
Al dan El sangat senang jika anak-anak mereka meminta maaf untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. El menatap Niko dan Niki yang tengah menundukkan kepala, "apa kalian akan bersikap kurang ajar lagi kepada Daddy?"
Niko dan Niki menggeleng dengan cepat, "tidak, kami janji tidak akan mengerjai Daddy lagi," jawab Niko, putra sulungnya.
"Sungguh Daddy, kami meminta maaf dengan setulus hati," sambung Niki.
"Hem, Daddy pegang kata-kata kalian berdua. Bersiaplah, kita akan ke rumah kakek kalian."
"Apa yang Daddy maksud kakek pitak?" ucap Niki dengan polos, dengan cepat El membekap mulut putranya.
"Sssttt....jangan mengatakan itu dengan keras atau Mommy akan memarahi Daddy," lirih El dengan pelan.
"Ehem, apa yang kamu ajarkan kepada anak ku, heh?" ucap seseorang membuat El menoleh ke asal suara, dia terlonjak kaget dan dengan cepat menutupinya.
"Sayang, sejak kapan kamu berdiri di belakangku?" ucap El yang ingin memeluk Anna. Dengan cepat Anna menepis tangan suaminya dan mencubit pinggang El dengan geram.
"Sejak tadi, dia itu ayahku, ayah mertuamu, dan kakek dari kedua putraku," tekan Anna membuat El meringis, sementara kedua putranya tertawa dengan nasib sang ayah yang tertindas.
"Heheh....maafkan suamimu yang khilaf ini."
"Baiklah, jika sampai aku mendengar pengajaran buruk kepada Niko dan Niki, jangan salahkan aku untuk mengusirmu dari kamar," ancam Anna yang melepaskan tangannya dari pinggang El.
"Baiklah, aku janji."
"Kemana wajah garang Daddy tadi?" bisik Niki kepada saudara kembarnya.
"Apa kamu tidak tau jika Dad takut pada Mom," balas Niko yang masih terdengar di telinga El.
"Diamlah, pergi ke kamar kalian. Bersiaplah, kita akan ke rumah kakek Bonar."
"Baik Dad," sahut mereka serempak.
Setelah mereka bersiap-siap, El mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Mengendarai mobil dengan penuh hati-hati, "bertingkah laku dengan baik jika kita sudah sampai di sana," ucap El tanpa menoleh.
"Baik Dad," jawab Niko yang tersenyum tipis sembari menatap adik kembarnya yang juga menatapnya.
Tak lama mereka sampai di rumah Bonar, sebagai anak yang baik, Niko dan Niki berjalan ke belakang tanpa mendahului kedua orang tuanya. Mereka berlari menuju halaman belakang rumah kakeknya dengan penuh semangat, "Niko, kemarilah dan lihat itu," tunjuk Niki.
"Lalu?" ucap Niko yang memiringkan kepalanya sembari menatap adik kembarnya.
__ADS_1
"Apa kamu tau apa yang aku pikirkan?" ujar Niki yang tersenyum penuh arti.
"Ck, jangan lakukan itu. Bukan kah kita sudah berjanji akan menjadi anak baik?" tukas Niko yang menghela nafas.
"Memangnya kenapa? bukankah janji di buat untuk di ingkari?" sahut Niki.
"Hah, kamu benar. Sepertinya ini sangat menyenangkan," ujar Niko dengan antusias.
Kedua anak itu tengah melakukan pekerjaan mereka tanpa menghiraukan jika kedua orang tuanya mencari mereka.
"Dimana kedua cucu sultan ku?" ucap Bonar yang celingukan mencari keberadaan twins N.
"Benar, bukankah mereka ada di belakang kita," seloroh El yang menatap Anna sepersekian detik dan kembali celingukan.
"Aku juga tidak tau mereka dimana."
"Kalian sangat teledor dan juga ceroboh, bagaimana jika kedua cucu sultanku yang sangat tampan turunan dari ku hilang atau di culik oleh penjahat," praduga Bonar yang membuat El mendengus kesal.
"Itu tidak mungkin terjadi, siapa yang ingin menculik mereka?"
"Cucuku itu sangat tampan dan juga kaya, tentu saja para penjahat mengincar mereka."
