedang pup, tarian yang Papa lakukan tadi tidaklah mujarab," ledek Abian. Sementara Bara hanya acuh tak acuh, yang lebih mmementingkan kepercayaan dirinya.


****


Daniel sedikit iri dengan temannya yang sudah menikah, hingga dia memutuskan untuk melamar Nurma. Persiapan yang sangat sempurna serta rencana yang berjalan dengan mulus, Daniel tersenyum menatap penampilannya yang sangat tampan lewat cermin di hadapannya.


"Penampilan dan rencana sudah di lakukan dengan baik, sekarang aku akan menelfon Nurma," gumam Daniel yang bermonolog. Dia mengambil benda pipih berlogo apel di gigit dan mencari nomor kontak Nurma.


"Sayang, kamu di mana?"

__ADS_1


"Aku masih di butik, ada apa?"


"Ini sudah malam, aku ingin membawamu ke suatu tempat."


"Kemana?"


"Ini kejutan, tinggalkan saja butik itu dan lanjutkan besok pagi saja."


"Aku harus bagaimana? ini permintaan tuan Nathan, dan aku tidak bisa menolaknya."


"Aku mohon, Ayolah!"


"Baiklah."


Daniel memutuskan sambungan telfon, dia menatap kotak kecil yang berisi cincin berlian yang sangat mewah dan elegan, "semoga kamu menerimaku," gumam Daniel yang mencium cincin itu.


Dia menjemput Nurma yang sudah bersiap, mereka menuju sebuah Cafe mewah yang telah di booking oleh Daniel sebelumnya, dekorasi yang menciptakan suasana menjadi romantis. Daniel tak henti-hentinya menatap wajah Nurma yang sangat cantik dengan penampilan yang berkelas. Pakaian yang di berikan oleh Daniel, sangat pas dan juga cocok di pakai Nurma.


"Kenapa kamu melihatku begitu?"


"Kamu sangat cantik hari ini."


"Benarkah? katakan kenapa kamu membawaku di tempat romantis ini?" ucap Nurma yang menatap Daniel dengan dalam.


Daniel mengeluarkan sebuah kotak kecil dan membukanya, "aku sangat yakin dengan keputusanku, maukah kamu menikah dengan ku?" ucap Daniel yang sedikit berjongkok. Nurma terkejut dan membekap mulut menggunakan tangannya.


"A-Aku belum siap untuk menikah," penuturan Nurma membuat Daniel sedikit lemas akan di tolak.


"Kenapa? katakan alasannya?" jawabnya.


"Maafkan aku, tapi aku tidak bisa menikah denganmu."


"Apa kamu mempunyai laki-laki lain, selain aku?" ucap Daniel yang kecewa dengan penolakan Nurma.


"Karena ada alasan lain yang membuatku tidak ingin menikah," tolak Nurma yang pergi dari Cafe itu membuat Daniel sangat kecewa.

__ADS_1


__ADS_2