Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 98


__ADS_3

Semua orang sangat bahagia, karena sebentar lagi akan ada anggota baru yang akan lahir. Semua orang berkumpul di mansion Wijaya, mereka saling bercengkrama.


Bara sangat kesal dengan ibunya yang meminta terus berlatih, "hentikan ini, aku sudah berlatih 10 kali dalam pagi ini Bu," keluh Bara.


"Kenapa? kamu harus berlatih menjadi suami yang cekatan. Lihatlah perut istrimu yang sudah membesar, hanya menghitung hari Naina akan segera melahirkan anakmu," ucap Lilis yang melihat Bara berlatih sambil memakan cemilan di dalam toples.


"Ibu, aku tau Naina akan segera melahirkan. Bukan kah selama seminggu ini aku berlatih dengan keras? setidaknya beri kelonggaran waktu untukku," jawab Bara.


"Itu ide yang buruk, tetap lanjutkan latihanmu." Lilis memberi latihan kepada Bara menjadi suami cekatan saat detik-detik Naina mengalami kontraksi.


Semua orang berkumpul, menikmati waktu senggang bersama. Hingga latihan Bara terhenti saat Naina merasakan kontraksi, "honey, perutku mulas," bisik NainaNaina yang memegang perutnya.


"Eh, apa kamu akan melahirkan?" jawab Bara yang cemas.


"Perutku sekarang sudah tidak mulas lagi, ayo kita selesaikan latihan ini dan bergabung dengan mereka," ucap Naina yang kembali normal.


"Baiklah."


"Auu....perutku kembali sakit," ujar Naina yang memegang perutnya.


"Ini belum tanggalnya kan? masih ada seminggu lagi," seloroh Bara yang tampak panik.


"Eh, perutku sudah tidak sakit lagi."


"Apa itu kontraksi?"


"Ku rasa begitu." Naina memegang perutnya yang mulas dengan teratur, membuat Naina berteriak kesakitan. Bara yang cemas menuntun istrinya dan berteriak memanggil semua orang, "Ibu, Papa, Mama, semuanya tolong aku. Seperti nya Naina akan melahirkan."


Suasana yang damai itu berubah kisruh setelah mendengar teriakan Bara, mereka dengan cepat menghampiri Naina dan Bara, Sedangkan Nathan menelfon dokter.


"Aaaargh....sakittt," pekik Naina yang membuat Bara melupakan latihannya, karena khawatir dan juga cemas yang berlebihan.

__ADS_1


Semua orang menjadi panik, mereka membawa Naina menuju rumah sakit Wijaya. Saat ini, Bara seperti orang bodoh yang terus saja mondar-mandir. Hingga Lilis menyentil kepalanya dengan geram, "jangan seperti setrika, pergi dan temani istrimu di ruang bersalin. Dia sangat membutuhkan kehadiran mu di sampingnya."


"Baik Bu." Bara masuk ke dalam ruangan bersalin, Naina tersenyum saat melihat Bara menemaninya. Dia mengecup pipi dan membisikkan Naina agar kuat dalam perjuangannya melahirkan seorang anak.


Keringat yang sebesar biji jagung membasahi tubuh Naina, hingga dorongan untuk mengejan membuat Naina kesakitan.


"Dorong terus, ayo keluarkan semua tenagamu," ucap dokter yang menangani Naina. Dia sangat kesakitan, melampiaskan dengan lengan Bara dan menggigitnya dengan sangat kuat. Tak sampai di situ, Naina menjambak rambut, dan mencakar tubuh Bara, suara teriakan Naina di iringi oleh Bara. Semua orang yang tampak khawatir menjadi bingung, apa yang terjadi di dalam sana.


Hingga tak lama, terdengar suara bayi yang sangat keras, semua orang bersyukur dengan kedatangan anggota baru. Twins L dan Abian sangat senang dengan kedatangan adik barunya, "Ibu, apa itu suara adik?" ucap Al dengan berbinar.


"Benar, sekarang kalian akan mempunyai adik lagi," jawab Dita sembari menggendong baby Lea.


