Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 123 ~ S2


__ADS_3

Al selalu membayangkan wajah Cantika, dia tersenyum memikirkan saat tangannya di obati oleh Cantika. Al menatap tangannya yang telah di balut dan tersenyum, "perasaan apa ini? Kenapa aku selalu tersenyum saat memikirkan wanita itu?" Monolognya.


Al merenggangkan otot-ototnya sambil menyenderkan punggung nya di kursi kebesarannya, menatap keluar jendela, melihat padatnya kendaraan yang memenuhi jalanan. Hingga suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.


"Masuk," ucap Al. Terlihat dengan jelas, wanita cantik yang tersenyum manis ke arahnya. Siapa lagi jika bukan Cantika yang membawakan kopi kesukaan Al. Kaki jenjangnya berjalan mendekati Al dan menyodorkan secangkir kopi, "ini tuan minumlah."


"Sebelum aku meminumnya, minumlah terlebih dahulu oleh mu," ujar Al yang melirik Cantika dengan sekilas.


"Sungguh Tuan, tidak ada racun di dalam cangkir itu," sahut Cantika yang membela diri.


"Jangan membantah perintahku, cepat lakukan atau kamu akan di pecat," ucap Al yang sedikit mengancam. Dengan cepat Cantika menyeruput kopi untuk memastikan beracun atau tidaknya, tanpa di sadari Al tersenyum sangat tipis.


"Tidak terjadi apa pun, lihat dan perhatikan dengan baik. Bahkan sampai sekarang aku masih hidup," cerocos Cantika yang memutarkan tubuhnya di hadapan Al.


"Sepertinya aman, berikan kopi itu padaku," pinta Al yang mengadah tangannya.


"Ini cangkir bekas, akan aku buatkan yang baru untukmu Tuan," tolah Cantika yang ingin pergi.


"Tunggu dulu, bisa saja kamu mencampurkan racun yang baru ke dalam kopi ku. Setiap hari, aku akan meminta mu untuk menyicipi kopi ku sebelum aku, itu pekerjaan tambahan untukmu."


"Tapi Tuan, itu sama saja kita berciuman tanpa sengaja," sahut Cantika yang protes. Al tersenyum smirk, mendekati Cantika seraya terus berjalan maju. Sedangkan Cantika mundur hingga di halangi oleh dinding.


Al mendekati Cantika dan memblokir jalannya, mendekati wajahnya dan mencium bibir Cantika dengan dengan pelan. Al seakan kecanduan, membuatnya memperdalam ciuman itu, hingga terlepas akibat kadar oksigen yang berkurang.


"Bibirmu sangat manis, membuat aku kecanduan," bisik Al di telinga Cantika.


"Itu ciuman pertama ku Tuan," protes Cantika.

__ADS_1


"Dan itu juga ciuman pertama ku, jadi nikmati saja!" sahut Al dengan santai. Cantika hanya menundukkan kepala dan menyembunyikan pipinya yang bersemu merah seperti udang rebus sembari keluar dari ruangan presdir.


Al menatap kepergian Cantika sambil memegang bibirnya dan mengingat kelakuan nya yang tidak bisa dia kendalikan. Ciuman itu seperti mood booster baginya, hingga dia kembali bersemangat untuk bekerja.


Tak lama kemudian, pekerjaan kantor telah selesai dia kerjakan. Kemudian memantau markas dan juga persenjataan yang dia produksi sendiri, dan melacak pelaku yang memonopoli senjatanya.


Al melonggarkan dasi yang seakan mencekik lehernya, dia mengambil jas dan juga kunci mobilnya. Berjalan dengan langkah yang tergesa-gesa, dan masuk ke dalam mobil nya. Berkendara dengan kecepatan penuh, membuat pengemudi yang lain mengumpati Al.


Akhirnya, Al sampai ke markas dengan raut wajah dingin, tanpa membalas sapaan dari bawahannya. Dia berjalan menuju ruang kerjanya, dengan gerakan cepat, tatapan yang fokus dengan layar laptop miliknya, mengutak-atik benda pipih itu melacak dalang yang membuat kerugian besar kepadanya.