"Yah, kamu benar." Mereka mencari keberadaan Niko dan Niki di sudut ruangan, "kalian mencari siapa?" seketika semua orang menoleh ke asal suara yang sangat mereka hafal.
El dan Anna menoleh dengan membelalakkan matanya karena terkejut dengan kondisi anak mereka yang berpenampilan sangat berantakan, ada begitu banyak bulu ayam yang melekat di sekujur tubuh mereka.
"Oh astaga, apa yang kalian lakukan?" ucap Anna yang membekap mulutnya. Bonar sangat terkejut dengan kedua cucunya yang bergelimang dengan bulu ayam, apalagi dia melihat Niko memegang ayam kesayangannya yang hampir botak. Bonar berjalan mendekat ke arah cucunya dan dengan cepat mengambil ayam keramatnya yang di beri nama si jalu.
"Apa yang kalian lakukan dengan ayam kesayangan kakek?"
"Membersihkannya," jawab Niko dengan enteng.
"Lihatlah bulu ayam ini sangat kotor sekali, kami ingin menggantinya dengan cara memberinya baju. Bukankah ini sangat keren?" ucap Niki yang mengelus ayam kesayangan Bonar.
El menelan saliva dengan susah payah sembari menatap mertuanya yang menahan kesal dengan hidung kembang kempis, "mereka hanya anak-anak, Ayah mertua." El menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan berusaha meredam emosi ayah mertuanya.
Bonar menarik nafas dengan dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, setelah di rasa sudah bisa mengontrol emosinya, dia menarik kerah leher El menggunakan kedua tangannya.
"Itu adalah ayam kesayanganku, aku ingin kamu mencari obat penumbuh bulu mujarab untuk si Jalu atau aku akan memakan mu hidup-hidup," ucap Bonar dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan meminta Roger dan Audrey untuk mencari obat penumbuh bulu dalam waktu 24 jam," ucap El yang melepaskan tangan ayah mertuanya yang bertengger di kerah lehernya.
Anna mendekati kedua putranya, "sudah berapa kali Mom katakan untuk bertingkah laku dengan baik," ucapnya seraya bertolak pinggang. Niko dan Niki memperlihatkan jurus andalannya yaitu pupy eyes di ikuti dengan kedipan mata untuk meluluhkan hati sang ibu, benar saja, seketika Anna menjadi luluh.
"Maafkan kami Mom," ucap Niko dan Niki dengan tulus.
"Ck, minta maaf sekarang dan kembali melakukan hal yang sama," cibir El.
"Kami berusaha menjadi anak baik, contohnya sekarang ini. Kami membersihkan ayam kakek dengan sangat cekatan," sahut Niki dengan raut wajah tanpa dosa membuat El menahan kekesalan terhadap kedua putranya.
"Cucuku tidak salah, kalian bisa melakukan apapun kepada si Jalu," ucap Bonar yang tersenyum penuh arti, karena sebentar lagi dia akan di untungkan dengan menantunya yang sangat kaya raya itu.
"Benarkah Kek?" ucap Niko dengan sangat antusias.
"Tentu saja, Kakek tidak pernah berbohong."
"Horee....aku akan mewarnai kuku ayam nya dengan pewarna merah," ucap Niko.
"Dan aku akan mendandaninya dan menjadi ayam model," sambung Niki. Sementara El hanya bisa pasrah dan meringis dengan tingkah kedua putranya, "ck, ternyata ayah mertua sangat licik. Memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan," batin El yang melirik Bonar yang sedang tersenyum.
Tak lama terdengar suara nada dering ponselnya, El dengan cepat mengangkat telfon yang ternyata si penelepon adalah Lea.
"Halo kak!"
"Hem, ada apa menelfonku?"
"Aku ingin mengabarkan, jika aku akan menetap di Indonesia untuk waktu yang cukup lama."
"Benarkah?"
"Hem, dua hari lagi aku akan kesana. Aku sangat tidak sabar bertemu dengan keponakanku yang sangat imut itu."
"Wah, kebetulan sekali. Karena Kenzi juga pulang dari Paris, semoga perjalanan mu lancar."
"Baik kak, aku akan menelfonmu nanti. Sekarang aku sedang mengemasi barang-barangku, jemput aku di bandara."
"Apapun untukmu tuan putri."
El mematikan sambungan telfon dan tersenyum samar karena dia sangat merindukan adik kecilnya itu.
__ADS_1