Novi dan Lilis saling memeluk haru, karena mereka telah menjadi Nenek. "Selama jeng, kita akan jadi Nenek," ucap Novi yang tersenyum.


"Selamat untukmu juga," sahut Lilis yang menangis haru. Dia sangat senang bisa mempunyai seorang cucu, karena impiannya telah terpenuhi.


Pintu terbuka membuat semua orang mengalihkan perhatiannya, Bara keluar dengan wajah yang sangat berantakan, semua orang menatap bingung dengan kondisi Bara yang sangat memprihatinkan. "Kondisi mu sangat memprihatinkan, ada apa dengan mu?" ucap Daniel.


"Naina dan anakku dalam keadaan sehat, anak kami berjenis kelamin laki-laki Bu," tutur Bara yang menangis terharu.


"Selamat untuk mu karena menjadi orang tua, dan apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Nathan yang memeluk Bara sembari menepuk punggungnya selama beberapa detik.


"Mau bagaimana lagi, Naina menyiksa ku!" jawab Bara dengan menyedihkan.


"Jangar pikirkan itu, pikirkan anak dan juga istrimu."


"Apa kami boleh masuk untuk melihat adik?" celetuk El yang sangat antusias.


"Kalian boleh masuk, tapi jangan nakal."


"Baiklah." Mereka masuk dan melihat bayi Naina dan Bara. Twins L dan Abian tersenyum bahagia, "siapa nama adik kecambah kami Pa?" tutur El yang menatap Bara.

__ADS_1


"Kami sudah menyiapkannya dari awal, namanya adalah KENZI." Bara melirik Naina dan menatap putra yang baru lahir itu.


"Wah, nama yang sangat bagus," celetuk Wijaya yang memeluk Bara.


****


Setelah 3 hari di rumah sakit, Naina dan anaknya di bawa ke mansion. Itu permintaan dari Novi yang tidak ingin jauh dengan anak dan juga cucunya yang baru lahir, Lilis hanya pasrah menunggu Naina setelah dua minggu di mansion milik Wijaya.


"Aku akan sabar menanti cucuku untuk datang ke rumah, aku ingin sekali hari itu tiba dengan cepat," batin Lilis.


Mereka semua merayakan kebahagian dengan suka cita, "akhirnya aku mempunyai adik lagi," sorak Al.


"Aku tidak sabar bermain dengan mereka," sambung Abian. Suasana suka cita itu rusak akibat seseorang yang datang dengan memaksa masuk ke dalam mansion Wijaya.


"Kalian sangat bahagia dengan ini, aku ucapkan selamat," ucap orang itu yang bertepuk tangan membuat semua orang menyorotnya.


"Berani sekali kamu memasuki mansion ini," jawab Nathan yang mengeraskan rahang dan gigi yang di gertakkan.


"Aku ingin mengambil hak ku," cetus pria itu yang menatap Abian yang telah bersembunyi di belakang Dita.


"Apa maksudmu?" ujar Bara yang menatap tajam.


"Aku ingin mengambil putra ku Abian, karena aku sudah mengambil hak asuh sebagai Daddy nya. Kalian tidak bisa menghalangi ku, kalian hanyalah orang asing," kata orang itu yang tak lain adalah Farel.


"TIDAK, aku lebih menyukai tinggal di sini. Mommy dan Daddy telah mengkhianati aku," tegas Abian.


"Kamu dengar sendiri? Abian tidak akan pergi kemana pun," cetus Nathan. Dita mendekati Nathan dan memegang lengan suaminya, "lakukan sesuatu! Abian itu putra kita, jangan ada yang membawanya keluar dari mansion ini," rengek Dita yang menangis.


"Kalian tidak bisa menghentikan aku untuk membawa putraku pergi dari sini, karena aku orang tua kandungnya," ucap Farel yang meninggikan suaranya.


Twins L dan Abian saling memeluk, mereka tidak ingin jika Abian di bawa pergi. Dita terus saja menangis dan meminta agar Nathan bertindak, tapi saat ini Nathan tidak berdaya. Walau dia berkuasa sekalipun, tetap saja Abian akan mengikuti Ayahnya yang berhak atas putra kandungnya.

__ADS_1


__ADS_2