Setelah bekerja keras, Al tersenyum saat data pelaku berhasil dia ketahui dari program baru yang telah dia ciptakan sendiri.


"Akhirnya, aku sudah tidak sabar lagi ingin melihat wajah dari pelakunya," batin Al.


Hingga senyuman itu redup dengan tatapan mata melotot yang seakan tidak percaya, "a-apa ini? tidak mungkin dia pelakunya? apa aku salah dalam menganalisis data?" monolog Al yang mengusap wajahnya dengan kasar.


"Maaf Tuan, saya ingin memberikan kabar. Jika, data perusahaan kita ada yang meretasnya."


"APA? baiklah, keluarlah dari sini. Aku akan memikirkan masalah ini," sahut Al yang memijit pelipisnya, berharap bisa mengurangi rasa pusing di kepala.


Al menggebrak meja karena sangat marah, menatap lurus dengan pikiran yang tertuju dengan dalang dari semua ini, bahkan dia juga memikirkan alasan orang itu melakukan hal ini.


"Aku tidak menyangka pelakunya adalah El, tapi apa alasannya? pertama senjata buatanku di monopoli, dan sekarang data perusahaan juga bocor. Apa alasan El melakukan ini? dia sangat licik, setelah membuat sistem pengaman data dengan mudahnya dia merampas semua itu." gumam Al yang melempar vas kecil kearah dindingdinding dengan sangat keras.


"El adalah pengkhianat, berani sekali dia menusukku dari belakang," geram Al tanpa mencari tau terlebih dahulu dari kebenaran itu.


Al mengambil ponselnya dari saku celana, mencari nomor kontak dan menghubungi El. Namun El tidak mengangkat telfon darinya, membuat Al semakin tersulut emosi.

__ADS_1


"Sial."


****


"Bagaimana pekerjaanmu?"


"Sangat baik, aku menelfon karena ingin memberimu kabar bahagia ini."


"Hah aku sudah tidak sabar untuk mendengarkannya, cepat katakan!"


"Aku ingin memberimu kabar ini, jika perusahaan Nathan yang di kelola oleh Al sekarang ada di ujung kebangkrutan."


"Hahah....itu sangat bagus, apa ada berita lagi?"


"Aku berhasil dengan rencanamu, aku ingin kamu membayarnya."


"Akan aku kirimkan."


Dia mematikan sambungan telfon dan tertawa dengan sangat keras, sembari menatap lukisan besar yang terpajang di dinding. "Bersulang untukmu Sayang," ucap orang itu yang mengangkat gelas kecil yang ada di tangannya dan meneguk isi dari gelas kecil hingga habis seraya menatap lukisan besar.


"kehancuran dari keluarga Nathan dan Dita akan di mulai. Aku bahkan telah mengadu domba Al dan El yang membuat kekuatan mereka melemah. Aku akan membalaskan dendam kita kepada mereka, Sayang!" ucap orang itu yang terus memandangi lukisan pria yang ada di dinding.


Lukisan pria di dinding itu adalah Darren yang telah tewas tertembak oleh Dita saat melindungi nyawa anaknya.


"Aku sangat menderita dengan kepergian mu Darren, kenapa kamu meninggalkan aku sendiri? keluarga itu tak punya hati, hingga aku kehilanganmu dan juga calon anak kita di saat bersamaan. Aku sudah merebut hak mu atas harta warisan dari Wijaya," ucap orang itu di sela-sela tangisannya. Yah, dia adalah Caroline.


Caroline dulunya wanita baik dan mencintai Darren dengan sepenuh hatinya, pernikahan mereka sangatlah harmonis. Tapi kebahagiannya hilang saat mendengar kabar, jika Darren tewas tertembak. Dunia nya seakan terhenti, di saat melihat jasad Darren yang terbujur kaku. Dia berlari menuruni tangga dan tak sengaja terpeleset dan jatuh hingga beberapa anak tangga.

__ADS_1


Caroline sangat sedih dengan nasibnya yang malang, kehilangan suami dan juga anaknya yang belum lahir. Hingga dia bertekat untuk membalaskan dendamnya kepada keluarga Wijaya, terutama Dita.


__ADS_2